10 Bandara Ditawarkan Investor

0
713
Bandara Sentani Jayapura

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Pertumbuhan pesat industri penerbangan Tanah Air seharusnya diimbangi dengan infrastruktur kebandarudaraan yang modern dan berkelas dunia. Apalagi, pemberlakuan pasar tunggal penerbangan ASEAN (ASEAN Single Aviation Market) akan dimulai tahun depan.

Direktur Utama PT Angkasa Pura I Tommy Soetomo mengatakan, tren global dunia penerbangan di kawasan Asia Pasifik dan kawasan Timur Tengah menunjukkan peningkatan trafik penumpang pesawat udara yang melonjak signifikan, termasuk Indonesia.

Sayangnya, di Indonesia masih banyak bandara kecil dengan jumlah penumpang kurang dari 5 juta per tahun, dengan posisi yang tertinggal jauh oleh bandara kelas dunia.

“Bandara kecil ini biasanya memiliki struktur bisnis yang tidak sehat, sehingga diperlukan perbaikan-perbaikan, tidak hanya optimalisasi, tetapi juga membutuhkan transformasi secara keseluruhan,” kata Tommy, dalam siaran pers yang diterima redaksi di Jakarta, Kamis (23/10/2014).

Menurutnya, agar Indonesia mampu berpacu dengan layanan kelas dunia tentu harus memiliki infrastruktur kebandarudaraan yang juga bertaraf internasional, tidak hanya fisik, tetapi juga kualitas pelayanannya.

Saat ini, Indonesia memiliki lebih dari 200 bandara yang berkapasitas besar dan kecil, dengan 26 bandara di antaranya dikelola PT Angkasa Pura I dan II. Sisanya, dikelola berdasarkan kerja sama pemerintah pusat dan daerah.

“Nah, bandara yang dikelola pemerintah seperti bandara perintis dan kecil rencananya dilepas untuk dikelola swasta. Inilah momentum Indonesia bisa menyajikan potensi untuk dilirik investor,” katanya.

Sepuluh bandara yang tengah ditawarkan kepada pihak swasta dan asing untuk pengelolaannya yakni Bandara Radin Inten II Bandar Lampung, Mutiara Palu, Sultan Babullah Ternate, Komodo Labuan Bajo, Sentani Jayapura, Juwata Tarakan, Tjilik Riwut Palangkaraya, Fatmawati Soekarno Bengkulu, Hananjoedin Tanjung Pandan, dan Bandara Matahora Wakatobi.

Diakui, kebijakan ASEAN Open Skies yang akan di­laksanakan pada 2015 dan Global Open Skies pada 2025 tentu secara langsung akan memengaruhi bandara, khususnya di kawasan Asia Pasifik dan Timur Tengah. Apalagi ditunjang perkembangan ekonomi di Asia Pasifik dan Timur ­Tengah yang menunjukkan tren positif.

“Bandara kecil memang memiliki tantangan tersendiri untuk berkembang, terutama dari segi finansial. Mereka mau tidak mau harus bersaing dengan bandara-bandara besar dalam menghadapi kebijakan-kebijakan tersebut,” kata Direktur Ekonomi dan Pengembangan Program Airport Council International (ACI) World Rafael Echevarne. (marcapada@yahoo.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here