AirAsia Bisa Digugat dengan Konvensi Montreal 1999

0
916
Pengangkatan Ekor pesawat AirAsia QZ8501 (foto: AFP)

JAKARTA, BISNISWISATA.CO.ID: Profesor Hukum Udara asal Korea Selatan (Korsel), Doo Hwan Kim menegaskan tiga warga negara Korsel menjadi korban kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501, bisa menggugat ganti rugi yang lebih besar ke Pengadilan Korsel dibandingkan ke pengadilan Indonesia.

Jika mengacu undang-undang yang berlaku di Korea (Korean Revised Commercial Act), setiap korban WN Korsel bisa memperoleh ganti rugi sebesar 113.100 SDR (senilai Rp20 Miliar,-red). “Korban bisa mendapat 113,100 SDR (senilai Rp1,7 Miliar,-red) atas kerusakan yang timbul dari kecelakaan Indonesia AirAsia,” papar Doo dalam diskusi terbatas di Jakarta, Rabu (4/2).

Bukan cuma warga Korsel, lanjut dia, korban AirAsia dari Inggris, Perancis, Malaysia dan Singapura juga bisa mengajukan gugatan serupa. Mengingta, gugatan itu bisa mengacu kepada Konvensi Montreal 1999. Meski Indonesia belum meratifikasi Konvensi Montreal, tapi konvensi itu bisa digunakan sebagai alas gugat bagi korban yang negaranya sudah meratifikasi konvensi itu.

Dilanjutkan, peluang menang gugatan di Korea Selatan cukup besar, bila penggugat bisa membuktikan adanya “sengaja melakukan kesalahan” yang dilakukan AirAsia. Ini mengacu kepada sistem Anglo-American yang diterapkan di negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, India dan lainnya. “Mahkamah Agung Korea Selatan dan Mahkamah Agung Jepang menafsirkan bahwa ‘sengaja melakukan kesalahan’ sebagai dasar dari kelalaian,” ujarnya.

Doo menjelaskan ada beberapa kemungkinan yang akan dihadapi oleh AirAsia. Pertama, jika terbukti “sengaja melakukan kesalahan”, AirAsia akan menanggung tanggung jawab hukum yang tak terbatas untuk membayar kompensasi dari kerusakan yang dialami korban dari kecelakaan itu.

Kedua, jika memang kecelakaan disebabkan karena cuaca yang buruk, AirAsia bisa mendapat pengecualian dari sebagian
tanggung jawab hukum pada Pasal 146 UU Penerbangan Indonesia dan Article 913 Korean Revised Commercial Act.

Pakar Hukum Udara dari Universitas Tarumanegara (Untar) Prof. Martono menilai Konvensi Montreal belum bisa diterapkan untuk kecelakaan AirAsia karena Indonesia belum meratifikasi konvensi itu.

Martono menilai konvensi yang berlaku untuk kasus AirAsia adalah Konvensi Warsawa 1929, yang sudah diratifikasi Indonesia. “Kita memang mengusulkan pemerintah untuk meratifikasi Konvensi Montreal. Tapi, sampai saat ini, kita bukan negara anggota (dari Konvensi Montreal,-red),” ujarnya seperti dilansir laman Hukumonline.com, Jumat (6/2/2015)

Martono menegaskan salah satu keberatan Indonesia meratifikasi Konvensi Montreal 1999, karena masalah yurisdiksi gugatan bila terjadi kecelakaan. Bila merujuk kasus AirAsia, yurisdiksi mendaftarkan gugatan berdasarkan Konvensi Warsawa adalah wilayah tempat keberangkatan (PN Surabaya), wilayah kantor pusat Indonesia AirAsia (di Jakarta), wilayah tujuan (Pengadilan Singapura) dan wilayah-wilayah yang memiliki perwakilan Indonesia AirAsia.

“Jika Konvensi Montreal ada lima yurisdiksi. Dari empat yurisdiksi di Warsawa, ada satu tambahan yakni gugatan bisa didaftarkan di negara penumpang. Itu yang jadi penghalang bagi Indonesia untuk meratifikasi,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal Masyarakat Hukum Udara (Sekjen MHU) Anggia Rumasari berpendapat Konvensi Montreal bisa saja diterapkan untuk kasus kecelakaan AirAsia ini, walau Indonesia belum meratifikasi. Apalagi, ada juga penumpang dari negara yang sudah meratifikasi yang menjadi korban dalam kecelakaan ini.

Anggia menyatakan tolak ukur apakah Konvensi Montreal bisa digunakan adalah bisa dilihat dari tiket yang dibeli oleh penumpang. “Ada yang sudah beli tiket Surabaya – Singapura – Surabaya dan ada juga yang beli tiket Singapura – Surabaya – Singapura,” ujarnya.

Bila mengacu kepada scope of law Konvensi Montreal, lanjutnya, penumpang yang sudah membeli tiket untuk Singapura – Surabaya – Singapura bisa menggunakan konvensi tersebut. Pasalnya, wilayah keberangkatan dan tujuan akhir dari yang tertera di tiket adalah negara anggota Konvensi Montreal (Singapura). ****

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.