25 – 27 Maret 2016, Festival Cheng Beng

0
2929

MEDAN, test.test.bisniswisata.co.id: Luangkan waktu menyaksikan atraksi budaya etnis Tiongkok, yang akan hadir di Kota Medan, Sumatera Utara. Atraksi budaya itu dirangkum dalam kegiatan Festival Cheng Beng, digelar di Taman Kebun Bunga Tjong Yong Hien, Jalan Kejaksaan Medan, pada 25 hingga 27 Maret 2016. Setiap hari Festival akan dimulai pukul 14.00 hingga 21.00.

Cheng Beng, salah satu fenomena sosial-kultural yang telah berlangsung rutin setiap tahun di kota tersebut. Ada 4 kegiatan utama yang akan dilaksanakan, yaitu: pameran warisan Tjong Yong Hien, lomba memetik kecapi, pameran lukisan nasional, dan Festival Jajanan Nusantara.

Di Indonesia Cheng Beng atau Festival Qing Ming (Qing Ming Jie) dikenal sebagai sebuah ritual tahunan etnis Tionghoa dalam bentuk ziarah kubur leluhur ke makam orang tua atau orang-orang yang lebih tua di dalam keluarga.

Festival awalnya memiliki 2 arti yaitu sebagai salah satu dari 24 Jie Qi (24 Musim dan Iklim) dalam Kalender Imlek dan juga merupakan salah satu hari raya terpenting dalam budaya dan tradisi Tionghoa untuk menghormati para leluhur dan sanak keluarga yang telah meninggal dunia. Hari Raya Qing Ming atau Festival Qing Ming (Cheng Beng) biasanya jatuh pada 4 – 6 April setiap tahunnya.

Dalam ritual Chng Beng itu orang akan beramai-ramai pergi ke tempat pemakaman orang tua atau para leluhurnya untuk melakukan upacara penghormatan. Upacara penghormatan ini dilakukan dengan berbagai jenis misalnya saja membersihkan kuburan, menebarkan kertas hingga membakar kertas yang sering dikenal dengan Gincua.

Kertas-kertas itu umumnya terdiri dari dua warna: kuning dan putih. Kertas putih dan kertas kuning diletakkan di atas tanah kubur sebagai tanda simbolik pemberian uang kepada nenek moyang dan memberi penanda bahwa kuburan tersebut telah diziarahi oleh keturunannya.

Seiring dengan perkembangan zaman sosial budaya dan ekonomi masyarakat, tradisi Cheng Beng tidak lagi hanya sebatas menjalanakan ritual ziarah dalam arti yang paling sederhana namun berkembang menjadi arena berkumpul, bertemu dan saling melepas rindu sesama kerabat. Tradisi Cheng Beng telah menjadi fenomena sosial-kultural sebagaimana layaknya mudik lebaran atau mudik natal. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here