Zane Thomas Redman, Tokoh di Balik Popularitas Krui Sebagai Tujuan Wisata Minat Khusus Selancar

0
1056

KRUI,Lampung, test.test.bisniswisata.co.id: Usai jumatan dan kerja bakti akibat hantaman rob air laut yang nyaris  menjamah rumah kayunya, Zane Thomas Redman buru-buru memakai jubah panjangnya ketika saya datang bersama Dewi Nurani dan Umi Ratna.

Pria yang tengah membahas  banjir  rob akibat air laut pasang bersama istri dan anak-anaknya ini menerima kedatangan tamunya dengan ramah.  Dibantu tamu asingnya, mereka baru saja menyusun barikade karung-karung pasir untuk melindungi hantaman air di samping  pondok kayunya .

Selama bulan Mei lalu, ujarnya, air laut tidak pernah surut karena adanya tekanan angin yang membuat gelombang jadi lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.“Hampir semua pondok dan hotel-hotel di sepanjang Pesisir Barat, Krui, Lampung ini terkena air pasang rob sehingga banyak pohon di halaman pondok di tepi pantai  tumbang atau tergerus air laut dan pohonnya jadi miring,” kata Zane Thomas Redman, pemilik hotel Zandino, Krui surf Camp.

Pria  berusia 49 tahun asal California, Amerika Serikat  ini bercerita bahwa tamu-tamunya adalah para pemburu ombak ( surfer) dari berbagai belahan dunia. Siang itu saya bertemu dengan tamunya dari  Afrika Selatan dan dari Australia yang asyik melahap sayur lodeh, telor balado, tempe goreng dan kerupuk sebelum mereka bersiap untuk berselancar ke Tanjung Setia, salah satu spot surfing ( selancar air) di Krui, ibukota Kabupaten Pesisir Barat.

Para peselancar umumnya rela menempuh ratusan kilometer dan terbang antar benua demi bisa tiba di Krui. Kalau tiba di Jakarta hari Rabu para surfer dunia itu sebenarnya tinggal  mengikuti penerbangan regular dari Bandara Soekarno Hatta selama 35 menit. Transit di Bandara Raden Inten II Bandar Lampung dan bisa melanjutkan penerbangan dengan Susi Air dan mendarat di Bandara Serai, Krui setelah menempuh perjalanan udara hanya 30 menit.

Zane ( bertelanjang dada) bersama tamu dan pegawainya makan bersama.
Zane ( berjanggut) bersama tamu dan pegawainya makan bersama.

Sayangnya perusahaan penerbangan itu hanya terbang setiap hari Rabu saja sehingga dalam seminggu Bandara Serai hanya melayani satu kali penerbangan. Susi Air juga mengenakan tarif papan seluncur para surfer  US$100 per papan sementara seorang surfer bisa membawa 2-3 papan setiap datang dengan lama tinggal sekitar satu bulan.

“Ombak di Krui ini lengkap dari berbagai tingkatan dan cukup ganas sehingga kalau turis hanya bawa satu papan lalu patah maka sulit mendapatkan papan pengganti karena di sini baru ada satu surf shop makanya mereka membawa papan minimal dua/ orang,” jelasnya.

Itulah sebabnya dari Bandara Raden Inten Bandar Lampung, para peselancar dunia biasanya menempuh    jalur darat sejauh 250 km selama 5-6 jam untuk tiba di Krui melalui  kota Agung , Kabupaten Tanggamus lalu menembus rangkaian dataran tinggi Taman Nasional Bukit Barisan.

Krui sejak dulu sudah menjadi kota kecil yang dilewati jalur lintas barat Sumatra menuju provinsi lainnya seperti Bengkulu, Sumatra Barat hingga Aceh. Awalnya kabupaten termuda ini masuk wilayah Provinsi Bengkulu. Namun setelah tahun 1960 an karena lebih dekat ke Lampung jadi masuk provinsi Lampung.

