Aprizal Kadai Mak Ciak, Pionir Masakan Padang Sehat.

0
101

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sebuah kios makanan di Akasia Tower, Kalibata City tampak penuh dengan pengunjung.  Beberapa tamu bahkan harus menunggu tempat kosong dan karyawan mondar-mandir mengisi baki-baki makanan yang isinya berkurang dengan cepat.

Disana saya bertemu untuk makan siang dengan Aprizal, pemilik Kadai Mak Ciak yang saat ini sudah memiliki 8 cabang.  Kios di tower ini adalah yang pertama dibuka, di tahun 2015, dimulai dengan modal Rp. 1.300.000,-  

“Saat itu saya mengerjakan hampir semuanya sendiri, dari belanja, memasak hingga melayani tamu, pemasukan hanya 200 ribu rupiah sehari” ujar lelaki kelahiran Maninjau ini.  

Apa ceritanya sehingga sajian di restoran kecilnya berulang kali disebut sebagai “Masakan Padang terenak se-Jakarta?”. Tengoklah di YouTube dan medsos lainnya,mengapa terkenal?. Bagaimana pula perjuangannya sehingga ia sekarang memiliki 9 restoran di seputar Jakarta?

Ditipu Agen Pencari Kerja

Ternyata pria yang berbicara penuh passion mengenai pekerjaannya ini memiliki jalan hidup yang luar biasa.  Terdorong oleh kesedihan mendalam akibat suatu kejadian di keluarga, ia bertekad mengadu nasib ke luar negeri.  

Meminjam sejumlah uang yang cukup besar, bersama adiknya dan seorang teman ia menggunakan jasa agen pencari kerja untuk pergi ke Eropa.  Setelah melalui berbagai tantangan dan ketidak-pastian keberangkatan akhirnya mereka bertiga berangkat juga dengan tujuan Yunani di tahun 2006.  

Itupun hanya dengan pemberitahuan 1 hari sebelumnya mereka  terbang dengan bawaan seadanya menuju Prancis.  Agency menjanjikan akan ada orang yang menjemput disana untuk membawa mereka ke Yunani. 

Sesampai di Gallieni, Prancis, betul si penjemput bisa ditelepon tetapi tidak pernah muncul batang hidungnya.  Kebingungan,   mereka terus menunggu di tempat yang disepakati sampai hari gelap.

Kelelahan, akhirnya mereka masuk ke hotel dan menginap disana dengan membayar E200, setara dengan 3 juta rupiah kala itu.  Demi penghematan, malam-malam berikutnya mereka terpaksa “menggelandang” alias tidur di emperan toko bersama para imigran, pemabuk dan tunawisma.

Apa akal? Pindahlah mereka ke terminal, tidur disana dan hidup dari roti baguette yang murah dan keras..  Bingung, takut dan rindu nasi, pergilah Aprizal mencari restoran Cina dengan harapan bisa membeli nasi. 

Si pemilik ternyata orang Cina-Malaysia dan ia pun ditawari untuk bekerja memasak dan bisa tinggal di dalam!  Aprizal meminta agar adik dan temannya  ikut bekerja bersamanya tanpa bayaran, asalkan mereka bisa tinggal bersamanya.

Pemilik restoran setuju dan kedua orang tersebut diperbolehkan ikut membantu-bantu pekerjaan di restoran.  Di akhir bulan, ternyata adik dan temannya juga menerima bayaran!  Disini Aprizal belajar tentang fairness.

Luntang lantung di benua biru

Namun, keberuntungan belum memihaknya.  Baru sebulan bekerja  di dapur ternyata ada pemeriksaan imigran di daerah tersebut dan oleh pemilik restoran mereka bertiga diminta pergi dulu ke tempat lain. 

Mereka pun pergi ke Belgia dan sempat bekerja di  kebun ketimun.  Pekerjaan yang berat karena harus terus menerus membungkuk sepanjang hari.  Saat berdiri dan mau merebahkan diri, seluruh badan terasa sakit sekali.  Sebulan disana, Aprizal ditawari teman untuk bekerja di Rotterdam, di keluarga asal Indonesia yang memproduksi tempe. 

