20 – 21 Juli 2016, Yadnya Kasada di Bromo 2016

0
1669
Yadnya Kasada di Bromo Foto: www.bbc.co.uk)

PROBOLINGGO, test.test.bisniswisata.co.id: Hari Raya Yadya Kasada Suku Tengger di Gunung Bromo, Probolinggo Jawa Timur, merupakan perayaan hari besar dan upacara peribadatan umat hindu tengger bromo, yang melaksanakan sebuah ritual sesembahan berupa persembahan sesajen hasil bumi kepada Sang Hyang Widhi. Yadnya Kasada diselenggarakan setiap bulan Kasada hari-14 dalam Penanggalan Jawa. Upacara Kasada Bromo Tahun 2016 jatuh pada 20 Juli – 21 Juli 2016.

Upacara Kasada Bromo dilaksanakan dengan acara adat upacara persembahan untuk Sang Hyang Widhi dan para leluhur, konon seperti cerita legenda Gunung Bromo mengisahkan sebuah drama percintaan antara Rara Anteng (Putri Raja Majapahit) dan Jaka Seger (Putra Brahmana), asal usul nama suku Tengger Bromo diambil nama belakang keduanya.

Upacara Kasada berawal kisah pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger, saat itu membangun pemukiman dan memerintah di kawasan Tengger Gunung Bromo dengan sebutan Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger, yang mempunyai arti “Penguasa Tengger yang Budiman”.

Sayang, mereka tak dikarunia anak sehingga mereka semedi atau bertapa kepada Sang Hyang Widhi, tiba-tiba ada suara gaib mengatakan semedi mereka terkabul, tapi dengan syarat bila mendapatkan keturunan, anak yang bungsu harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo.

Hingga saat ini acara atau upacara sesajian masih terus berlangsung saat bulan kasada, namun sesajian yang dipakai saat ini berupa hasil bumi masyarakat adat suku tengger setempat seperti hasil bumi wortel, kubis, kentang, juga ternak kambing, ayam, uang dan lainnya.

Saat semedi di Gunung Bromo, pasangan Roro Anteng dan Jaka Seger menyanggupinya dan punya 25 orang putra-putri, namun naluri orangtua tetaplah tak tega, bila kehilangan putra-putrinya. Pendek kata pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger ingkar janji, Dewa marah dengan mengancam menimpakan malapetaka. Terjadilah prahara keadaan menjadi gelap gulita, dan kawah Gunung Bromo menyemburkan api.

Kesuma, anak bungsunya lenyap dari pandangan terjilat api dan masuk ke kawah Bromo, bersamaan hilangnya Kesuma terdengarlah suara gaib: “Saudara-saudaraku yang kucintai, aku dikorbankan oleh orangtua kita dan Sang Hyang Widhi menyelamatkan kalian semua. Hiduplah damai dan tenteram, sembahlah Sang Hyang Widhi. Aku ingatkan agar kalian setiap bulan Kasada pada hari ke-14 mengadakan sesaji kepada Sang Hyang Widhi di kawah Gunung Bromo”.

Kebiasaan ini diikuti turun temurun oleh masyarakat Tengger. Setiap tahun digelar upacara Kasada di Poten lautan pasir dan kawah Gunung Bromo. Sebagai pemeluk agama Hindu, Suku Tengger tak seperti pemeluk agama Hindu umumnya, memiliki candi sebagai tempat peribadatan, namun bila lakukan peribadatan di punden, danyang juga poten.

Poten merupakan sebidang lahan di lautan pasir sebagai tempat berlangsungnya upacara Kasada. Sebagai tempat pemujaan bagi masyarakat Tengger yang beragama Hindu, poten terdiri beberapa bangunan yang ditata dalam suatu susunan komposisi di pekarangan menjadi tiga mandala/zone.

1. Mandala Utama

Mandala Utama disebut jeroan yaitu tempat pelaksanaan pemujaan persembahyangan. Mandala terdiri Padma berfungsi tempat pemujaan Tuhan Yang Maha Esa. Padma bentuknya serupa candi yang dikembangkan lengkap dengan pepalihan, tak pakai atap terdiri bagian kaki disebut tepas, badan/batur dan kepala disebut sari dilengkapi Bedawang, Nala, Garuda, dan Angsa.

Beawang Nala melukiskan kura-kura raksasa mendukung padmasana, dibelit oleh seekor atau dua ekor naga, garuda dan angsa posisi terbang di belakang badan padma yang masing-masing menurut mitologi melukiskan keagungan bentuk dan fungsi padmasana.

Bangunan Sekepat (tiang empat) lebih besar letaknya di bagian sisi sehadapan dengan bangunan pemujaan atau padmasana, menghadap ke timur atau sesuai orientasi bangunan pemujaan dan terbuka keempat sisinya. Fungsinya penyajian sarana upacara atau aktivitas serangkaian upacara. Bale Pawedan serta tempat dukun sewaktu melakukan pemujaan.

Kori Agung Candi Bentar, bentuknya mirip tugu kepalanya memakai gelung mahkota segi empat atau segi banyak bertingkat-tingkat mengecil ke atas dengan bangunan bujur sangkar segi empat atau sisi banyak dengan sisi-sisi sekitar depa alit, depa madya atau depa agung. Tinggi bangunan sampai sekitar 100 meter memungkinkan pula dibuat lebih tinggi dengan memperhatikan keindahan proporsi candi.

2. Mandala Madya

Mandala Madya atau jaba tengah, tempat persiapan dan pengiring upacara terdiri Kori Agung Candi Bentar, bentuknya serupa tugu, kepalanya memakai gelung mahkota segi empat atau segi banyak bertingkat-tingkat mengecil ke atas dengan bangunan bujur sangkar, segi empat atau segi banyak sisi-sisi sekitar satu depa alit, depa madya, depa agung.

Bale Kentongan, disebut bale kul-kul letaknya di sudut depan pekarangan pura, bentuknya susunan tepas, batur, sari dan atap penutup ruangan kul-kul/kentongan. Fungsinya untuk tempat kul-kul yang dibunyikan awal, akhir dan saat tertentu dari rangkaian upacara. Bale Bengong, disebut juga pewarengan suci letaknya di antara jaba tengah/mandala madya, mandala nista/jaba sisi.

Bentuk bangunannya empat persegi atau memanjang deretan tiang dua-dua atau banyak luas bangunan untuk dapur. Fungsinya untuk mempersiapkan keperluan sajian upacara yang perlu dipersiapkan di pura umumnya jauh dari desa tempat pemukiman.

3. Mandala Nista

Mandala Nista disebut jaba sisi yaitu tempat peralihan dari luar ke dalam pura yang terdiri dari bangunan candi bentar/bangunan penunjang lainnya. Pekarangan pura dibatasi oleh tembok penyengker batas pekarangan pintu masuk di depan atau di jabaan tengah/ sisi memakai candi bentar dan pintu masuk ke jeroan utama memakai Kori Agung.

Tembok penyengker candi bentar dan kori agung ada berbagai bentuk variasi dan kreasinya sesuai dengan keindahan arsitekturnya. Bangunan pura pada umumnya menghadap ke barat, memasuki pura menuju ke arah timur demikian pula pemujaan dan persembahyangan menghadap ke arah timur ke arah terbitnya matahari.

Upacara Kasada Gunung Bromo 2016 sebagai Acara Ceremony Adat Suku Tengger Bromo yang sangat ditunggu banyak wisatawan nusantara maupun mancenagara, yang ingin berkunjung Ke Gunung Bromo dan menikmati sebuah ritual adat kasada bromo yang hanya bisa ditemukan di gunung Bromo.

Upacara adat ini digelar di Pura Luhur Poten, tepat di kaki Gunung Bromo, pada tengah malam hingga dini hari. Acara ritualnya mengangkat dukun atau tabib yang ada di setiap desa di sekitar Gunung Bromo. Dalam festival ini suku Tengger akan melemparkan sesajen

Sebelum Upacara Kasada Bromo dilangsungkan, calon dukun dan tabib akan menyiapkan beberapa sesaji untuk
dipersembahkan dengan cara melemparkannya ke kawah Gunung Bromo. Persembahan sesajen ini dilakukan beberapa hari sebelum upacara.

Mereka juga harus melalui tes pembacaan mantra terlebih dahulu saat upacara berlangsung sebelum dinyatakan lulus dan diangkat oleh tetua adat. Peran dukun atau tabib badi suku Tengger sangat kuat karena dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan masalah yang dialami oleh masyarakatnya. Tabib ini dapat melafalkan mantra-mantra kuno Hindu.

Menariknya, di dalam kawah ternyata telah menunggu banyak pengemis dan penduduk tengger yang tinggal di pedalaman. Uniknya mereka jauh-jauh hari sudah tiba di sini bahkan sengaja mendirikan tempat tinggal sementara di sekitar Gunung Bromo dan berharap mendapatkan ongkek-ongkek yang berisi sesajen berupa buah-buahan, hewan ternak, juga uang. Menarik bukan? ([email protected])

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.