Wisata Mesum di Batam jadi Sasaran Wisatawan Singapura

1
12632

BATAM, bisniswisata.co.id: MATAHARI baru saja tenggelam di Pulau Batam. Namun, ini bukanlah akhir hiruk-pikuk kehidupan di pulau yang langsung berbatasan dengan Singapura tersebut. Kegelapan malah menjadi awal mengais rezeki bagi ‘kupu-kupu malam’ di Batam.

Kehidupan malam terasa eksotis di pulau ini. Nampak lampu warna warni berkelap-kelip di beberapa bangunan berwarna cerah dengan plang bertuliskan massages, pub, dan karaoke. Ketiga tempat itu dihuni bidadari berbedak tebal dengan baju mini sembari menghisap sebatang rokok mentol di bibir merahnya.

Sebut saja Adhil, salah satu penjaga hotel B mengungkapkan Distrik Nagoya merupakan salah satu tempat hiburan di Batam yang masyhur akan dunia malam. Tergantung fulus yang kita miliki, ada kualitas kelas wahid dan kelas ekonomi tersedia lengkap di sana. “Kalau yang di pinggir hotel berdiri itu Rp 300 ribu buat short time. Itu nggak bisa ditawar-tawar lagi, sudah segitu pas,” kata Adhil yang mengaku pernah mencoba jasa wanita penghibur itu dua bulan lalu.

Lelaki asal Ambon yang sudah empat tahun bekerja di Batam ini merinci tarif wanita penghibur di Batam. Mereka tak bisa menikmati semua hasil dari peluh keringatnya. Pendapatan perempuan-wanita penghibur setelah melayani nafsu lelaki nakal harus dibagi-bagi dengan beberapa aktor dunia malam yang turut membantu praktik prostitusi itu.

“Tarif Rp 300 ribu itu masih dibagi-bagi setelah dibayar tamunya. Rp 100 ribu buat dia, lalu Rp 100 ribu buat tukang ojek dan Rp 100 ribu buat biaya hotel,” ujar dia sembari meneguk segelas kopi hitam.

Adhil tak bisa memastikan kapan kerjasama antar wanita penghibur, tukang ojek, dan pemilik penginapan berawal. Nampaknya, mereka secara alami membutuhkan dan menggantungkan satu sama lain dalam usaha meraup rezeki dari dompet lelaki hidung belang. “Waduh nggak tahu kapan awalnya, saya di sini baru 4 tahun sudah kayak gini. Kayaknya sama-sama untung jadi terus lanjut kerjasama,” tutur dia.

Lanjut Adhil, puluhan tukang ojek yang tiap hari mangkal di depan hotel awalnya pernah memakai jasa wanita penghibur. Lalu mereka bertukar nomor handphone dan berlanjut menawarkan ke sesama pengojek atau wisatawan yang datang ke Batam.

“Kemungkinan tukang ojek itu pernah pakai (wanita penghibur). Terus minta nomer hape dan dibilang ke temen-temennya atau ke penumpangnya,” pungkas dia sambil memperlihatkan beberapa nomor wanita penghibur yang dikoleksinya.

Orang menyebut daerah ini, Nagoya. Sebuah pusat hiburan elit yang sangat akrab di telinga wisatawan yang gemar mengunjungi Pulau Batam. Hampir semua lokasi hiburan di Nagoya menyediakan perempuan sintal dan cantik.

Salah satu wisatawan asal Singapura yang mengaku bernama Niko menyatakan rutin berwisata ke Batam pada akhir pekan. Selain karena jarak antara Singapura dan Batam yang relatif dekat, bersama beberapa rekan kerjanya sengaja ingin melepas penat dari suasana kerja.

“Ke Batam cuma buat refreshing. Ya sambil jalan-jalan ini kan lagi liburan” kata Niko saat berbincang di Hotel B Batam, Minggu (30/11).

Lelaki keturunan Tionghoa ini tak menampik jika kebanyakan wisatawan dari Singapura suka berburu perempuan di Batam. Mereka mengenal pulau ini sebagai surga dunia malam dari kolega kerja yang pernah menyambangi sebelumnya. Kunjungan ke Batam pun rutin dilakukan.

“Ya itu pelengkap (wanita penghibur). Kita kan juga ada urusan bisnis di sini nggak buat itu semua,” terang dia sambil tersenyum simpul.

Ditemui terpisah, salah satu pegawai hotel B, Ayi, mengungkapkan banyak wisatawan Singapura datang tak hanya piknik atau mencari pemuas nafsu sesaat. Mereka sudah terkenal gemar memelihara perempuan simpanan. Oleh sebab itu, setiap libur kerja mereka dipastikan rutin mengunjungi istri simpanannya tersebut.

“Mereka (wisatawan Singapura) sering ke sini, malah sudah langganan. Biasanya sama istri simpanannya yang di Batam,” ujar perempuan yang baru lulusan SMA itu.

Ayi menyebutkan tak sedikit perempuan Batam yang memilih menjadi istri simpanan warga Singapura. Kebutuhan hidup yang tinggi di Batam membuat mereka melakukan segala cara untuk bertahan hidup. “Banyak yang milih jadi simpanan kok. Dicukupi (kebutuhan hidup), biasanya rumah, mobil dan kebutuhan sehari-hari,” ujar dia seperti dilansir laman Merdeka.com.

Tak hanya itu, dia mengungkapkan kelakuan warga Singapura ini akibat celah main serong di negaranya terbilang sulit. Mereka pun takut ketahuan oleh istri resminya di Singapura jika bermain gila. “Kabarnya di sana sulit buat cari simpanan. Kalau di Batam sih gampang, asal ada duitnya,” pungkas dia. ***

1 COMMENT

LEAVE A REPLY