Saat itu Belanda baru mengeluarkan undang-undang anti-imigran yang kurang menguntungkan untuk orang sepertinya tetapi Aprizal bertekad pergi dan bertiga mereka bekerja di pabrik tempe tersebut.  

Setelah 6 bulan, suhu anti-imigran meningkat dan pemerintah Belanda berniat mengusir semua imigran ilegal.  Mau tak mau pemilik meminta mereka untuk pergi karena status yang ilegal dan bila tertangkap bisa membahayakan pemilik pabrik juga.  

Mereka pun hengkang ke Hamburg, Jerman tanpa tahu mau kemana dan mau kerja apa.  Belajar dari pengalaman sebelumnya Aprizal kembali mencari pekerjaan di restoran Cina, dan lagi-lagi berhasil dipekerjakan selama 6 bulan.  Suatu hari, majikannya mengusulkan agar mereka pergi ke Scandinavia karena untuk meminta suaka keadaan disana jauh lebih baik.  

Jadi pemulung di Swedia

Mereka pun berangkat ke Stockholm, tiba jam 4 pagi dan mandi di terminal bus.  Kecapaian, bertiga jatuh tertidur di terminal bus dan baru terbangun saat  polisi membangunkan mereka.  Polisi Swedia bersikap sangat baik, sopan dan memperlakukan mereka sebagai tamu. 

Berhenti sebentar di kantor polisi, mereka diberikan susu, roti dan yoghurt…  Ternyata kantor imigrasi tidaklah menakutkan seperti bayangannya, melainkan sebuah gedung bagus yang modern, bersih, terbuka, tak berpagar dan orang keluar masuk dengan bebas.  Jauh dari kesan penjara seperti yang selalu ditakutkannya.  

Mereka diberikan kamar, sprei, selimut, handuk dan perlengkapan mandi, semuanya serba baru.  Keesokan harinya barulah mereka diwawancarai mengenai alasan datang ke Swedia.  Aprizal mengakui dengan jujur bahwa dirinya mencari pekerjaan untuk membayar hutang di Indonesia. 

Hasilnya, Apri dan adiknya  diberikan kartu ATM dan uang sebesar 3 juta di rekening bank, lalu ditempatkan di penampungan di Sundsvall dan diberikan pelatihan kerja.  Sementara teman mereka dideportasi ke Indonesia.  

Walaupun fasilitas yang diberikan di pinggiran Sundsvall sangat baik, mereka tidak boleh bekerja dan Aprizal mulai berpikir bagaimana caranya bisa mengirim uang ke Indonesia.  Walaupun hidup sehemat mungkin, dengan cara membeli roti yang murah-murah saja dan mengambil buah-buahan serta telur yang telah dibuang oleh supermarket, tetap saja uang 3 juta tersebut tidak mencukupi. 

Suatu hari ia membaca tulisan pada sebuah botol minuman kosong “Recycle, 1 kronor”.  Rupanya, jika seseorang mengembalikan botol kosong kepada supermarket tertentu, orang tersebut mendapat uang kompensasi sebesar 1 kronor (1000 rupiah saat itu).  Untuk botol yang lebih besar 2K dan untuk kaleng bir 0.50 cent.  Timbul semangatnya, ia mulai mengumpulkan botol-botol kosong dari berbagai tempat kemudian dibawa ke supermarket untuk ditukarkan.

Dan, betul… ia mendapatkan 400 kronor (400 ribu rupiah) untuk botol-botolnya! Semangatnya meningkat. Pulang dari supermarket Apri langsung berkeliling memunguti botol-botol kosong untuk ditukarkan. 

“Oleh karena saya biasa hidup bersih, jika ada tempat-tempat sampah yang berantakan, saya rapikan, saya masukkan sampah-sampah yang berceceran ke dalam tempat sampah.  Kadang burung-burung mencari makan di tempat sampah, membuat sampah bertebaran, saya bereskan,”  ungkapnya

Dia juga pergi ke pantai, memunguti botol-botol yang berserakan, sambil memetik strawberry dan raspberry yang tumbuh liar sebagai pengganjal perut. Disana banyak rumah tangga yang membuang sampah atau perabotan yang masih bagus, diletakkan dalam box besar di depan rumah, menunggu diangkut truk sampah. 

