Wisata Rohani Kang Rashied, Ubah Rasa Benci Jadi Cinta.

0
124

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Hasil Pilkada DKI Jakarta yang baru lalu dan berbuntut panjang telah memanaskan suhu politik di ibukota maupun nasional. Agenda memecah belah umat muslim dan non muslim semakin nyata.

Itulah sebabnya Kang Rashied yang getol mempopulerkan wisata rohani, mengajak masyarakat agama apapun hendaknya mengubah rasa benci menjadi rasa cinta. Jika umat beragama meminta pada Allah tumbuhkan rasa cinta  maka akan tercipta kerukunan beragama yang harmonis.

“Cinta itu hak Allah SWT dan hanya dia yang bisa merubah rasa dendam dan amarah menjadi rasa cinta sehingga aksi solidaritas seribu lilin untuk Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang terjadi diberbagai daerah tidak perlu mengganggu masyararakat muslim,” ujarnya pada tausiah wisata rohani, kemarin ( 14/5) di Graha Cinere, Depok.

Umat muslim yang kaffah tahu bahwa Islam adalah agama yang Rahmatan Lil Alamin. Artinya Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi manusia dan seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan dan jin. Dengan hewan saja tidak boleh sewenang-wenang, apalagi dengan manusia, tambahnya.

Oleh karena itulah doakan agar para pemimpin yang tidak bisa bersikap adil dan masyarakat yang sedang marah dan benci pada umat Islam diberikan hidayah dan dapat hidup berdampingan dengan rukun dan damai. Kondisi seperti sekarang ini pernah dialami oleh Nabi Muhammad SAW, tambah Kang Rashied.

Ustad muda dan pengisi acara kultum di beberapa stasiun TV ini mengatakan saat Islam menjadi agama minoritas di Mekkah, Umar Bin Khattab anti Islam dan berniat membunuh Nabi Muhammad S.A.W yang mengajarkan agama Islam.  Di jaman jahiliyah, Umar paling kejam menyiksa pengikut Muhammad S.A.W.

“Nafsu membunuh dan ingin menemui baginda Nabi begitu kuat. Namun saat dalam perjalanannya ia bertemu dengan salah seorang pengikut Nabi Muhammad S.A.W bernama Nu’aim bin Abdullah yang kemudian memberinya kabar bahwa saudara perempuan Umar telah memeluk agama Islam,”

Umar terkejut dan pulang ke rumahnya untuk menghukum adiknya dan menjumpai saudarinya itu sedang membaca Al Qur’an surat Thoha ayat 1-8, dia semakin marah akan hal tersebut dan memukul adik perempuannya.

Ketika melihat saudarinya berdarah akibat pukulannya Umar menjadi iba, dan kemudian meminta agar bacaan tersebut dapat ia lihat.Pada zaman jahiliyah keluarga Umar tergolong dalam keluarga kelas menengah, ia bisa membaca dan menulis yang pada masa itu merupakan sesuatu yang langka.

Setelah itu Umar menjadi terguncang oleh apa yang dibacanya. Otaknya berfikir dan hatinya mencerna bahwa kalimat dalam surat Thoha itu diyakininya bukan buatan manusia tapi sang pencipta sehingga akhirnya dia mendapat hidayah, masuk Islam dan menjadi sahabat Nabi Muhammad S.A.W.

“Umat Islam di Indonesia memang mayoritas tapi seperti buih dalam lautan, sementara non Muslim kini minoritas tapi justru menjadi pengambil keputusan kebijakan negara. Ulurkan tangan ke langit minta Allah membukakan pintu hati agar kebencian yang mereka umbar dalam aksi solidatitas seribu lilin hingga mengancam keutuhan NKRI mereka hentikan sendiri dan diubah menjadi cinta kasih sesuai ajaran agamanya juga” kata Kang Rashied.

Aksi solidaritas itu sudah mengancam keutuhan dan kerukunan bangsa. Parahnya lagi saat mereka melakukan aksi dan terdengar suara azan, panggilan untuk umat Islam beribadah malah disambut dengan teriakan kebencian secara serentak karena dianggap mengganggu kekhusukan mereka menyalakan lilin.

“Jangan pesimistis melihat gerakan massif itu. Umat Islam harus kuatkan jantungmu, debarkan hatimu dan angkatlah tangan ke atas. Berdoa untuk meminta pada Allah pemimpin yang adil dan bijaksana, ulama yang sabar dan para pengusaha yang jujur.

“ Mintakan hidayah bagi kaum minoritas yang membenci umat Islam atas nama NKRI. Ubah rasa benci mereka menjadi rasa cinta. Berdoa, berdoa dan angkat tangan ke arah langit karena kalau 1 juta umat muslim warga DKI Jakarta menebarkan cinta maka akan memiliki efek ganda yang berlipat-lipat,” kata Kang Rashied.

Dia mengingatkan bagi mereka yang sibuk “berperang” di dunia maya, di media sosial agar berhenti sejenak dan keluar ke dunia nyata. Persepsi dan kebencian yang diciptakan di dunia maya tidak dirasakan di dunia nyata.

“ Coba keluar rumah dan bersosialisasi ke pasar, ke mall, ke terminal maka masyarakat umum menjalankan aktivitas rutinnya biasa-biasa saja, damai dan tentram. Kebencian yang ditebarkan didunia maya untuk memecah belah umat tidak ada. Berdoalah agar pemimpin mampu bersikap adil dan amanah,” tegas Kang Rashied, pendiri Musafir Center ini.

Kekuatan doa bisa menjadi senjata agar kekalahan pilkada DKI Jakarta tidak dipolitisasi dan dikriminalisasi. Alumnus Univetsitas  Al Azhar Mesir itu menambahkan bahwa umat Islam belajar dari Presiden Turki, Erdogan yang pada kepemimpinannya mencanangkan gerakan subuh berjamaah di masjid-masjid di seluruh Turki.

“Sholat berjamaah dan doakan negri ini selamat dari  politik memecah belah sehingga pemerintah, ulama, pengusaha dapat berkontribusi aktif menciptakan negeri yang aman, adil dan sejahtera,”( Hilda Ansariah Sabri).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY