Lia Kusumawardhany : Saatnya menjaring wisatawan minat khusus lewat sport dance

0
1304
Lia Kusumawardhany, pengusaha yang menekuni Sport Dance

“Jangan lupa jam 18.30 kita latihan ya ,” ujar Lia Kusumawardhany mengingatkan seorang temannya via telpon.  Wanita cantik ini bercerita bahwa usai jam kerja dia akan berlatih dansa disebuah restoran di kawasan Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta.

Lia memang dikenal dengan kemahirannya dalam melakukan sport dance  seperti salsa, belly dance, jive, cha cha, Argentina tango dan blues. Hobi menari sejak duduk dibangku sekolah dasar membuat Lia kini memilih sport dance sebagai aktivitas yang menghibur dan bermanfaat bagi kelunturan tubuhnya.

Hobi ini pulalah yang membuat Lia rela menjadi turis ke Singapura bahkan hingga Argentina bersama komunitas tari latinnya. Lia mengatakan bahwa penggemar dansa merupakan jenis wisatawan minat khusus yang belum diperhitungkan di negri ini. Padahal Indonesia juga dapat menjaring wisatawan mancanegara dengan menyediakan tempat-tempat latihan, tempat kompetisi di kota-kota utama.

“Kalau sekarang baru resto di Jakarta dan Bali yang banyak menyediakan tempat untuk komunitas sport dance. Memang penggemarnya masih di lingkungan  sosialita dan kalangan atas namun hampir di seluruh dunia  komunitas ini ada sehingga sudah saatnya juga dilakukan upaya-upaya untuk menjaring wisatawan melalui hobi dansa,” kata Lia.

Bagi usaha restoran dan café, menyediakan tempat berlatih dansa bagi komunitas justru mengun-tungkan karena mereka yang datang bukan sekedar berlatih tetapi juga memesan beragam menu yang ada sekaligus  meningkatkan popularitas, tambahnya.

Kerja Tim

Saat bertandang di kantor PT Missi Idea Selaras  di bilangan Pejompongan, Jakarta Pusat, wanita cantik bertubuh langsing ini tengah sibuk memasukkan data konsumen dari kliennya ke dalam computer.

Mengobrol di ruang kerjanya yang nyaman diselingi sejumlah karyawan yang keluar masuk menunjuk-kan Lia bukanlah tipe bos yang ditakuti. Sikapnya yang ramah tapi tegas dan mengayomi sangat menonjol apalagi saat salah seorang karyawati muncul setelah pulang umroh. Dia langsung menanya-kan kondisi kesehatannya sepulang dari perjalanan umroh. Lia memberikan bonus bagi karyawan berprestasi dengan melaksanakan ibadah itu secara bergiliran.

Pandangan mata kemudian tertuju pada tumpukan bungkusan plastik sabun pencuci piring bertumpuk rapih di meja kerjanya. Sebagai seorang Chief Executive Officer perusahaan yang bergerak di bidang Sales Promotion Agency.

“Hari ini jadwal saya tidak padat jadi saya bisa membantu staff melakukan entry data yang menjadi kekuatan dari jasa ini.Di ruang kerja ini saya juga bisa mengajarkan menari Salsa bagi teman yang datang minta diajarkan tari gaul,” katanya tergelak.

Nampaknya kesibukan memasukan data siang itu adalah salah satu cara Lia mendidik karyawannya untuk mengedepankan kerja tim dalam bekerja. Di saat semua karyawan tengah dikejar deadline pekerjaan dari salah satu klien, dia juga dengan senang hati turun tangan membantu.

Memberikan keteladanan dan semangat kerja melalui aksi nyata agaknya itulah yang dilakukan Lia yang memiliki multi talenta dan kini mengelola 120 karyawan. Pintu ruang kerjanya yang selalu terbuka memudahkan karyawannya untuk berkomunikasi langsung dengan ibu satu anak ini.

