Wisata Rohani Kang Rashied, Time To Unite

0
281

Kegembiraan sebagian peserta Ramadhan Family Camp 3 mengakhiri kegiatan 3 hari dua malam di Cisarua

CISARUA, Bogor, bisniswisata.co.id: Suasana Villa Alamanda yang berada di kawasan Cisarua, Puncak tepatnya di Cilember masih sepi saat saya datang. Di halaman baru parkir dua mobil dan Lenny Razak yang akrab dipanggil teteh datang menyambut dengan senyum mengembang.

Ibu tiga anak yang mengkordinir sejumlah ustad muda ini juga baru tiba di villa dan tengah berkordinasi dengan anggota panitia lainnya. Sebagai penyelenggara Ramadhan Family Camp ( RFC) ke 3 yang saya ikuti pekan lalu dari 2-4 Juni 2017, Lenny tampaknya memiliki kemampuan multi task yang bisa mengerjakan beberapa tugas sekaligus.

Mengecek list kamar peserta, menerima telpon dan memeriksa banner acara dilakukannya hampir bersamaan sambil merayu satu dari dua putranya yang masih mogok turun dari mobil. Istri dari ustad Kang Rashied ini dalam kesempatan lain juga kerap terlihat sibuk memotret dan membuat vlog dari aktivitas dakwah suaminya.

Villa Alamanda, Cisarua tempat kegiatan Ramadhan Family Camp 3

Mia Dinari dan suaminya, eksekutif Air Asia muncul menyapa. Rupanya pasangan ini jadi peserta pertama yang datang. Ibu empat anak ini hanya datang berdua karena anak-anak masih sibuk kuliah dan sekolah.

Mata saya langsung menyapu komplek villa Alamanda. Pantas saja sering menjadi tempat beragam pertemuan karena rumah induk yang saya masuki selain tersedia kamar-kamar juga ada fasilitas ruang pertemuan dan musholla terbuka dilantai atas.

Dari musholla pemandangan disekitarnya sangat asri dengan bukit- bukit dan vila-vila yang warnanya bergradasi di bawah teriknya matahari. Villa ini berdekatan dengan kawasan rekreasi yaitu Taman Wisata Matahari dan Curug 7 Cilember

Tampak dua buah bangunan kayu yang cukup besar berhadap-hadapan dipisahkan jalan dan lapangan basket. Rumah berdinding kayu seperti di Menado ini layaknya asrama dan didalamnya berisi tempat tidur susun yang mampu menampung puluhan orang.

Bangunan pertama terhubung dengan bangunan induk dan sebuah kolam renang. Sementara rumah satunya tersambung dengan bangunan terbuka untuk main pingpong dan games lainnya serta kantor dan ruang sekuriti.

Selesai berkeliling villa saya sudah menjadwalkan untuk renang dan aktivitas senam besok paginya. Saya juga sudah memegang jadwal setiap pertemuan dan lokasi ruangannya sehingga memutuskan untuk rehat sejenak di kamar.

Sebelum menuju kamar jumpa dengan Kang Rashied dan dokter Ferry Firmansyah, anggota DPD RI periode lalu yang baru pulang sholat Jumat bersama warga sekitar.

Kang Rashied mengatakan dalam kegiatan RFC peserta akan belajar keteladanan Nabi Adam, Nabi Nuh AS, Keluarga Ibrahim dan Keluarga Imran.

Hari jumat setelah libur memperingati hari lahirnya Pancasila rupanya membuat banyak peserta yang terlambat karena sebagian masih kerja dan sekolah. Untunglah usai sholat dzuhur sudah lebih separuhnya hadir.

Sepanjang siang hingga menjelang berbuka puasa, semangat mengikuti RFC dengan tema “ Time to Unite” makin antusias. Kegiatan semacam pesantren kilat untuk keluarga dan peserta perorangan ini makin menarik dengan ulasan-ulasan Kang Rashied dan para ustad muda yang kerap dipanggil asatid.

Ada kang Anas, kang Ayub, kang Tomi dan ustad lainnya yang mendampingi peserta memahami materi yang diberikan seperti rahasia dan kunci-kunci manfaat melakukan way of life dari Nabi Muhammad SAW mulai dari kebiasan tidur, makan, ibadah hingga memahami waktu yang afdol agar doa diijabah Allah SWT.

