6-7 November 2015, Swarna Fest 2015

0
721
Pewarnaan kain (Foto: ANTARA FOTO)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: PENGGUANAAN pewarnaan alam pada kain, pakaian dan bahan lainnya jadi tren dunia yang cukup banyak diminati karena memberikan kesan yang sangat sensasi, lembut dan keindahan. Bahkan, kain batik dan tenun yang diproses dengan pewarna alam tidak hanya menghasilkan warna yang khas, namun juga memiliki nilai budaya yang tinggi.

Kementerian Perindustrian terus memperkenalkan, mengembangkan, dan mempopulerkan pewarnaan alam sebagai bentuk kearifan budaya lokal Indonesia untuk dunia melalui penyelenggaraan Swarna Fest 2015, yang akan diselenggarakan pada tanggal 6-7 November 2015 di Pantai Nembrala, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kegiatan yang akan dibuka secara resmi oleh Menteri Perindustrian dan Bupati Rote Ndao, diikuti berbagai pelaku industri kecil dan menengah, pengrajin, desainer fesyen, serta praktisi yang berkecimpung dalam serat dan warna alam Indonesia.

Acara tersebut juga akan diisi dengan beragam kegiatan mulai dari pameran, seminar, dan fashion show. Juga workshop tenun dengan menggunakan alat tenun gedogan yang diharapkan dapat meraih rekor MURI untuk proses penenunan terbanyak dalam satu waktu dengan pemanfaatan pewarna alam.

Kain tradisional Indonesia sejatinya adalah wastra yang ditenun sendiri dan diproses menggunakan pewarna alam dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia. Bahan-bahan pewarna alam dari tumbuh-tumbuhan dapat diambil dari daun, kulit pohon, kayu pohon, bunga, buah, biji buah, kulit buah, dan akar.

Zat yang terkandung pada tumbuhan, bisa menghasilkan beragam macam warna, misalnya warna biru dihasilkan dari daun nila atau tom dan indigofera. Sedangkan, warna kuning dari kayu nangka dan kayu tegeran, warna coklat dari kayu tingi, warna kemerahan dari secang, serta masih banyak lagi tanaman yang dapat digunakan.

Tahun 2015, Swarna Fest menyoroti spektrum warna rumput laut sebagai salah satu alternatif pewarna alam yang menghiasi tenunan para wanita dari Rote dan Ndao. Sebelumnya, Swarna Fest 2013 telah memperkenalkan tenun tradisonal Alor dengan pewarnaan biota laut di Alor Nusa Tenggara Timur. Sementara pada Swarna Fest 2014, Bali dipromosikan sebagai rumah kreatif serat alam, sutera dan tenun yang diselenggarakan di Bali Creative Industry Center, Tohpati, Denpasar.

Bertemakan Road to Indonesia Ethical Fashion”, Swarna Fest 2015 mengetengahkan isu hangat tentang fesyen etis dan berkelanjutan, di mana rantai penciptaan busana tradisional di Indonesia berawal dari penggunaan serat alam yang ditenun dan diwarnai dengan warna alam guna menggerakkan ekonomi masyarakat yang baik dan berkelanjutan.

Penyelenggaraan Swarna Fest 2015 bergandengan dengan Gelar Budaya Dela yang merupakan tradisi tahunan di Pulau Rote, sehingga akan dipamerkan juga kerajinan dan makanan khas setempat. Selain itu, ditampilkan pula hasil produk ukiran kerang yang melestarikan motif-motif lokal pada kerajinan emas dan perak dan pembuatan dapur sehat untuk IKM gula semut. Swarna Fest 2015 akan dimeriahkan dengan hiburan tarian rakyat dan hiburan lainnya. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.