Aplikasi Reservasi Hotel Pukul Bisnis Hotel Semarang

0
561
shopping online

UNGARAN, test.test.bisniswisata.co.id: Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Semarang mengungkapkan para pengusaha hotel di Kabupaten Semarang mengeluhkan kehadiran bisnis aplikasi reservasi hotel. Mesti sebagian dari mereka merasa terbantu, namun tak sedikit pengusaha dan pengelola hotel terpukul karena dampak aplikasi reservasi yang semakin banyak bermunculan .

“Kami sudah banyak menerima keluhan dari anggota. Kehadiran bisnis aplikasi reservasi hotel ini membuat persaingan harga kamar semakin tak terkendali. Dan persaingan ini tak bisa dibendung,” ungkap Ketua PHRI Kabupaten Semarang, Sumardi Darmanji di Ungaran, Selasa (2/8).

Di lapangan, jelasnya, tak sedikit pengusaha hotel yang keberatan dengan ketatnya persaingan ini. Bahkan sebagian dari mereka menyebutnya sebagai ‘perang harga’. Di sisi lain, ketersediaan aplikasi secara daring sangat memudahkan konsumen untuk memilih.

Namun tidak demikian halnya bagi pengusaha. Karena kehadiran aplikasi reservasi ini berdampak persebaran okupansi hotel kian tak merata. Konsumen selalu memilih hotel yang murah. “Pokoknya mana hotel yang murah, itu yang ‘diklik’ atau dipilih,” tandasnya.

Terkait persoalan ini, Sumardi meminta agar ada langkah-langkah dari pihak berwenang dalam mengantisipasi dampaknya. “Karena ini untuk menyelamatkan lebih dari 150 pengusaha hotel dan restoran yang tergabung dalam PHRI,” tambahnya.

Pihaknya juga meminta pihak terkait untuk secepatnya memikirkan solusi mengurai kemacetan di Bandungan dan sekitarnya. Sarana dan prasarana pendukung seperti halnya jalan hingga akses menuju kawasan wisata sudah selayaknya perlu ditingkatkan. “Saya kira, jika kemacetan ini beres, maka akan berdampak positif bagi upaya meningkatkan hunian hotel dan pengunjung restoran,” tegasnya.

Bupati Semarang, Mundjirin, mengatakan para pengusaha hotel harus bisa bersaing dengan sehat. Karena pengusaha hotel menjadi salah satu faktor penentu suksesnya industri pariwisata di Kabupaten Semarang. “Itu disebabkan karena kita jangan selalu alergi ketika bersaing. Tapi persaingan juga harus sehat,” tegasnya. (*/REP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here