24 September – 2 Oktober 2017, Festival Laweyan

0
720

SOLO, Bisniswisata.co,id: Pariwisata kota Solo Jawa Tengah, terus bergeliat. Tak ada kata berhenti untuk berbuat mendatangkan wisatawan nusantara maupun mancanegara. Kini Kelurahan Laweyan, Surakarta menggelar acara Festival Laweyan digelar di Jalan Perintis Kemerdekaan, tepat di Perempatan Solo Putra Ban sampai Pertigaan Pasar Kabangan, pada 24 September hingga 2 Oktober 2017.

Festival yang ketiga kalinya merupakan agenda rutin yang digelar tiap tahun untuk menyemarakkan Hari Batik Nasional. Juga untuk melestarikan batik sekaligus menarik kunjungan wisatawan dalam maupun luar negeri agar berkunjung ke salah satu kampung tertua di Kota Solo. Sehingga kunjungan wisatawan berdampak pada meningkatnya penjualan batik.

Berbagai agenda memeriahkan festival ini, mulai pameran foto-foto lama, workshop soal batik hingga belajar membatik untuk wisatawan yang digelar di kantor kelurahan Laweyan.

Disisi lain, selama festival ada penjualan batik dengan memberikan diskon khusus. Penyelenggara juga menggelar saresehan yang membahas sejarah dan perkembangan Kampung Batik Laweyan. Mulai dari masa kejayaan, masa surut hingga saat ini mulai bergeliat lagi.

Selain melihat perkembangan batik Laweyan, wisatawan juga bisa menikmati keindahan bangunan heritage yang masih banyak ditemukan di kampung Laweyan. Bangunan milik para saudagar batik itu rata-rata masih terjaga keasliannya.

Kampoeng Batik Laweyan merupakan salah satu sentra industri batik dengan luas sekitar 24 ha yang ditata dengan konsep terpadu antara perajin, showroom, dan kedai kuliner. Bangunan-bangunan dengan Arsitektur Jawa Kuno masih terpelihara dengan rapi di kawasan ini. Motif batik yang banyak ditemui di Laweyan antara lain Tirta Teja, Sida Luhur, Sida Mukti, Sekar Jagad dan lainnya.

Kampung Batik Laweyan punya ciri khas warna batik yang terang. Laweyan berdiri sejak 600 tahun lalu. Konon, di desa ini banyak ditumbuhi pohon kapas, bahan baku kain tenun. Desa ini berpusat di Pasar Lawe atau sebutan lain untuk bahan pakaian dan kain tenun. Lama-kelamaan, disebut sebagai Laweyan.

Di Laweyan tinggal para pedagang batik, tak hanya menjual, mereka juga memproduksi batiknya di sini. Hingga kini, Laweyan masih menjadi kampung batik yang dihuni puluhan pengusaha batik. Tak hanya menjalankan usaha, para penduduk Laweyan juga berperan penting dalam sejarah perjuangan Indonesia lho.

Tahun 1935, berdiri koperasi batik pertama. Laweyan ini strategis letaknya, berdiri di atas tanah seluas 40 hektar. Pemegang bisnis batik rata-rata perempuan yang disapa Nyah Nganten. Sejak tahun 2004, dicanangkan sebagai kampung batik Laweyan dan bisa dikunjungi wisatawan. Rumah megah para saudagar batik yang dulu tertutup, perlahan mulai dibuka untuk dikunjungi.

Beberapa rumah menjadi cagar budaya karena sarat nilai sejarah. Mempesona banget deh kita bisa masuk dan ikut merasakan atmosfer kejayaan para saudagar, dengan keuntungan berlimpah pada masanya. Rumah-rumah dibangun sederhana di luar dan megah di bagian dalam. Modelnya pun rata-rata Jawa dan dipengaruhi arsitektur Cina dan Eropa.

Destinasi pertama kami pagi itu adalah balai desa yang jadi pusat informasi kampung batik Laweyan lalu berjalan kaki menuju sebuah rumah cagar budaya di Laweyan. Ada distinasi wisata menarik selama di Laweyan.

01. Dalem Tjokrosoemartan

Merupakan lambang kemakmuran saudagar batik saat itu. Rumah yang dibangun tahun 1915 ini dijadikan bangunan cagar budaya oleh pemerintah. Dimiliki oleh saudagar Tjokrosoemarto. Ia mengekspor batik dan hasil bumi pada tahun 1900 an ke luar negeri melalui pelabuhan Semarang. Luas tanahnya sendiri sekitar 5000 meter persegi.

Rumahnya hingga kini terawat dan bersih. Kerap menjadi tempat resepsi pernikahan. Arsitekturnya cantik dengan ukiran yang indah. Perabotan dalam rumah pun kebanyakan barang antik seperti kursi dan lemari. Terpajang foto-foto pemilik rumah bersama Soekarno yang berkunjung ke Ndalem Tjokrosoemartan. Pak Tjokro juga ikut berjuang bersama saudagar batik Laweyan, menyumbang dana untuk perjuangan Indonesia. Dana dikumpulkan berupa uang dan perhiasan dalam kaleng.

02. Batik Merak Manis

Sebuah gerai batik yang cukup beken di Laweyan. Batik Merak Manis ini cantik dan harganya terjangkau. Di area teras, beberapa perajin sedang asyik membatik. Membatik itu memang butuh ketelatenan

Masuk ke gerai, terpajang berbagai sandang bermotif batik mulai dari kain, daster, kemeja hingga setelan berharga jutaan rupiah. Menelusuri jalan di Laweyan, kita bakal terpesona dengan keindahan pintu-pintu rumah para saudagar batik. Sebagian besar, rumahnya memang tak terlihat karena terhalang tembok tinggi. Menurut warga Solo, pagar tinggi sengaja dibangun agar desain batik yang dikerjakan tidak dicontek pengusaha lain.

03. Makam Pahlawan Nasional KH. Samanhudi

Tahun 1905, seorang saudagar batik KH. Samanhudi berinisiatif mendirikan Serikat Dagang Islam di Solo untuk mempersatukan para pedagang muslim untuk menghadapi Belanda yang kian menguasai keraton saat itu. Dengan mendirikan SDI, para pengusaha pribumi punya posisi tawar lebih.

Samanhudi yang lahir di Laweyan 08 Oktober 1858. Walau hanya tamat SD, ia sangat pandai berbisnis juga rajin menimba ilmu di berbagai pesantren. Atas jasanya, beliau diberi penghargaan oleh Ir. Soekarno berupa gelar Pahlawan Pergerakan Nasional pada tahun 1961 dan sebuah rumah di Laweyan yang dihuni keluarganya hingga kini.

Samanhudi meninggal di Bandung tahun 1956 pada usia 87 tahun. Ia dikebumikan di Banaran, Sukoharjo ini, kembali ke kampung halamannya. Makamnya di sebuah pemakaman umum sederhana di Laweyan. Jasadnya dikebumikan bersebelahan dengan istri tercintanya.

04. Ledre Pisang Laweyan
Kedai ledre pisang Bu Sri Martini berada di sebuah lorong kecil. Penganan ini terbuat dari beras ketan, kelapa muda dan pisang raja dan dibakar di atas loyang. Ia berjualan sejak tahun 1984 dan cukup terkenal karena kelezatannya.

05. Batik Mahkota Laweyan

Sebuah galeri batik, juga untuk workshop hingga museum batik. Bahkan Ada pertunjukan wayang dan pembuatan Quran batik.

06. Apem Dudy Laweyan

Selain ledre, apem Dudy juga ngehits di Laweyan. Selain bisa dimakan langsung juga untuk oleh-oleh. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here