Nah, banyak imigran dari negara lain yang mencari-cari barang yang masih bisa dipakai,mengacak-acak isi box lalu pergi begitu saja membiarkan barang-barang berantakan.  “Saya ikut mencari baju-baju yang masih bisa dipakai, bedanya setelah mendapatkan apa yang saya perlukan, saya rapikan lagi barang-barang tersebut ke dalam box,” jelasnya. 

Apripun “mengembangkan” usaha sampai ke pusat kota Sundsvall.  Saat musim dingin dia mengumpulkan botol-botol dari bar-bar dan pub, dan bisa dapat banyak sekali karena orang disana amat suka  minuman kemasan.  

Semua botol kemasan punya harga.  Dari kegiatan memulung ini dia  bisa mengirimkan uang sebesar Rp 70 juta rupiah ke rumah!.

Luntang lantung di Eropa akibat tertipu agen kerja hingga akhirnya menjadi pemulung di Swedia dan sukses kerja di Yunani. ( Foto: Dok. Pribadi)

Mendapat ijin kerja

Suatu hari ia dipanggil oleh petugas imigrasi, hatinya ciut, merasa takut bukan buatan. Setelah basa-basi sejenak, petugas memutarkan video dan ternyata itu adalah video-video yang menampilkan dirinya!.

Semua kegiatannya memulung, merapikan tempat sampah, memunguti botol dan kaleng yang berserakan di pub-pub,  mengamankan laptop dan handphone pemabuk di pantai, terekam kamera.  Rupanya ada cctv di seluruh kota.  

Namun, di luar prasangkanya, bukannya ditegur atau dideportasi ia malah disalami petugas yang sekaligus berterima kasih kepadanya karena ia dianggap telah mendukung program Pemerintah Swedia untuk menjadikan Swedia negara yang bersih.

Kegiatannya memulung dan membersihkan sampah yang berserakan dimana-mana menjadi perhatian pemerintah.  Hebatnya lagi, petugas memberikan hadiah sebesar 8000k (sekitar 8 juta rupiah), tiket terusan untuk bepergian ke seluruh Swedia, masuk gratis ke tempat-tempat wisata dan yang paling penting, ia mendapat ijin kerja.

Dengan ijin kerja tersebut Apri mendapat pekerjaan di sebuah restoran Cina. Sekitar setengah tahun bekerja, ada tamu dari Yunani yang setiap hari datang ke restorannya.  Mengetahui Aprizal berasal dari Indonesia, tamu tersebut minta dimasakkan makanan Indonesia.

Aprizal menyanggupi dan membuatkan setiap hari.  Rupanya tamu ini pernah tinggal dan mengelola hotel di Bali.  Di akhir kunjungannya, ia menawarkan pekerjaan untuk menjadi asisten chef di restorannya di Pulau Samos, Yunani dengan gaji hampir 2x lipat. 

Ragu-ragu, ia meminta izin kepada majikannya.  Sang majikan mengijinkan, “Kamu harus ambil, jangan sia-siakan kesempatan bagus ini.” Dari sini Aprizal belajar tentang sikap positif dan sikap terpuji atasan yang mendorong karyawan untuk maju.

Berjaya di Yunani 

Sesampai di Yunani bersama adiknya, Aprizal terkeju ternyata yang ditujunya bukan sekedar restoran tetapi sebuah hotel berbintang lima, Doryssa Seaside Resort di Pulau Samos.  Hotel dengan 400-an kamar ini memang terkenal akan makanan restorannya yang enak.

Sebagai Assistant Chef ia banyak menunjukkan inisiatif dan ringan tangan, saat pekerjaannya telah selesai ia membantu karyawan-karyawan yang lain, termasuk tukang cuci piring bahkan tukang kupas bawang – pekerjaan yang dianggap paling menyebalkan di dapur. 

Rekan-rekan yang dibantu senang karena biasanya disana karyawan sangat individualistis, hanya berfokus pada tugasnya sendiri, tidak peduli dengan pekerjaan orang lain.  Disini ia juga memasak makanan Indonesia untuk tamu-tamu hotel, seperti mpek-mpek, sate…dan tamu-tamu menyukainya.  Melihat dapur yang kotor ia mengusulkan kepada manajemen untuk membersihkan dapur. 

