Wisatawan Nekad Mendaki Gunung Agung

0
58
Abu keluar dari Gunung Agung (Foto: AFP)

KARANGASEM, Bisniswisata.co.id: Erupsi Gunung Agung yang menyita perhatian publik dunia, ternyata menarik perhatian wisatawan asing untuk melihat dari dekat, bahkan ada yang nekad mendaki Gunung yang berada di Karangasem Bali.

Sebuah rekaman video tersebar dijejaring media sosial instagram, Rabu (29/11/2017), dua pendaki masuk dalam rekaman sedang berada di zona berbahaya Gunung Agung. Lebih parah lagi, kedua pendaki pria dan wanita tidak mengenakan perlengkapan mendaki yang aman.

Seorang pendaki pria hanya mengenakan sendal gunung dengan celana jeans, yang sudah penuh dengan lumpur, sementara wanita pendaki mengenakan sepatu gunung memang tapi ia juga memakai celana jeans, yang sebenarnya tidak dianjurkan digunakan untuk mendaki gunung.

Dalam video juga tampak pria pendaki memegang-memegang lahar dingin Gunung Agung. Hal tersebut berarti kedua orang pendaki ini benar-benar berada di zona yang cukup berbahaya dijalur mengalirnya lahar dingin.

Wakil Kepala Kepolisian Daerah Bali Brigadir Jenderal I Gede Alit Widana mengimbau wisatawan asing tidak mendaki dan secara diam-diam naik ke puncak Gunung Agung. Sebab, gunung setinggi 3.142 meter di atas permukaan laut itu kini dalam fase kritis.

“Saya meminta wisatawan menaati imbauan petugas kami serta pemerintah, karena situasi Gunung Agung masih amat berbahaya, dan jangan mencuri kesempatan naik gunung melalui jalur tikus yang tidak dapat kami pantau,” ujar Alit Widana di Pos Pengamatan Gunung Agung, Desa/Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Jumat (01/12/2017).

Jika wisatawan tetap memaksakan diri, sambung dia, lalu terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, petugas akan sulit melakukan evakuasi karena lokasinya berada di hutan belantara. “Diharapkan wisatawan menaati imbauan anggota ataupun aparat pemerintah setempat,” ucapnya

Kepolisian menyiagakan 3.000 personel untuk membantu segala kebutuhan pengungsi. “Dari Kepolisian Daerah Bali saja, kami mengerahkan 1.750 personel untuk membantu evakuasi apabila terjadi erupsi Gunung Agung,” kata Alit seperti dikutip laman Tempo.co.id

Untuk sarana dan prasarana evakuasi, Polda Bali menyiagakan seribu mobil dobel kabin dari semua instansi kepolisian. “Dalam pengerahan personel ini, akan dibagi kembali menjadi empat zona,” ucapnya.

Alit menuturkan zona yang dimaksud adalah jalur utara Bali untuk evakuasi pengungsi ke Kabupaten Buleleng apabila terjadi erupsi lebih besar, jalur barat Bali menuju Kabupate Bangli dan Klungkung, jalur selatan Bali untuk evakuasi pengungsi dari Yeh Malet ke Kota Denpasar, dan jalur timur Bali dari Desa Bebandem menuju Manggis ke arah laut. “Kami juga menyiapkan sejumlah kapal milik Polair dan TNI Angkatan Laut,” ujarnya.

Dihimbau warga sekitar Gunung Agung yang masih bertahan di zona rawan bahaya untuk segera menaati petunjuk aparat pemerintah serta petugas kepolisian, TNI, SAR, dan BPBD demi keselamatan bersama. “Karena Presiden Joko Widodo sudah mengamanatkan jangan sampai ada korban jiwa,” ujarnya.

Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Devy Kamil Syahbana, mengatakan, terjadi pertumbuhan lava di dalam kawah Gunung Agung, terus tumbuh di lantai atau dasar kawah. Selain menunjukkan jumlah lava semakin banyak, hal itu bermakna Gunung Agung berpotensi meletus lagi.

“Dia berpotensi menghasilkan letusan. Dalam kondisi over pressure, ketika magma di bawah permukaan terakumulasi tekanannya, maka ketika dia melepaskan tekanan, material terlontar dapat berupa batu maupun abu,” jelas Devy.

Terkait cahaya terang di kawah Gunung Agung, Devy menjelaskan, itu adalah vulkanik glow yang diakibatkan oleh lava yang sudah ada di permukaan. “Wisatawan tidak perlu membuktikan naik ke atas untuk melihat ada atau tidak lavanya. Kita kan punya teknologi satelit. Satelit sudah merekam adanya lava di permukaan dan sudah berada di dasar kawah, semakin tumbuh terus, jumlah lavanya semakin banyak,” papar dia. (berbagai sumber)

LEAVE A REPLY