2016, Dana Promosi Pariwisata Indonesia ke Luar Negeri Rp 2,95 Triliun

0
2327
Promosi wisata Indonesia ke luar negeri (Foto: dok)

BULELENG, test.test.bisniswisata.co.id: DANA promosi pariwisata Indonesia ke luar negeri pada tahun 2016 mencapai Rp 2,95 triliun. Jumlah ini mengalami peningkatan jika dibandingkan tahun 2015 hanya sekitar Rp 1,15 triliun.

“Setengah dari kenaikan anggaran promosi luar negeri akan dialokasikan ke upaya branding pariwisata Indonesia,” papar Deputi Bidang Pengembangan Pariwisata, Kementrian Pariwisata, I Gde Pitana saat berkunjung di Kabupaten Buleleng, Bali, Jumat (27/11/2015).

Dilanjutkan, jika 50 persen dialokasikan ke fokus branding dengan seperti logo Wonderful Indonesia yang jadi branding pariwisata Indonesia dibuatkan logo dan ditempel di berbagai media seperti taksi, kereta api atau membuat spot iklan televisi yang menampilkan logo tersebut.

Selain alokasi diarahkan ke branding, 30 persen untuk advertising dan 20 persen untuk selling. “Kenapa biaya branding lebih mahal? Karena untuk pasang iklan di televisi di luar negeri memang mahal. Kenapa untuk selling lebih murah? Karena selling adalah tugas swasta (pelaku pariwisata),” tambahnya.

Ke depan, tambah Pitana, dengan anggaran yang tinggi dan juga pemberlakuan bebas visa kunjungan wisatawan asing, diharapkan akan meningkatkan kunjungan wisatawan setidaknya 15 persen. Lebih lagi untuk mencapai target kunjungan wisata sebanyak 20 juta orang pada tahun 2019 dengan mendongkrak penerimaan devisa hingga US$ 20 miliar.

Berdasarkan data, pada awal tahun 2015 hanya 15 negara yang bebas visa, hingga Nopember 2015 sudah ada 90 negara. Sampai akhir tahun 2015 akan ada penambahan 20 negara yang memperoleh bebas visa, termasuk negara Eropa Timur. Sehingga sepanjang tahun 2015, jumlah negara yang akan menikmati bebas visa kunjungan mencapai total 110 negara. Negara yang tidak memperoleh bebas visa adalah negara-negara yang aktif melakukan perdagangan narkotika dan memiliki pemahaman ekstrim yang berpotensi menyebar ke Indonesia.

Selain menambah negara yang mendapat fasilitas bebas visa, pemerintah juga melonggarkan ketentuan izin kapal pesiar untuk singgah di Indonesia. Jika sebelumnya proses pemberian izin bisa berbulan-bulan lama, bahkan berbelit-belit akan dipercepat menjadi beberapa hari saja.

Begitu juga dengan izin sandar kapal jenis yacht. Dengan kemudahan ini, ditargetkan jumlah kunjungan kapal wisata asing mulai tahun 2016 bisa mencapai 3.000 kapal dan tahun 2019 bisa mencapai 5.000 kapal.

Dalam lima tahun ke depan, pemerintah juga akan mengembangkan 10 kawasan pariwisata di luar Bali. Kesepuluh tempat wisata itu antara lain Danau Toba, Kepulauan Seribu, Candi Borobudur, Gunung Bromo, Mandalika, Labuan Bajo, Lombok Selatan, dan Raja Ampat. Untuk itu pemerintah akan membentuk Badan Otoritas Pariwisata. Rizal menargetkan sebelum tahun 2015 berakhir Badan Otoritas Pariwisata ini sudah akan mulai bisa beroperasi.

Pelabuhan Untuk Kapal Cruise Berbendera Asing
Pelabuhan Tanjung Priok (Jakarta)
Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya)
Pelabuhan Belawan (Medan)
Pelabuhan Soekarno-Hatta (Makassar)
Pelabuhan Benoa (Bali)

Pelabuhan Yang Dibuka Untuk Kapal Yacht
Pelabuhan Sabang (Aceh)
Pelabuhan Belawan (Medan)
Pelabuhan Teluk Bayur (Padang)
Pelabuhan Nongsa Point Marina (Batam)
Pelabuhan Bandar Telani Bintan (Tanjung Pandan)
Pelabuhan Sunda Kelapa (Jakarta)
Marina Ancol (Jakarta)
Pelabuhan Benoa (Bali)
Pelabuhan Tenau (Kupang)
Pelabuhan Kumai (Kota Waringin Barat)
Pelabuhan Tarakan (Tarakan)
Pelabuhan Nunukan (Bulungan)
Pelabuhan Bitung (Bitung)
Pelabuhan Ambon (Ambon)
Pelabuhan Saumlaki (Saumlaki)
Pelabuhan Tual (Tual)
Pelabuhan Sorong (Sorong)
dan Pelabuhan Biak (Biak). (*/ndy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.