Bersama tim-nya ia membersihkan dapur yang luasnya 2000-an meter persegi hingga bersinar seperti baru.  Ia pun memperoleh kepercayaan dari pihak manajemen dan sering diminta untuk melakukan hal-hal lain di luar pekerjaan utamanya seperti dipercayakan menata makanan dan ruangan.  Tak heran bila ia terpilih sebagai karyawan terbaik, dari 285 orang, berturut-turut setiap tahun!

Saat sedang berada di puncak karirnya itulah ia mendapat kabar duka dari tanah air:  ibundanya sakit dan dalam keadaan yang mengkhawatirkan.  Lima tahun berkiprah di Yunani, tanpa ragu ia pulang di tahun 2013 demi ibunya. 

 “Pekerjaan dapat dicari, tetapi punya ibu cuma sekali.”  Begitu prinsipnya, mereka berdua pun pulang kampung.  Selama 2 tahun Aprizal terus berada di samping ibu di desanya di Nagari, Agam untuk merawatnya. 

 “Tadinya ibu tidak mau makan, bahkan minuman kopi yang diberikan disembur olehnya. Saya pun coba mendekati ibu dengan cara berbeda, saya cium dulu tangannya, saya peluk-peluk, saya ucapkan kata-kata bagus, saya ciumi pipinya… Ibu pun mau saya suapi,” cerita Apri. 

 Apri menyuapi, memandikan, membersihkan ibunya hingga beliau wafat di  pelukannya.  Sebelum wafat, ibu menceritakan suatu rahasia.  Ia minta Apri untuk membuka kaki tempat tidurnya yang terbuat dari bambu. 

Saat dibongkar, ternyata isinya penuh dengan emas!  Rupanya sang ibu memanfaatkan dengan bijak uang yang dikirim Apri, tidak saja dipakai untuk keperluan sehari-hari dan menebus sawah-sawah keluarga yang tergadai tetapi diam-diam sang ibu juga membeli emas yang ditabungnya di kaki tempat tidur.  

“Aku takut kau pulang tidak membawa uang, maka inilah uangmu.  Ambil dan manfaatkan, tetapi kalau bisa tidak usahlah pergi jauh-jauh, berusaha disini saja,” pinta ibunda Apri.

Kadai Mak Ciak

Menuruti nasihat ibunya, di tahun 2015 ia kembali ke Jakarta, memulai Kadai Mak Ciak dari sebuah kios kecil di Akasia Tower, Kalibata City, kios yang tetap ia pertahankan sampai sekarang.  

Hari-hari pertama pemasukannya hanya 200 ribu sehari, kadang hanya 250 ribu tetapi banyak tamu datang kembali karena menyukai masakannya.  Ia sudah mendapat repeat customers!  Jadi ia bersabar… ia tahu ini hanya menunggu waktu.  Betul saja, di bulan kedua Kadai Mak Ciak sudah surplus.  

Dari manakah asal masakan Kadai Mak Ciak?  Tidak dari mana-mana, masakan Padang di Kadai Mak Ciak adalah khas Mak Ciak, kata Aprizal.  Ia meramu bumbu-bumbunya sendiri, dan ada yang khas:  “Rasa pedas di Mak Ciak tidak menyengat, dan saya tidak menggunakan lada untuk menambah pedas” katanya.

Apakah pengalamannya di luar negeri berdampak pada masakan di restorannya?  Jelas.  Disana ia belajar banyak, tidak saja tentang fungsi setiap bahan makanan tetapi juga  bagaimana perlakuan yang benar untuk daging, untuk ayam, untuk ikan dan sebagainya. 

Berapa lama harus memasak daging agar keluar kaldunya.  Seberapa besar api harus disetel untuk memasak daging. Berapa lama daging direbus dalam kondisi 100 derajat untuk mengeluarkan rasanya. 

“Itu antara lain yang saya pelajari disana.  Saya juga belajar membuat masakan Western, Jepang, Korea, Thailand  sampai menghias (garnish).  Chef di Doryssa banyak berbagi ilmu, ini hal yang luar biasa, jarang orang seperti dia mau berbagi ilmu, dan kami menjadi sangat dekat..”  