Mekkah, Madinah memang tempat-tempat berdoa yang diijabah Allah. Namun di Indonesia Allah juga memberikan waktu-waktu yang diijabah Allah saat kita memanjatkan doa yaitu saat azan berkumandang 5 X dalam sehari dan saat jelang berbuka puasa,

“ Oleh karena itulah pergunakan waktu-waktu tersebut untuk berdoa pada Allah SWT terutama saat muadzin melantunkan kata Hayya ‘alal falâh artinya adalah Marilah menuju keberuntungan dan keselamatan,” kata Kang Rashied, ustad yang kerap mengisi Program Damai Indonesiaku di TV One ini.

Pada momen azan itu dia mencontohkan dengan membaca “Shoddakta Wa Barirta Yaa Rasulullah, Benar Sabdamu Yaa Rasulullah…(lalu sebutkan hajat yang kita maksudkan pada Allah SWT) sehingga inshaa Allah doa-doa kita akan diijabah Allah.

“Saat azan berkumandang itulah doa-doa yang dipanjatkan umat Muhammad SAW akan diijabah Allah karena arti panggilan itu mengajak manusia menuju surga. Keberuntungan, kemenangan, dan keselamatan hakikinya adalah masuk surga dan selamat dari neraka,”

Peserta mengikuti acara dan berbuka puasa bersama

Kang Anas, salah satu tim ustad ( asatid) dari Musafir Center Indonesia ( MCI) sebagai penyelenggara mengingatkan pula untuk menjalankan sholat sunat dan wajib, selalu menjaga wudhu.

Dia juga mengajarkan masalah-masalah yang detil seperti adab sholat, mandi, berpakaian, makan sampai adab mengikuti taklim. Begitu detilnya hingga dalam hal makan dan minum baru saya sadari bahwa selain membaca doa dulu maka adabnya adalah tidak sambil berdiri, tidak duduk bersandar serta harus menghabiskan makanan yang diambil tanpa sisa.

Tadabur alam

Siang itu Dr Ferry Firmansyah juga mengajak untuk introspeksi diri untuk apa keberadaan kita di muka bumi serta memperhatikan alam semesta ciptaan Allah.Tadabbur Alam merupakan sarana pembelajaran untuk lebih mengenal ke Maha Besaran Allah SWT yang telah menciptakan langit dan bumi serta segala isinya.

Bagaimana ibadah-ibadah yang kita lakukan itu bisa menjadikan keluarga kita adalah keluarga Samara di tengah hiruk pikuknya kehidupan di bumi ?. Bagaimana cara kita selamat untuk hidup di dunia maupun di akhirat. Bekal apa yang harus kita bawa ?

Memiliki keluarga Samara ( Sakinah, Mawadah, Warahmah ) adalah impian setiap orang yang sudah atau belum menikah. Seorang suami pasti menginginkan istrinya sehat lahir bathin agar bisa melakukan tugas istri sebagaimana mestinya. Begitu juga dengan istri yang menginginkan hal serupa dan memiliki suami setia yang bertanggung jawab serta anak-anak yang soleh dan soleha.

Ramadhan Family Camp adalah salah satu cara menyatukan visi-misi keluarga Samara tersebut. Oleh karena itu Cisarua dipilih menjadi tempat pelaksanaan kegiatan RFC ditengah keindahan alam pegunungan.

Selama pelaksanaan RFC kegiatan ibadah berlangsung di dalam dan di luar ruangan ditengah semilir angin dan embun yang turun saat sholat taraweh, sholat tahajud maupun sholat subuh berjamaah. Tadabur alam

Kang Rashied mengatakan alam semesta bertasbih kepada Allah dan Nabi Muhamnad SAW sering beribadah di luar dan menyatu dengan alam. Oleh karena itu sepanjang Ramadhan Family Camp berlangsung maka sholat-sholat malam dipusatkan diruangan terbuka di lapangan basket dengan membentangkan sajadah panjang.

Time to bonding 

Waktunya mengikat ( bonding) hati diantara sesama anggota keluarga adalah di pesantren kilat ( RFC) ini. Jika sehari-hari di rumah seluruh anggota keluarga sibuk dengan aktivitas masing-masing. Maka setelah berada di sini semua aktivitas terkonsentrasi untuk mendekatkan diri pada Allah SWT dan pada anggota keluarga masing-masing.

Melihat keluarga yang utuh terdiri dari orangtua yang lengkap ada ibu, bapak serta anak-anaknya saling mendukung menghafal surat-surat pendek, belajar bahasa Arab sehari-hari maupun aktivitas outbond bersama tanpa terasa membuat air mata ini meleleh..

