6 – 14 Jun 2015, Pesta Adat Erau dan International Folk & Art Festival

0
2784

KUTAI KARTANEGARA, test.test.bisniswisata.co.id: Pesta Adat Erau 2015 kembali digelar bersamaan International Folk & Art Festival (EIFAF) pada 6-14 Juni di Kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur. Kegiatan ini diikuti 30 paguyuban/sanggar seni di Kukar beserta 17 negara: Bulgaria, Hongaria, Estonia, Latvia, Slovenia, Jerman, Polandia, Italia, Rusia, Mesir, Afrika Selatan, Malaysia, Filipina, Turki, Korea Selatan, Venezuela dan Amerika Serikat.

6 Juni, acara diawali kirab budaya diikuti delegasi mancanegara ataupun perwakilan sanggar seni dengan menempuh jarak kurang lebih 2 km di jalan utama Kota Tenggarong. Pembukaan Erau pada 7 Juni pukul 09.00 WITA di Keraton Kutai, dan pembukaan EIFAF 2015 dilaksanakan pada 10.00 WITA di Stadion Rondong Demang.

Selama EIFAF 2015, warga maupun wisatawan dapat menikmati berbagai atraksi seni budaya baik lokal, Nusantara maupun mancanegara. Kesenian lokal seperti Kutai dan Dayak akan dikolaborasikan dengan kesenian mancanegara.

Penutupan Erau berlangsung pada 14 Juni 2015 di halaman keraton dengan acara puncak adat berupa Mengulur Naga dan Belimbur (siram-siraman air).

Pesta Adat Erau dalam bahasa kutai adalah “eroh” artinya ramai, riuh, ribut, suasana penuh sukacita. Kegiatan masyarakat Tenggarong ini mengandung banyak makna, baik bersifat sakral, ritual maupun hiburan. Erau terus dilestarikan sebagai upaya memelihara tradisi leluhur dengan melibatkan seluruh kesultanan, kerajaan dan masyarakat umum.

Terdapat 3 macam Erau adat dalam lingkup Kesultanan Kutai. Pertama, Erau Tepong Tawar, dilaksanakan kerabat keraton pada waktu tertentu berdasarkan keinginan suatu pekerjaan. Pada pelaksanaan ini, raja bergerak bebas tidak memiliki batasan;

Kedua, Erau Pelas Tahun, dilaksanakan kerabat keraton yang berhubungan dengan aktivitas rakyat, ditujukan untuk membersihkan segala hal yang menganggu kehidupan di permukaan bumi dalam suatu wilayah pekerjaan.

Ketiga, Erau Beredar di Kutai, dilaksanakan oleh kerabat keraton, ditandai dengan prosesi “Mendirikan Ayu” dan diakhiri dengan prosesi “Merebahkan Ayu”.

Erau memiliki tahap praprosesi dan prosesinya. Praprosesi memiliki beberapa ritual pendahuluan sebagai upaya untuk membuka komunikasi kepada alam gaib yang diyakini ada dan dapat saling memberikan manfaat dalam kehidupan nyata. Ada pula tahapan-tahapan membersihkan diri dari unsur-unsur jahat yang dilakukan oleh Sultan.

Kota Tenggarong yang dijuluki sebagai “Kota Raja”, dahulu merupakan ibukota kesultanan Kutai Kartanegara dan berdiamnya makam para raja. Kota Tenggarong dapat ditempuh sekira 40 menit dari Kota Samarinda. Dari Balikpapan butuh waktu 2 jam. Kutai Kartanegara salah satu kabupaten terkaya di Indonesia karena memiliki sumber daya alam melimpah, terutama batubara. Juga menyimpan potensi wisata budaya, wisata sejarah, wisata alam dan wisata ilmu pengetahuan.

Apabila Anda ingin tahu tentang peradaban Kutai, singgahlah di Desa Brubus, desa yang dahulu merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Kutai. Di desa ini Anda dapat melihat berbagai peninggalan kerajaan Hindu tertua di Indonesia seperti batu kepala babi, kubu-kubu kuno dan lesong batu. Lengkapi perjalanan dengan mengunjungi Museum Mulawarman yang terletak di Jalan Diponegoro.

Pulau Kumala Tenggarong berada di tengah-tengah sungai Mahakam, luasnya sekitar 81,7 hektare. Di pulau ini terdapat Taman Rekreasi Pulau Kumala (TRPK) dengan penataan yang apik dan sanggup membuat Anda terkagum-kagum. Di sini tersedia lebih dari sepuluh wahana permainan yang bisa Anda jajal, termasuk sebuah resor dengan harga yang layak.

Untuk menuju Pulau Kumala pun Anda bisa menggunakan kapal motor yang hanya memerlukan waktu dua menit dari dermaga kota Tenggarong. Pilihan lain Anda dapat menggunakan kereta gantung atau Skyline dengan harga tiket Rp60.000,00. Harga tersebut sepadan dengan pemandangan indah Sungai Mahakam dan Kota Tenggarong. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here