Seorang karyawan yang baru saja pulang umroh menyapa sejenak dan  masuk ruangan kerja. Lia dengan antusias menanyakan kondisi kesehatannya dan perjalanan spiritual yang diraihnya. Dia mendapat hadiah umroh dari perusahaan bersama lima orang karyawan lainnya.

Selama lebih dari 17 tahun, perusahaan ini telah berdiri dan dipercaya oleh para Klien untuk mengelola secara integrasi di bidang Undian Gratis Berhadiah (Sweepstakes/Raffle), CRM (Customer Relationship Management), Data Base, Point Reward Management, Trade Marketing dengan brand Red Box Without The Line.

Perusahaan, ujarnya, dibangun dengan komitmen tinggi untuk menjunjung kode etik usaha dan memegang teguh kepercayaan klien dengan didukung oleh customized, systim aplikasi yang berbeda untuk setiap program, call center, distribusi dan pengiriman hadiah kepada pemenang. Pengelolaan undian itu sendiri dilakukan di depan  notaris, polisi dan pejabat Kementrian Sosial hingga pemusna-han Kupon untuk mencegah penipuan dan bocornya data.

“Bisnis yang saya tekuni sekarang memang unik, bukan perusahaan advertising seperti lazim yang ada di dunia periklanan.  Kami lebih spesifik dan harus bekerja dengan detail sehingga membutuhkan kesabaran dan ketekunan,” ungkap ibu dari Nataya Kusumaputri, 26 tahun yang baru saja menikah ini.

Klien yang mempercayakan undian berhadiahnya sangat beragam mulai dari kebutuhan rumah tangga (household), makanan, minuman, perusahaan saham, perusahaan minyak, otomotif, telekomunikasi, perbankan, mall, apartemen, produk kecantikan hingga ice cream dengan total sedikitnya 62 brand dalam dua tahun terakhir.

Undian berhadiah dengan menyertakan  SKU atau sachet, kupon-kupon yang diisi oleh para konsumen dari produk kliennya dikirimkan ke kantornya, lalu harus dihitung satu persatu, diketik oleh data entry untuk dijadikan data base.  Data ini sangatlah berarti untuk para klien karena akan dibuatkan laporan akhir guna mengetahui demografi konsumen dari para klien baik dari segi lokasi, umur, gender dll.

Down to earth

Setelah 20 tahun fokus menangani human resources development (HRD) di perusahaan minyak, Lia akhirnya bergabung dengan usaha yang dirintis dan dimiliki bersama suaminya, Eka Putra Bhuwanaini.Lia yang kerap turun lapangan di tambang-tambang miyak kawasan Indonesia Timur mengatakan bekerja di perusahaan minyak yang ladangnya berada di pedalaman memang punya tantangan tersendiri.

Dia kerap harus melakukan perjalanan ke pedalaman , beradaptasi dengan masyarakat adat di Papua dan Kalimantan. Lingkup pekerjaannya di perusahaan seperti Murphy Oil, Santos Asia Pacific, Miwah Tambang Mas maupun Enterprise Oil memang membuatnya banyak melakukan perjalanan dan berinteraksi beragam watak masyarakat.

“Kuncinya kita harus down to earth, saya berusaha memahami orang Papua dengan cara membaur dan banyak berinteraksi dengan mereka dan juga mengunjungi desa-desa mereka. Sementara diperusahaan multinasional di industri pertambangan gas dan minyak bumi saya banyak belajar soal kerja tim dan kepemimpinan,” jelasnya  anak ketiga dari empat bersaudara asal Bandung ini.

 

Lia penggemar  sport dance seperti belly dance,sport dance  seperti belly dance, salsa, jive, cha cha, Argentina tango dan blues.
Lia penggemar sport dance seperti belly dance,sport dance seperti belly dance, salsa, jive, cha cha, Argentina tango dan blues.