Menjadi janda di usia 45 tahun, menjadi ibu tunggal 13 tahun terakhir dengan tiga anak bahkan si bontot baru berusia 6 tahun ketika ayahnya pulang lebih dulu menghadap sang khalik membuat saya bersyukur bisa diberi kekuatan dan kesehatan membesarkan anak-anak seorang diri oleh Allah SWT.

Saya tersungkur dalam sujud-sujud panjang pada Allah dan mendoakan agar semua peserta yang masih memiliki pasangan hidup bisa menghargai waktu, kebersamaan dan kenikmatan memiliki keluarga yang utuh.

Iskandar Putranto, Business Consultant dan Investor Oil & Gas Industry yang menjadi peserta bersama istrinya Arie Kusuma Dewi pakar parenting yang juga penulis buku The Secret of Enlightening Parenting sejak RFC pertama di tahun 2015 sudah melibatkan dua putrinya Bethari Alamanda Widhiasmaraputri (Manda), 16 dan Biancy Alayna Widhiasmaraputri (Biyan), 10.

“RFC di bawah bimbingan Kang Rashied memberikan pencerahan kepada saya dan keluarga tentang indahnya Islam dan penerapannya yang dahsyat apabila dilakukan bersama dengan keluarga kita tercinta,” kata Iskandar.

Menurut dia, perjalanan dalam program RFC sangat baik dimana kegiatan disesuaikan dengan konteksnya: orang tua (pasutri), anak-anak dan gabungan orangtua dan anak-anak. Hal ini membuat bonding antara suami-istri-anak insya Allah menjadi lebih rekat dan merasa semakin saling menbutuhkan.

Sejak RFC pertama, keluarga kami langsung merasakan efeknya dan mengimplementasikan ilmu-ilmu yang baru maupun pencerahan sederhana dimana sebenarnya selalu atau sudah sering dilakukan sehari-hari, kata Iskandar.

“ Jadi adanya pencerahan akhirnya kami dapat melakukannya dengan lebih baik atau sempurna misalnya dalam melaksanakan sholat-sholat sunnah, membaca al-Quran dan ibadah lainnya,” jelasnya.

Efek lebih jauh lagi dalam kehidupan sehari- hari kami semakin menyadari bahwa segala yang kami miliki di duina ini, suami, istri, anak, orang tua, harta, jabatan dan lainnya adakah murni titipan yang harus kita kembalikan kepada Allah, kata mantan Board of Director perusahaan oilfield service company terbesar di dunia.

Tugas kita adalah memelihara dan menggunakannya di jalan Allah. Hal ini membuat kami merasa lebih ringan dalam memasrahkan diri kepada Allah dalam kegiatan kami sehari-hari, bekerja, berbisnis, sekolah dan kegiatan lainnya termasuk kegiatan sosial, tambahnya.

Keluarga Iskandar Putranto bersama Kang Rashied ( kedua dari kiri) dan istri, Lenny Razak

Keteladan Nabi Ibrahim AS

Keluarga merupakan kelompok terkecil dalam sebuah tatanan masyarakat. Sedangkan masyarakat adalah himpunan dari beberapa keluarga. “ Maka baik buruknya sebuah masyarakat sangat bergantung kepada baik buruknya keluarga,” kata Kang Rashied.

Jika ingin mewujudkan negara yang kokoh dan sejahtera bangunlah masyarakat yang damai. Dan jika ingin menciptakan masyarakat yang damai binalah keluarga-keluarga yang baik dan harmonis. Di RFC 3 inilah salah satu wasilah, media untuk mendekatkan diri pada Allah, ujarnya.

Didalam Al-Quran, kitap suci umat Islam ada empat nabi yang istimewa di mata Allah dan tertuang dalam surat Ali Imran ayat 33: “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran di seluruh alam semesta.”

Potret-potret keluarga yang digambarkan dalam Alquran tersebut meskipun terjadi pada masa dan lingkungan yang berbeda dengan masa saat ini, akan tetapi tetap mengandung banyak hikmah dan pelajaran berharga yang senantiasa kekal sepanjang zaman.

“ Namun Nabi Adam dan Nabi Nuh tidak disebut “keluarga” karena ada anak dan istri yang melakukan perbuatan tercela. Sementara untuk Ibrahim dan Imran disebut selalu Keluarga Ibrahim dan Keluarga Imran,” ungkap Kang Rashied.

Memang potret keluarga Nabi Ibrahimlah yang banyak mendapat sorotan. Episode paling terkenal dari kisah Nabi Ibrahim adalah ketika Allah SWT mengaruniakan seorang putra kepadanya di saat usianya sudah sangat lanjut, sementara istrinya adalah seorang yang mandul.

