Wisman Eropa Betah Ketenangan Sanur

0
312
sunrise-sanur-beach (foto: http://balitravelo.com)

SANUR BALI, bisniswisata.co.id: Keeksotisan Pulau Bali telah dikenal di seluruh penjuru dunia. Disebut sebagai gerbang masuknya wisatawan mancanegara (wisman), pemerintah Indonesia pun menetapkan Pulau Dewata sebagai daerah percontohan wisata di Tanah Air. Tidak hanya pemandangan alam, di pulau yang sebagian besar penduduknya memeluk agama Hindu ini, wisatawan juga bisa menjalani sejumlah kegiatan seru, sejak pagi, siang, sampai malam.

Kegiatan yang dilakukan mulai dari yang bertema seni budaya, kuliner, belanja sampai kehidupan malam. Berbeda wilayah, tentu saja berbeda kemeriahan yang dirasakan. Seperti di wilayah Kuta, Legian, dan Seminyak. Selain memiliki hamparan pantai yang cantik, wilayah ini menawarkan kehidupan malam gemerlap bagi wisatawan yang berjiwa muda.

Kemudian Ubud dan Sanur. Wilayah yang sebagian besar berisi hamparan sawah nan hijau ini cocok untuk yang mencari ketenangan atau datang bersama keluarga. Khususnya di Sanur, kawasan ini dikenal dengan kehadiran Festival Layang-layang, Museum Le Mayeur, Hutan Mangrove Suwung Kauh, Pura Blanjong dan Serangan Island Turtle Conservation Centre. “Sanur memang lebih tenang. Kalau pun ada kehidupan malam, suasananya tidak segemerlap kawasan yang lain,” ujar Goya A. Mahmud, General Manager Artotel Sanur seperti dilansir laman CnnIndonesia.com, Senin (24/10/2016).

Goya mengatakan kalau Sanur adalah wilayah wisata paling tua di Bali. Nuansa seni budaya juga sangat kental. Jadi, wisatawan yang gemar berwisata alam dan sejarah, selain mendatangi Ubud bisa juga datang ke Sanur. “Siapa bilang tidak ada kelab malam di Sanur? Ada kelab malam paling tua di sini, namanya Janger. Karena potensi wisatanya sejarah dan seni budaya, maka yang datang kebanyakan wisman berumur dari Eropa, terutama Belanda,” ujar Goya.

Senada dengan Goya, salah satu penduduk lokal, Wayan Juniarta, mengatakan kalau wilayah Sanur memang ditujukkan bagi wisatawan yang tidak suka dengan keramaian. “Dari seni budaya, Ubud dan Sanur memiliki kesamaan. Tapi, Ubud tidak punya pantai seperti Sanur. Sanur tidak punya persawahan seperti Ubud. Setiap wilayah di Bali memiliki keunggulan,” kata Juniarta.

“Khususnya Sanur, di wilayah ini memang tidak ada kelab malam yang riuh sampai pagi. Tapi banyak wisatawan yang ternyata mencari hal itu. Mereka kebanyakan berasal dari kalangan menengah ke atas,” lanjutnya.

Memang, ketimbang wilayah lain, kawasan Sanur memang sudah sepi menjelang pukul 22.00. Hanya sedikit wisman yang masih hilir mudik, kebanyakan mencari taksi untuk menuju wilayah lain.

Saat siang pun, beberapa lokasi wisata lebih ramai dengan wisman yang berumur. Mereka berjalan santai menikmati ketenangan kawasan itu. Beberapa terlihat bercengkrama serius di kafe atau restoran. “Aturannya memang selepas pukul 22.00 tidak boleh ada keramaian yang mengganggu, karena masih banyak rumah penduduk di sini,” ujar Goya.

Meski ingar-bingarnya tak sama dengan wilayah lainnya, tapi setiap tahunnya kawasan Sanur ramai didatangi oleh banyak orang, yang antusias melihat Festival Layang-layang atau International Kite Festival.

Festival itu diselenggarakan rutin sepanjang Juli-Agustus. Menerbangkan layang-layang pun diyakini sudah menjadi tradisi bagi sebagian besar masyarakat Bali. “Sanur itu terkenalnya layang-layang, setiap tahun ada festivalnya. Oleh karenanya kami pun menggunakan unsur layang-layang sebagai konsep artistik di hotel kami,” kata Goya.

Festival Layang-layang sudah dimulai sejak 1979, yang diikuti oleh banyak peserta dari kelompok International Kite Flying Club yang berbasis di Amerika Serikat. Sudah dimulai sejak Juli, akhir dari rangkaian festival itu akan ditutup dengan acara meriah yang akan diselenggarakan di Pantai Padang Galak pada 30 Oktober 2016. (*/CO)

LEAVE A REPLY