Panggilan jiwa

Berkontribusi sebagai pelopor  akomodasi tepi pantai bagi wisatawan mancanegara di Krui,  Zane bercerita dia membangun hotel Mutiara Alam Zandino atau dikenal dengan nama Hotel Zandino sejak tahun 1998 memenuhi panggilan jiwanya dan latar belakang pendidikannya yang akrab dengan alam terbuka.

“Saat itu lagi krisis moneter dan saya mendapat warisan uang dari orangtua di Amerika sehingga harga satu hektar tanah tepi pantai tempat hotel Zandino ini berdiri harganya setara US$ 1000,” jelasnya.

Memulai usaha saat krismon memang ada plus minusnya, namun Zane dibantu istrinya, Dewi yang dinikahinya tahun 1995 di Jakarta optimistis potensi pantai-pantai Krui yang indah cocok untuk wisata selancar bisa menghidupi keluarganya.

Apalagi sejak tahun 1960 an Krui sudah dikenal di Eropa sebagai surga bagi peselancar air dan tiga gelombang ombak yang populer di SelatanKrui antara lain Pantai Mandiri, Pantai Ujung Bocur, Tanjung Setia  dan Pantai Way Jambu untuk berselancar dengan tantangan yang berbeda-beda.

Setelah membeli tanah dia lalu membangun pondok-pondok kayu ( cottage) dan tinggal dibangunan utama yang juga berisi kamar-kamar yang disewakan untuk tamu. Untuk gelombang-gelombang ombak yang pendek tamu-tamunya bisa melakukannya dipantai depan hotel atau cukup berjalan kaki kearah Labuhan Jukung. Namun tahun pertama beroperasi tamunya hanya tiga orang.

Tahun ke dua beroperasi tamunya baru dapat 10 orang/tahun  dan  ditahun ke tiga mencapai 30 orang sampai akhirnya bisa mencapai 150 orang/tahun. “Cara mendapatkan tamu biasanya dari mulut ke mulut belum bisa menggunakan komunikasi modern seperti internet apalagi setelah itu pada 2001 ada tragedy WTC, kasus SARS di China di susul lagi tragedi bom Bali membuat kunjungan wisatawan menurun drastis,” tuturnya.

bangunan utama Hotel Zandino dikelilingi pondok-pondok lainnya .
Bangunan utama Hotel Zandino dikelilingi pondok-pondok lainnya .

Minimnya infrastruktur mulai dari jalan, listrik, telekomunikasi dan akses udara tidak pernah menciutkan nyalinya untuk mengembangkan usaha penginapan ini. Sarjana lulusan University of Amerika yang mendalami Environement dan Ecotourism ini justru makin semangat membangun Krui supaya menjadi surga para surfer dunia.

“Krui sudah dikenal sebagai spot surfing dari tahun 1960an karena peselancar bisa datang sepanjang tahun untuk menikmati gelombang ombak. Biasanya musim hujan dan cuaca yang kurang mendukung hanya tiga bulan saja dari Desember sampai Februari, tapi sekarang sepanjang Mei saja air laut pasang terus,” jelasnya.

Normalnya periode bulan April-Agustus adalah waktu terbaik untuk surfing di Krui, namun perubahan cuaca dan adanya pemboman ikan membuat karang-karang menjadi rusak dan bencanapun datang.

Untungnya para peselancar adalah tipe wisatawan yang akrab dengan alam dan suka wisata petualangan sehingga selain surfing banyak aktivitas yang dilakukan seperti melongok air terjun di Taman Nasional Bukit Barisan, memancing, mengamati burung ( bird watching), menjelajah kebun damar, kopi, coklat, cengkeh atau snorkeling di Pulau Pisang di seberang Krui.

Bapak tiga anak ini mengatakan membangun bisnis akomodasi di Krui harus memiliki passion yang tinggi dan Zane siap hidup sederhana atau berubah profesi jadi guru bahasa Inggris saat bisnisnya harus tiarap.

“Tahun 1993 saya ikut program international study tentang lingkungan dan tinggal selama 8 bulan dengan mahasiswa dari berbagai negara di Belise, negara kecil di Amerika Tengah. Nama Indonesia dikenal dari dosen dan akhirnya setelah tamat kuliah saya langsung ke Indonesia,” tuturnya.

Pengalaman magang dan berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai negara membuatnya mudah beradaptasi dengan masyarakat Indonesia yang umumnya dikenal ramah tamah. Awal kedatangannya di Indonesia tahun 1994 adalah jadi  guru Bahasa Inggris (native speaker) disebuah kursus Bahasa Inggris dan sebagai kontributor Harian Jakarta Post.

“Gempa bumi di Liwa  tahun 1994 dan adanya gajah mati yang mendorong awal mulanya menginjakkan kaki di Lampung. Setelah membuat tulisan laporan gempa Liwa, saya naik bus ke Krui dan selama lima hari merasa damai bermain di pantai,”.

Zane  bercerita kunjungan pertama kalinya sebagai bujangan ke Krui dan bertemu dengan Steven, surfer dari Australia yang ditemuinya di Losmen Gembira di pusat kota Krui kelak mengubah jalan hidupnya.  Steven dan teman-temannya lalu mengajarkannya berselancar sehingga akhirnya Zane jatuh cinta dengan pemandangan alam dan potensi Krui sebagai tempat peselancar dunia.

Love Story

Suatu hari sepulang  mengajar di sebuah kursus Bahasa Inggris di Hotel Wisata yang kini sudah menjadi kompleks mall Grand Indonesia, Jakarta,  Zane nongkrong di Sarinah Thamrin dan berkenalan dengan Dewi yang kini menjadi istrinya. Setahun kemudian mereka menikah dan Zane menjadi seorang muslim .

Ketika menikah dia sudah berpesan pada istrinya bahwa dia lebih suka hidup di alam terbuka daripada dikota besar dengan lingkungan hutan beton. Oleh karena itu Dewi harus siap-siap mendampinginya tinggal di luar Jakarta.

“Saya akhirnya meminta Dewi ikhlas mendampingi saya hidup di Krui, mula-mula kami mengontrak rumah dulu dan setelah itu barulah mendapat lahan di tepi pantai untuk membuat cottage. Jalan masuk ke pantai masih seperti hutan dan keinginan yang kuat membangun pariwisata Krui membuat semua hambatan dan rintangan bisa dilalui karena keluarga di Amerika mendukung dan saya dapat warisan dari papa,” jelasnya.

Dia memboyong  Zandino Redman, 19 tahun, yang namanya dipakai untuk nama hotel dan di Krui inilah lahir putri keduanya ,  Sarahdina Maria Redman, 14 tahun di susul Alexander Triyono Redman, 13 tahun. Untuk pendidikan dia mengirim anak-anaknya sekolah di Bandar Lampung dan setiap liburan anak-anak pulang kampung ke Krui.

Zane Thomas Redman, mendedikasikan sisa hidupnya untuk pariwisata Krui ( foto: Hilda)
Zane Thomas Redman, mendedikasikan sisa hidupnya untuk pariwisata Krui ( foto: Hilda)

Di Krui yang tiga tahun terakhir menjadi Kabupaten Pesisir Barat inilah Zane Thomas Redman berharap pemerintahan sekarang bisa memfokuskan pembangunan pariwisata sehingga Krui akan sejajar dengan Bali dan Lombok sebagai destinasi wisata minat khusus.

“Dari dulu susah sekali meyakinkan pejabat daerah bahwa pariwisata bisa mendongkrak Pemasukan Asli Daerah ( PAD) Krui asal fokus buat infrastruktur, punya brosur dan website yang bagus dan menyiapkan industri pendukung dan kesediaan listrik yang memadai,” jelasnya.

Dia mengaku menaruh harapan besar pada Bupati Kabupaten Pwsisir Barat Agus Istiqlal yang baru menjabat 4 bulan terakhir untuk segera mengatasi masalah listrik  yang sampai sekarang masih mengganjal karena tidak ada terobosannya. Listrik baru bisa dinikmati hotel Zandino tahun 2006 dan dia selalu andalkan  genset untuk penerangan.