Aprizal di Kadai Mak Ciak pertama Kalibara City, Jakarta

Masakan  Padang lebih sehat

Banyak orang berpikir bahwa masakan Padang itu identik dengan santan dan kolesterol jahat lalulmereka beralih ke masakan tumis menumis.  Menurut Aprizal  pandangan ini keliru karena minyak yang dipakai menumis umumnya adalah minyak sawit, bahkan minyak bekas, yang tidak baik untuk kesehatan.  

Santan yang dimasak sebentar saja akan menghasilkan HDL (kolesterol baik) tapi jika santan tersebut dimasak berulang-ulang barulah dia menghasilkan LDL (kolesterol jahat).

Dia mengingatkan bahwa  masakan  Padang banyak sekali memakai rempah-rempah seperti lengkuas yang bisa membunuh sel kanker, jahe yang bagus untuk mencegah penumpukan kolesterol, kunyit antara lain baik bagi ketahanan tubuh dan membunuh bakteri. 

Jahe, ketumbar, kayu manis, biji pala, sereh semua itu bagus untuk mengatasi  kolesterol dan semuanya ada dalam masakan Padang!. Sementara, masakan-masakan dari daerah lain umumnya hanya memakai rempah-rempah tertentu jadi bumbu terbatas. Masakan Padang itu selain rempah-rempahnya komplit dan perpaduannya pas juga menjadi penetralisir.

Lelaki berusia 47 tahun ini lebih lanjut menyampaikan, ada disertasi seorang profesor yang membuktikan bahwa masakan Padang itu tidak jahat seperti yang dikira orang.  Ia bahkan meneliti sebuah jaringan restoran Padang ternama dimana pemiliknya setiap hari memakan apa saja dari jualannya, begitupun karyawannya dan tidak ada seorang pun menderita sakit jantung. 

 “Telur ceplok sebenarnya lebih jahat daripada rendang,” katanya lagi.  Telur ceplok digoreng dengan minyak sawit dan langsung dimakan begitu saja, sementara rendang walaupun dimasak lama dengan santan dan memakai cabe, memiliki banyak penetralisir dalam kandungan bumbu-bumbunya.

Ia memang mempelajari serba-serbi bumbu dan efeknya bagi kesehatan.  Oleh karena itulah ia mencampurkan susu ke dalam sambal-sambalnya untuk mengurangi efek negatif cabe rawit dan cabe merah bagi pembeli.  

“Cabe dibutuhkan oleh tubuh karena mengandung vitamin C tetapi ia juga mengandung racun yang berbahaya bagi lambung.”  Selain sebagai penetralisir, susu juga membuat warna sambal tetap merah merona dan hijau segar.  Aprizal juga paham karakter berbagai rempah, bagaimana karakter bawang merah, bagaimana pula karakter bawang putih dan kalau bawang putih ditumis apa akibatnya, dan lain-lain.  

Memang ia masih turun ke dapur setiap dan memulai jam kerjanya dari jam 3 pagi.  Ada hal-hal tertentu yang harus berada dalam pengawasannya supaya “Rasanya tidak lari” katanya.  Dapurnya memanfaatkan gula dan air kelapa sebagai penyedap.

Hebatnya, Aprizal memakai bahan-bahan dan bumbu-bumbu segar setiap hari.  :”Saya tidak menyetok bahan atau bumbu-bumbu, saya terima daging beku tetapi yang bagus.  Saya tidak tertarik dengan daging murah,”

Menurut dia, lengkuas dan cabe yang telah bermalam berbeda rasanya. ” Kami juga tidak memakai bumbu giling maupun santan jadi, kami membeli semua rimpang dalam wujud utuh dan kelapa bulat.  Kelapa kami parut dan peras sendiri santannya.“ jelasnya.  

Tahunan belanja di pasar setiap hari, Aprizal tahu betul banyak orang menjual nangka muda yang putih dan tampak bagus padahal nangka tersebut telah diberi pemutih, alias kimia alias racun.  Daun singkong pun banyak yang diberi gendar supaya warnanya bagus.  “Saya gak mau.  Sedikit racun disana, sedikit disini, lama-lama lambung rusak.   Padahal tujuan saya berbisnis adalah memberi makan dan menjaga kesehatan,”

“Saya tidak menjual jeroan.  Otak dan gajeboh juga baru-baru saja kami sediakan atas permintaan salah satu cabang,” ujarnya.

