Arief Yahya: Lima Permasalahan Pariwisata yang Harus Dihadapi

Para staf dan jajaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreati (Kemenparekraf) - KBI II mengantar Mari Elka Pangestu selesai acara Serah Terima Jabatan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif - KBI II kepada Menteri Pariwisata - Kabinet Kerja di Gedung Sapta, Kemenparekraf, Jakarta Pusat, Selasa (28/10/14). Foto. evi

0
4151

JAKARTA, Bisniswisata.co.id:  Suasana Ruang Balairung, Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata pada Selasa pagi (28/10/14) tampak telah ditata tanpa kursi, hanya sebuah meja yang diperuntukkan untuk penandatanganan serah terima jabatan Menteri.

Tepat pukul 09.00 WIB Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabinet Indonesia Bersatu (KBI) II Mari Elka Pangestu dengan mengenakan baju berwarna hijau didampingi Wamenparekraf, Sapta Nirwandar , dan Menteri Pariwisata (Menpar) Kabinet Kerja  Dr Ir Arief Yahya, MSc memasuki ruangan tersebut.

Setelah diiringi lagu Indonesia Raya, penandatanganan serah terima jabatan menteri yang disaksikan para pejabat di lingkungan kementerian, para stakeholder, serta sejumlah pengurus asosiasi di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif, acara dilanjutkan dengan penyerahan buku dari Mari kepada Arief.

“Selamat datang Pak Arief, saya sudah mengenal bapak  cukup lama. Bapak lulusan Teknik Elektro ITB Bandung, staf-staf disini jangan sampai gaptek dengan teknologi,” ujar Sapta Nirwandar saat memberikan kesan dan pesan

pada acara Serah Terima Jabatan Menparekraf KBI II kepada Menteri Pariwisata Kabinet Kerja.

Sapta mengatakan, “Pariwisata pernah mengalami masa sulit saat peristiwa bom Bali dan tsunami Aceh. Kalau gedung bisa dibangun, tetapi image susah”.

Lebih lanjut Sapta mengungkapkan, “13 tahun di pariwisata bukan waktu yang sebentar dengan pergantian tiga menteri, dan juga kepada para tokoh dari yang mulai tidak pakai peci kini pakai peci, serta dari yang rambutnya hitam kini sudah putih”.

“Insya Allah dari hati yang paling dalam tidak ada dendam, karena ini untuk kepentingan bersama. Ada yang menyarankan saya setelah tidak jadi Wamen, yakni  menguruskan badan, tapi saya tidak terima karena saya suka kuliner. Saya tidak mau kurus karena nanti dikira frustasi,” canda Sapta.

Menurutnya pilihan menjadi konsultanlah yang akan dijalaninya nanti. “Saya juga sudah mempersiapkan kado sebuah buku untuk Ibu Mari,” ujar Sapta yang minta izin untuk mencium pipi Mari Elka Pangestu sebagai tanda perpisahan.

Dilanjutkan dengan sambutan kesan dan pesan Mari Elka Pangestu. “Hari ini tepat peringaan Sumpah Pemuda yang juga mewarnai transformasi baru dengan nahkoda yang baru, yakni dengan kehadiran Bapak Arief”.

“Saya kenal bapak, ketika saya pernah meluncurkan produk baru bapak saat kunjungan kerja ke Banyuwangi,” ungkap Mari

Mari Elka mengatakan, “Kini saya ingin menitipkan yang saya bentuk sebagai landasan ekonomi kreatif agar diteruskan. Semoga bapak bisa meneruskan kepada pihak yang berwenang, kita percaya ekonomi kreatif jadi kekuatan baru”.

Menurutnya, bekerja di pariwisata merupakan pekerjaan yang rileks dan menyenangkan, bahagia dan membahagiakan orang lain. Banyak potensi yang membuatnya mencintai pariwisata Indonesia.

Mari mengingatkan hal penting yang perlu dilakukan, yakni meningkatkan kualitas destinasi wisata, termasuk 15 destinasi wisata unggulan yang masuk sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).

“Ke depan jumlah KSPN ini perlu ditingkatkan dari 15 KSPN menjadi 25 KSPN yang sebagian berada di Kawasan Indonesia Timur,” tambahnya.

Ia mengatakan, “Indonesia memiliki asset yang luar biasa mulai dari budaya dan alam. Saya minta maaf kepada seluruh staf dan jajaran di kementerian serta kepada stakeholder. Percayalah saya punya komitmen yang tinggi terutama dalam memajukan pariwisata”.

Dilanjutkan dengan Menteri Pariwisata Arief Yahya, dalam sambutannya mengatakan, “Potensi pariwisata Indonesia sangat besar. Saya akan melakukan terobosan baru dengan marketing baik secara konvensional maupun melalui teknologi digital”.

Arief yang juga alumnus program Master Telematika di Surrey University, Inggris ini mengungkapkan, “Ada lima permasalahan pariwisata yang harus dihadapi, yakni destinasi wisata, infrastruktur, marketing, ekosistem, dan regulasi”.

“Konvesional marketing pasti kita kerjakan, misalnya Thailand lebih banyak iklannya dari pada kita, itu tidak murah. Kita introduce digital marketing. Marketing yang social dan personalize,” tuturnya.

Selesai acara, para staf,  dan jajaran kementerian mengantar Mari Elka Pangestu hingga menuju mobil, serta melambaikan tangah dan mengatakan, “Terimakasih Ibu Mari Elka Pangestu”.  (evi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here