“Kalau mau ada terobosan Bandar udara Serai dilelang untuk penerbangan lain bukan monopoli satu penerbangan. Buka supaya penerbangan lain seperti Garuda yang bisa menggratiskan bawa papan seluncur juga melayani jalur Bandar Lampung- Serai. Untuk listrik pakai tekhnologi angin dan matahari,” katanya panjang lebar.

Angin dan matahari adalah anugerah Tuhan yang tidak terbatas yang tidak pernah habis-habisnya sejak bumi ini diciptakan sampai sekarang. Dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat saat ini manusia mulai menciptakan pembangkit listrik tenaga angin dan matahari dimana sangat cocok untuk wilayah pesisir pantai yang memiliki cuaca yang berubah-ubah.

Kondisi Negara Kepulauan Republik Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau kecil dan dihuni oleh masyarakat pesisir memiliki tingkat ekonomi dan sosial budaya sangat memprihatinkan, salah satu penyebab utama minimnya ekonomi dan sosial budaya masyarakat pesisir adalah karena tidak adanya listrik. seperti di Krui, Lampung.

Dia yakin jika pemerintahan baru fokus pada pariwisata dan perikanan yang menjadi aset utama Pemkab Pesisir Barat maka bisa membuat terobosan-terobosan lainnya. Zane bersyukur kunjungan wisatawan mancanegara yang datang dengan minat khusus berselancar adalah tipe wisatawan yang biasa hidup apa adanya dan punya sisi positif yang dapat diarahkan sebagai duta-duta wisata Krui.

“Mereka yang datang dari mancanegara suka bertanya mengapa kalau di rumah saya memakai jubah. Nah setelah diterangkan bahwa saya muslim dan mereka mengajak diskusi tentang Islam  maka saya layani dengan memberikan gambaran bahwa agama yang saya anut sekarang tidak identik dengan teroris,” ungkapnya.

Zane lalu bercerita betapa lemah lembutnya Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya dalam melakukan syiar agama Islam. Dia bahkan mampu menceritakan cara makan, minum yang diajarkan nabi Muhammad dan gaya hidupnya yang bisa diikuti semua makhluk beragama.

Alhasil dari pencerahan yang diberikannya itu rasa persaudaraan diantara Zane dan keluarga bersama tamu-tamunya menjadi erat. Tamu-tamu bulenya tahu bagaimana cara berpakaian yang benar dan menghormati tradisi dan budaya yang berlaku di Krui.

“Saya juga memperpanjang lama tinggal mereka di Krui dengan mendorong mereka surfing ke spot-spot lain yang ada meskipun akhirnya mereka hanya tinggal 1-2 hari di Hotel Zandino tapi teman-teman lain yang membuka usaha pondokan juga bisa hidup dari tamu-tamu yang saya kirim,” katanya dengan semangat berbagi yang tinggi.

Zane yang sudah lebih dari 22 tahun tinggal di Indonesia mengaku meski tahun 1994 masuk Islam tapi baru sebatas ucapan Syahadat. Tahun 2006 barulah ajaran agama Islam masuk di dalam dadanya dan dia mampu menjadi imam dalam keluarganya, memahami isi Alquran dan hadist sebagai panduan hidupnya.

“Semua butuh proses dan passion saya di ekowisata dan bisnis akomodasi ini juga terus berproses sehingga kelak bukan hanya pemburu ombak dunia saja yang datang kesini tetapi wisatawan nusantara terutama komunitas generasi muda pecinta travelling juga menjadikan Krui sebagai destinasi wisata mereka,” tandasnya.

Zane menitipkan pesan Jelajahi Negrimu, Cintai Negrimu maka kita akan menemukan banyak teman, saudara, banyak peluang, banyak ide untuk membangun negri. Nah kalau Anda ke Krui atau berpetualang di pesisir Pantai Barat sampai ke Bengkulu dan menemukan motor tua mengikat papan selancar di halaman mesjid, bisa dipastikan Zane Thomas Redman berada didalamnya. Good Luck brother ! ( Hilda Ansariah Sabri).

 

 

LEAVE A REPLY