Allah SWT Maha Kuasa untuk berbuat apa saja hingga akhirnya Ibrahim memperoleh seorang putra yang diberi nama Ismail. Namun Allah SWT menguji imannya melalui sebuah mimpi untuk menyembelih anaknya.

Sebelum melaksanakan perintah itu, terjadi dialog yang sangat harmonis dan menyentuh hati antara anak dan bapak. Ternyata, sang anak dengan hati yang tegar siap menjalani semua kehendak Allah. Ia bersedia disembelih oleh ayahnya demi menjalankan perintah Allah SWT.

Ketegaran sang ayah untuk menyembelih sang anak dan kesabaran sang anak menjalani semua itu telah membuat mereka berhasil menempuh ujian yang maha berat tersebut. Allah SWT menebus Ismail dengan seekor domba, dan peristiwa bersejarah itu diabadikan dalam rangkaian ibadah korban pada hari Idul Adha.

“Meskipun Ibrahim meyakini bahwa perintah menyembelih anaknya itu mesti dilaksanakan, akan tetapi Ibrahim tetap melakukan dialog bersama putranya untuk meminta pendapatnya. Sikap Inilah barangkali yang mulai hilang dari keluarga muslim saat ini,” kata Kang Rashied.

Posisi anak dalam keluarga cenderung diabaikan dan dipandang sebelah mata. Anak seolah hanya berkewajiban untuk sekedar menuruti segala perintah orang tua tanpa memiliki hak bicara dan berpendapat sedikitpun. Akhirnya hubungan orang tua dengan anak ibarat hubungan atasan dengan bawahan, tambahya.

Hubungan seperti ini apabila dibiarkan terus berlanjut akan menghambat perkembangan karakter dan pribadi anak. Anak cenderung menjadi penakut dan tidak percaya diri. Atau kepatuhan yang ditampilkannya pada orang tua yang bersikap seperti ini hanyalah kepatuhan yang semu, sementara di dalam jiwanya ia menyimpan sikap penentangan dan pembangkangan yang luar biasa

Sosok keluarga lainnya yang ditampilkan dalam Alquran bahkan satu-satunya surat yang diberi nama keluarga adalah surat Ali Imran (keluarga Imran). Meski yang banyak dibicarakan justru adalah Hannah, istri Imran (imra’atu Imran) dan puterinya Maryam ibu dari Nabi Isa AS.

Istri Imron yang melahirkan Maryam ini tidak risau dengan nasib anaknya secara duniawi karena ia yakin bahwa setiap anak yang lahir sudah Allah jamin rezekinya. Apa yang menjadi buah pikirannya adalah bagaimana anaknya mendapatkan lingkungan yang baik untuk menjaga agama dan kehormatannya.

Bahkan, sebelum anaknya lahir ia telah bernazar bahwa anaknya akan diserahkan untuk menjadi pelayan di rumah Allah. Jika diterjemahkan kekiniannya maka Hannah punya visi apapun profesi anaknya nanti maka orang tua tidak boleh lupa untuk menanamkan nilai-nilai ketuhanan dalam diri mereka sejak dini.

Memiliki keluarga harmonis, istri soleha dan juga anak-anak yang soleh dan soleha adalah tugas seorang pria sebagai imam dalam sebuah keluarga. Suami bisa mendidik istrinya, sehingga sang istri mampu mendidik anaknya dengan baik pula.

Semyum bahagia peserta mengikuti pertemuan 3 hari 2 malam yang merekatkan hati anak-anak, mahasiswa hingga para orangtua.

Tiga hari dalam kebersamaan keluarga-keluarga yang harmonis membuat semua peserta RFC 3 terikat dalam tali silaturahmi yang kuat. Minggu sore sebelum berpisah menjadi moment yang mengharukan pula.

Saya sendiri harus berpisah dengan teman-teman sekamar lebih awal yang datang perorangan seperti Aca, Anna dan Imas. Untunglah kami langsung dibonding dalam WA Group RFC sehingga silaturahim terus berjalan.

“Kalau kita ingin menyelamatkan bangsa ini dari perpecahan, perbaiki karakter jiwa dari anggota keluarganya karena keluarga harmonis yang bisa melahirkan negara yang kuat dan sejahtera,” kata Kang Rashied sebelum berpisah. Sampai jumpa di acara camp tahun depan….( Hilda Ansariah Sabri).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY