Yogya Jaring Wisatawan Lewat Gerobak Sapi

0
448
Festival Gerobak Sapi (Foto: kompas.com)

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Gerobak sapi, transportasi tradisional di pedesaan kini menjadi salah satu ikon pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta. Setiap tahunnya digelar festival gerobak sapi untuk menjaring wisatawan lokal, nasional hingga internasional.

Untuk merasakan sensasi berbeda, wisatawan bisa naik gerobak sapi yang kini sudah dimodifikasi sedemikian rupa sambil mengelilingi candi ke candi atau menyusuri kawasan pedesaan dan persawahan.

“Pesan yang ingin ditanamkan jika melihat gerobak sapi yang ada dipikiran wisatawan adalah Yogyakarta,” kata Aris Riyanta, Kepala Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta saat Festival Gerobak Sapi goes to 2017 di Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu (27/11/2016).

Terdata, jumlah gerobak sapi di Yogya ada sekitar 480 unit. Dari jumlah itu, paling banyak di Kabupaten Sleman sebanyak 300 gerobak yang tersebar di Kecamatan Ngemplak, Prambanan, Cangkringan dan kecamatan lain di wilayah barat Sleman.

Salah satu ikon pariwisata ini diharapkan bisa menambah jumlah wisatawan baik mancanegara maupun turis lokal. Ditargetkan pada 2019, jumlah wisatawan dari luar negeri mencapai dua juta per tahun. “Agen wisata, hotel, desa wisata bisa menggandeng para pemilik gerobak sapi untuk berwisata,” lontarnya.

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun menyatakan pendapatan asli daerah yang tinggi selain dari pajak adalah dari sektor pariwisata dan kuliner. “Keberadaan gerobag sapi diharapkan meningkatkan kunjungan wisatawan,” ujar Sri.

Sri yakin wisatawan mancanegara pasti banyak yang tertarik. Di negara mereka tidak ada gerobak seperti ini. Bahkan wisatawan lokal pun banyak yang tidak tahu gerobak sapi. “Mengembangkan pariwisata tidak ada habisnya kalau dilakukan dengan banyak inovasi. Termasuk festival gerobak yang digelar saat ini.” tambahnya.

Dengan adanya inovasi di sektor pariwisata ini, ia berharap masyarakat juga bertambah sejahtera. Gerobak sapi masih eksis untuk mengangkut hasil panen dan bis dimanfaatkan untuk pariwisata.

Ketua panitia festival Gerobak Sapi Bowo Harso Nugroho mengatakan festival semacam ini sudah diadakan empat kali. Pada 2017, festival akan menggandeng seniman untuk berkolaborasi dengan sai gerobak sapi yang dikenal dengan sebutan: bajingan. “Gerobak sapi dimodifikasi sedemikian rupa sehingga sangat menarik,” kata dia.

Puluhan gerobak sapi yang berjejer di lapangan PT Taman Wisata Candi (TWC) Prambanan, Sleman, sudah dimodifikasi sesuai dengan selera seniman yang kini dilibatkan dalam Festival ini. Bodi gerobak peserta acara Road to Festival Gerobak Sapi 2017 itu, lebih berlekuk dan berwarna.

Ada tema-tema tertentu yang diusung tiap gerobak melalui konsep bentuk dinding gerobak maupun permainan warna. Di antaranya tema Garudha Yaksa atau Burung Garuda, barong, ataupun sekadar menampilkan pesan pepatah Jawa.

Gerobak-gerobak itu, hasil sentuhan sejumlah seniman Yogyakarta. Mereka menorehkan kreativitas dan imajinasinya ke konstruksi gerobak tersebut. Menyesuaikan tema yang diinginkan, gerobak dimodifikasi secara detail dan berbeda dari gerobak sapi konvensional yang tampilan visualnya hanya berupa paduan garis warna tertentu dan cenderung minim motif.

Pada gerobak garuda yaksa, misalnya, bagian gribig (dinding samping penutup gerobak) dan troso (dinding menggantung) dibuat pola visual menyerupai wujud burung dengan aksen grafis pewayangan serta batik. Demikian pula di bagian tracuk dan manukan (ornamen berbentuk seperti bajak kayu) yang dibikin lebih dinamis.

“Awalnya kami ingin bikin konsep jatayu (burung dalam pewayangan). Namun, supaya terlihat lebih kontras dengan sapinya, kami akhirnya memilih tema garuda yaksa,” kata Harman Art, satu di antara seniman tersebut.

Keterlibatan para seniman dengan gerobak sapi ini tak lepas dari tantangan yang diberikan Sultan Hamengku Buwono X saat menghadiri Festival Gerobak Sapi 2016 di Bantul, beberapa bulan silam. Saat itu, Sultan menantang seniman agar turut andil memberikan kreativitasnya dalam tamplan gerobak yang lebih variatif dan stylist.

Para penggiat seni dari berbagai sanggar dan komunitas di Yogyakarta pun merespon tantangan itu dan menghadirkan karyanya dalam ajang Road to Festival Gerobak Sapi 2017 tersebut sebagai ajang ujicoba sebelum festival sesungguhnya berlangsung Juli 2017 nanti. (*/BBS)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.