Pembukaan ITCEF 2015 Kedepan Peserta BPPD akan Diperbanyak

0
1015
Menpar Arief Yahya saat memberikan sambutan pada acara pembukaan pameran ITCEF 2015 di JCC, Jumat (16/10/15).

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Untuk keempat kalinya Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI) dan Kementerian Pariwisata menggelar pameran ITCEF. Kegiatan yang berlangsung pada 16-18 Oktober di JCC, Jakarta ini membuktikan bila pariwisata bisa menghasilkan devisa tertinggi buat Tanah Air.

“Pariwisata disebut cultural industri karena 60 persen cultural, 30 persen nature, dan sisanya mainmade. Di tahun 2020 saya yakin pariwisata Indonesia bisa menjadi penghasil devisa tertinggi, ini terbukti dengan dihadirkan ITCEF 2015,” ujar Menteri Pariwisata, Arief Yahya dalam sambutannya saat membuka pameran ITCEF 2015 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Jumat (16/10/15).

Arief mengatakan, “Ekonomi kreatif memiliki nilai value yang tinggi untuk pariwisata. Bahkan termasuk dalam cultural industri”.

Pariwisata Indonesia menurutnya memperlihatkan kenaikan okupansi, dan promosinya sudah efektif. “Dulu Branding wonderful Indonesia tidak dikenal dunia, dari 141 negara dan sekarang menjadi nomor 47 dunia,” ungkapnya.

Arief menegaskan, “Promosi yang kita lakukan di tahun 2015 hasilnya di tahun 2016, maksimum di akhir 2016. Promosi itu adalah investasi jangka panjang. Tahun ini target 12 juta wisman sudah tercapai, wisnus sampai dengan Agustus sudah mencapai 150 juta”.

“Saya optimistis tahun mendatang bisa melewati Malaysia. Saya pastikan tahun depan Truly Asia pasti lewat karena branding adalah janji kepada costumer. Saya promosikan Indonesia tidak akan takut karena Indonesia kaya akan keindahan makanya saya garansi Indonesia bisa melewati Truly Asia,” tegasnya.

Lebih lanjut Menpar menambahkan, “Tenaga kerja di bidang pariwisata Indonesia saat ini yang memiliki sertifikat standar ASEAN mencapai 125.000 orang. Setiap tahun 25.000 SDM pariwisata Indonesia memiliki sertifikat ASEAN”.

SDM pariwisata Indonesia ketika diberlalukakannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2016, bisa bekerja di negara-negara ASEAN.

Bekerja di luar negeri seperti Singapura menurutnya gajinya mencapai US $ 45 ribu/bulan, jauh di atas gaji di Indonesia sebesar US $ 5 ribu per bulan. Orang bekerja akan mencari gaji yang lebih besar. “Jadi jangan khawatir, SDM negara lain tidak akan masuk ke Indonesia karena gaji di Indonesia kecil,” ungkapnya.

“SDM pariwisata Indonesia banyak yang bekerja di luar negeri, ini dibuktikan, 30 persen lulusan Sekolah Tinggi Pariwisata bekerja di luar negeri,” tegas Arief.

Sementara itu Ketua Umum BPPI, Wiryanti Sukamdani mengatakan, “Pada ITCEF ke-4 ini beberapa Badan Promosi Wisata Daerah (BPPD) ikut serta dalam pameran. Ke depan, diperbanyak dilakukan di daerah. Daerah merupakan pusat keragaman budaya yang menjadi unggulan Indonesia”.

“Para pengunjung bisa mendapatkan ide liburan ke berbagai destinasi dalam negeri, sampai berburu promo penerbangan dan penginapan murah. Terlebih lagi masuk ke ITCEF tidak dipungut biaya alias gratis, dengan waktu pameran mulai pukul 10.00-20.00 WIB,” ujarnya.

Yanti menambahkan, “Begitu banyak potensi dan kekayaan yang dimiliki Indonesia, dalam berbagai bidang. Untuk semakin memperkenalkan hal tersebut melalui pameran ini”.

Salah satu peserta pameran ITCEF, yakni BPPD Kabupaten Siak menjadi daya tarik untuk mengetahui lebih lanjut. Melalui Siak Tourism Board, Kabupaten Siak menampilkan berbagai destinasi wisata, seperti Kerajaan Siak, Jembatan Siak, dan berbagai ragam budaya khas Siak Sri Indrapura Provinsi Riau.

“Kunjungan wisatawan ke Kabupaten Siak mencapai 55.000 pada 2014. Wisman yang datang ke Siak umumnya dari Singapura, Malaysia, dan Arab Saudi. Pameran ini sangat membantu kami, karena untuk dikenal di dunia luar memang sangat diperlukan promosi,” ujar Sekretaris Siak Tourism Board, Juwana kepada Bisniswisata.co.id.

Selain Tour de Siak yang menjadi ajang internasional tahunan, menurutnya Siak juga punya ikon baru, yakni Jembatan Siak. “Umumnya yang lebih terkenal wisata di Siak, yakni wisata religi, karena Siak identik dengan Kerajaan Melayu atau Islam,” tambah Juwana. (evi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.