Kadai Mak Ciak juga tidak banyak menyediakan masakan ikan tawar karena, walaupun sebenarnya bagus, kebanyakan ikan tawar sekarang ini diberi makan pelet, kimia lagi.  “Jadi saya perbanyak menu ikan laut, kan mereka makan yang alami di laut lepas,” tandasnya. 

Memang membuat masakan Padang lebih ribet, lebih menghabiskan energi dan meminta lebih banyak biaya.  “Tapi orientasi saya bukan keuntungan semata, saya ingin usaha yang diridhoi Allah.  Memberi makanan dan menjaga kesehatan tadi.  Saya harap Kadai Mak Ciak nanti juga dimiliki oleh orang-orang lain, bukan oleh keluarga sendiri saja” harapnya.

Serba terjangkau 

Perjalanan hidup membuatnya jadi pionir dalam membuat masakan Padang sehat bahkan diakui sebagai masakan terenak oleh Youtuber dan pecinta kuliner umumnya. Kedai ( restorannya) dimanapun juga tidak pernah sepi pengunjung.

Siang itu Aprizal memesankan untuk saya gulai ikan kembung. Seekor ikan kembung dalam santan kental berwarna kuning cerah dan cantik segera tersaji di meja.  Dimasak dengan daun ruku-ruku, tekokak, cabe rawit utuh, daun pandan dan daun kunyit.

Apri memasaknya sendiri.  Rasanya memang…wah!  Wangi, gurih dan manis ikan masih terasa.  :”Ini saya buat sendiri, hanya dimasak 10 menit, Jadi santannya sehat”. katanya. Mendengar keterangannya, saya menghabiskan semua, termasuk daun kunyitnya.

Anak ke-8 dari 9 bersaudara ini memang ingin masakan Padang dikenal lebih luas, dikenal rasanya, tidak eksklusif dan terjangkau.  “Untuk itu saya bersedia berbagi ilmu, kepada siapa saja yang mau belajar memasak, pelanggan bahkan kompetitor, tidak ada yang saya sembunyikan.  Ayo datang ke dapur saya.  Ilmu jika dibagi menjadi semakin banyak, berbeda dengan harta yang kalau dibagi semakin berkurang,” tegasnya lagi.

Mengaku terlahir dari keluarga miskin – keluarganya dikategorikan sebagai keluarga termiskin  dalam data kelurahan desa Koto Malintang, kecamatan Tanjung Raya, Agam. Ibunya berjualan nasi dan anak-anaknya adalah anak buahnya.  Aprizal sudah dipaksa memasak di usia 3 tahun.  

Rumahnya seluruhnya terbuat dari bambu, untuk makan mereka harus pergi dulu ke sawah, memotong padi dan  mengolahnya menjadi beras. Keterbatasan finansial membuat Apri kecil sudah bisa memasak rendang sebelum masuk SD,  saat di kelas 4 SD ia mulai memasak untuk keluarga.  

Kelas 6 SD ia ikut berdagang dan sempat menjadi karyawan sebuah restoran Padang besar.  Di tingkat SLTP ia sudah gemar berkreasi saat memasak untuk keluarga. Ia pernah menyajikan dendeng yang terbuat dari nangka dan dendeng dari kulit singkong.

Belakangan, sepulangnya dari Eropa ia menjadi Juara 1 se-provinsi Sumatera Barat dalam suatu kejuaraan memasak dimana ia  berkreasi dengan hati batang pisang, nasi dari sukun dan mengolah kulit coklat!. Ia berpendirian bahwa alam disiapkan untuk manusia, jadi harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Jadi itulah rahasianya bagaimana Aprizal mengembangkan Kadai Mak Ciak yang selalu ramai dikunjungi orang dan menjadi hit saat ini.  Determinasi, kreatifitas, smart working, inisiatif, kegigihan, kepedulian terhadap sesama, loyalty dan berbisnis dengan cara yang diridhoi Allah. 

 

 

  

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.