Aksesibilitas udara, infrastruktur penting mempromosikan keindahan Alor

0
982
foto: Repro

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Aksebilitas menjadi faktor kritis yang dihadapi destinasi wisata di kawasan Indonesia Timur ( KTI). Oleh karena itu prioritas Kabinet Kerja adalah fokus menjadikan kawasan itu pada pembangunan pariwisata.

“Meski keindahan alamnya luar biasa dan unik tetapi konektivitas untuk mencapai kota-kota provinsi dan kabupaten di KTI masih sulit karena itu untuk mempercepat pembangunan kita harus menciptakan ‘permintaan (demand)  agar orang mau datang dengan menciptakan event pariwisata,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya .

“Untuk menciptakan demand tersebut peranan medialah yang bisa mendorong masyarakat serta para pembuat keputusan untuk memperbaiki aksesibilitas karena ketika berwisata factor kenyamanan dan keamanan yang paling utama,” ujarnya, Kamis,  pada jumpa pers Festival Bahari Alor 2015 dari 16-18 September 2015 dan Festival Adventure Indonesia ( FAI) dari 15-20 September 2015.”

Menurut Arief Yahya  kalau sudah tercipta demand maka supply akan mengikuti karena itulah sehubungan dengan kedua event besar itu, membutuhkan dukungan berbagai pihak agar wisatawan dapat mengikuti dua event besar itu secara hampir bersamaan di Kabupaten Alor.

Laporan World Economic Forum, kata Arief, yang terburuk adalah  aksesibilitas ( tourism infrastructure) yang merata hampir di seluruh Indonesia. Oleh Karena itu penerbangan  Trigana ( Trans Nusa)  dan Wings Air yang setiap hari melayani rute Kupang-Alor  agar dapat menambah frekwensi penerbangan saat ada event-event pariwisata.

Pihaknya menyambut baik upaya Pemkab Alor menyelenggarakan dua festival sekaligus karena pariwisata masih di ranking lima dalam Penghasilan Asli Daerah ( PAD) Alor. Dengan banyaknya event maka Alor dengan berbagai keunikannya akan menjadi trending topic di dunia maya yang mendorong orang untuk datang, tambahnya.

“Masalah aksesibilitas ini akan saya bahas dengan Menteri Perhubungan, kebetulan ada lomba desain bandara dan yang dilombakan adalah bandara Mali, Alor. Panjang runway yang ada sekarang 1800 meter harus ditingkatkan dan kita usulkan ada rute baru langsung dari Denpasar,” kata Arief Yahya.

Presiden Joko Widodo sudah menetapkan pemerintah akan fokus pada pembangunan pariwisata di KTI karena itu untuk Alor yang dikenal dengan 25 spot divingnya yang indah harus segera diupayakan perluasan bandara dan rute yang langsung dengan hub distribution seperti Denpasar dan Kupang.

“Belum lama ini dua destinasi di NTT yaitu spot diving di Raja Ampat, papua dan Labuan Bajo, Pulau Komodo mendapat penghargaan internasional karena keindahan bawah lautnya. Feeling saya kalau kita fokus mempromosikan dive spot atau titik-titik penyelaman di Alor maka wisman akan banyak berkunjung,” tambahnya.

Dalam hal aksesibilitas, Menteri mengatakan rute penerbangan yang ada selama ini harus direvisi dan setelah itu frekwensi penerbangannya di tambah.Belajar dari dibukanya penerbangan langsung Denpasar-Banyuwangi maka arus wisatawan mancanegara yang masuk ke Banyuwangi, Jember dan sekitanya melonjak. Untuk Alor maka kebutuhannya juga penerbangan langsung Denpasar-Alor dan bisa  dipastikan kunjungan wisman akan melonjak.

“Alor punya Festival Bahari dan Festival Adventure Indonesia, selain itu ada pulau yang dihuni 3000 rusa sehingga menjadi daya tarik yang unik. Saya optimistis Alor menjadi  destinasi ke tiga di Nusa Tenggara Timur ( NTT) yang banyak diminati wisman setelah Raja ampat dan Komodo,” urainya.

Bupati Alor, Amon  Modjo ( kiri) bersama Menteri Pariwisata Arief Yahya. ( foto: Forhumaspar)
Bupati Alor, Amon Modjo ( kiri) bersama Menteri Pariwisata Arief Yahya. ( foto: Forhumaspar)

Bupati   Kabupaten Alor, Amon Djobo mengatakan selain dilayani oleh dua penerbangan yaitu Trigana dan Wings, pihaknya juga tengah menjajaki agar pesawat ATR 72-600 kapasitas 70 seat juga melayani penerbangan ke Alor. Minimal ada penerbangan dari Kupang-Alor secara rutin karena Kupang adalah titik distribusi terdekat, memakan waktu 50 menit ke Alor. Idealnya

“Alor adalah halaman atau beranda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI) yang berbatas dengan Timor Leste dan dari darat dengan Atambua. Kalau jalur laut akses harus ditempuh dalam waktu 9-10 perjalanan dengan gelombang-gelombang tinggi sehingga kurang nyaman,” ungkapnya.

Untuk menciptakan demand atau minat wisatawan datang ke Kabupaten Alor, pihaknya sembilan tahun terakhir sudah memiliki Karnaval dan Expo Alor dimana pengunjungnya juga datang dari Australia dan Eropa terutama para pemilik kapal yacht yang pernah berkunjung ke Alor ketika ada kegiatan Sail Indonesia beberapa tahun lalu.

“Kalau Karnaval dan Expo Alor kita selenggarakan berkaitan dengan peringatan Hari Kemerdekaan RI, sedangkan Festival Bahari Alor baru kami selenggarakan mulai tahun ini. Sementara Festival Adventure Indonesia yang berlangsung di Alor sudah yang ke dua kalinya. Kegiatan yang pararel dan mendapatkan dukungan dari Kementrian Pariwisata ini akan menjadi event tahunan pula,” kata Amon.

Pihaknya berharap, wisata selam ( diving) di Alor bisa segera mendunia setelah selama lima tahun hampir tidak pernah di promosikan lagi ke mancanegara. Sejak memimpin Kabupaten Alor satu setengah tahun lalu, dia fokus pada pengembangan pariwisata dan berharap bisa menjadi PAD utama di daerahnya karena terbukti pariwisata mampu menggerakkan langsung perekonomian masyarakat. (hildasabri@yahoo.com)

 

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.