Penggemar olahraga rekreasi seperti dansa, golf yang mahir pula bermain piano ini lalu meninggalkan zona nyamannya di perusahaan asing untuk bergabung dengan usaha milik suami pada 2011 rupanya merupakan langkah yang tepat. Pemilik gelar MBA dari American  Institute of Management ini menga-ku banyak pelajaran dan pengalaman yang diperoleh dari segi time management, sistim Key Performance Index (KPI) atau indeks kinerja utama.

Bukan hanya belajar dari jabatan profesionalnya di dunia gas dan minyak, Lia juga menjadikan ibunya sebagai seorang role model yang mengajarkan pentingnya kebersamaan dan tim work dalam rumahtangga. Ibunya yang kini berusia 82 tahun harus hidup mandiri karena ketika  Lia berusia 2 tahun dan adiknya masih bayi, sang ayah seorang pilot AURI pesawatnya jatuh dan meninggal dunia.

“Ibu saya selalu menekankan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga bersama yang secara tidak langsung menanamkan team work diantara anak-anaknya. Sekarang setelah empat anaknya semua menikah, kebersamaan kami masih tetap kuat karena rajin berkumpul dan bersilaturahmi. Kami juga punya bisnis keluarga yaitu usaha jamur tiram di kawasan Gadog, Jawa Barat”

Dia juga ingat pantang membicarakan keburukan orang lain di depan ibunya dan selalu diarahkan untuk berfikir positif sehingga nilai-nilai hidup yang diajarkan sampai sekarang sangat bermanfaat bagi bisnisnya.

“Bisnis yang kami geluti sekarang ini harus bekerja dengan detil dan amanah .Saya bersyukur sosok ibulah yang mengajarkan ilmu manajemen secara alamiah ini dan selama masih ada sifat konsumerisme maka bisnis undian berhadiah ini akan tetap hidup,” kata penggemar olahraga golf ini.

Menyinggung wajahnya yang awet muda, lagi-lagi Lia merujuk peran ibunya yang mendidik anak untuk berfikir positif dan kreatif sejak kecil.Menurut dia, tidak ada resep khusus untuk merawat kecantikan karena hal itu buah dari selalu berpikiran positif saja atas segala yang dilakukan.

“Keseimbangan mind, body and soul di dunia ini sangat penting dan harmoni kehidupan diagonal dan vertikal harus berjalan selaras. Saya hanya berusaha menjaga pola makan sehat dan berserat dan cek kesehatan badan secara rutin. Selama pikiran positif maka inner beauty akan terpancar,”

Keseimbangan hidup pula yang mendorongnya menekuni olahraga sport dance dan golf sebagai penyeimbang kegiatan rutin kantor. “Saya tidak menekuni olah raga yang lain lagi karena olah raga tersebut sudah cukup bagi saya baik dari segi waktu dan uang yang dikeluarkan.  Selain itu juga saya tetap berlatih piano dan gitar klasik.  Saat ini saya mempunyai sekolah music ‘franchised’  Purwacaraka di daerah Ciledug dengan murid saat ini mencapai 200 dan telah berdiri sejak awal 2013,”.

Alumni Universitas Indonesia jurusan Bahasa Inggris ini masih memiliki banyak energy untuk aktivitas lainnya seperti diorganisiasi kemanusian dan sosial seperti Rotary Club Cab Menteng, Anggota Ikatan Seketaris Indonesia (ISI) Cabang Jakarta, Anggota Golfer Club Rawamangun.

“Saya sedikitnya sudah ikut 20 kompetisi golf dan olahraga ini sangat cocok karena mengasah kita untuk disiplin, akurat dalam membidik sasaran, bersikap jujur dan sabar untuk mencapai kemenangan,” kata Finalist Ernst & Young Winning Women Enterpreneurship 2013 dan Finalist BUnda Pariwisata 2013 mengakhiri obrolannya. ([email protected])

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.