Wisata Konservasi Belum Digarap Serius

0
413
Sebuah kapal nelayan menepi di antara pecahan terumbu karang yang rusak, di Pulau Ansoduo, perairan Pariaman

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Indonesia belum serius melindungi ekosistem laut, termasuk mengedepankan wisata bahari berbasis konservasi yang berkembang saat ini. Akibatnya, ekosistem, terutama pada terumbu karang di Indonesia rusak oleh aktivitas manusia yang tidak peduli kelestarian lingkungan. Hal tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk “Sea Conservation & Safety Diving” yang digelar komunitas Eco Diver Journalist di Jakarta.

“Ke depan, kita berharap wisata yang dikembangkan adalah wisata konservasi,” ujar Yohanes Budoyo, perwakilan dari Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK).

Yohanes mengatakan, pengelolaan taman nasional seharusnya melibatkan banyak pihak. Hal tersebut bukan urusan pemerintah pusat saja. Pemerintah daerah (pemda) dan pihak swasta juga harus terlibat menjaga kawasan laut, terutama ekosistem. “Kita tidak bisa bekerja sendiri,” kata Yohanes yang juga penyelam.

Di Kepulauan Seribu, Yohanes menyebutkan, hanya sekitar 17 persen yang ditetapkan sebagai kawasan taman nasional. Saat ini luas wilayah Taman Nasional Kepulauan Seribu yang ditetapkan pemerintah mencapai 107.489 hektare (ha).

Direktur Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan di Kementerian Kelautan dan Perikanan, Agus Darmawan, mengatakan kerusakan ekosistem laut akan berdampak terhadap perekonomian masyarakat. Oleh karena itu, Agus menekankan pentingnya melindungi ekosistem laut, terutama terumbu karang. “Persoalan kerusakan terumbu karang terkait perilaku manusia,” ujar Agus.

Menurutnya, sejak 1998, pemerintah telah merencanakan program perbaikan terumbu karang di 15 kabupaten dan kota. Pada fase pertama adalah mendorong perubahan perilaku manusia. Pada tahap kedua, Agus menambahkan, ialah membangun upaya perbaikan dan pelestarian terumbu karang secara kelembagaan. Ia melanjutkan, pemerintah pusat mendorong pemerintah daerah juga untuk ikut serta melindungi terumbu karang.

Miss Scuba Indonesia, Yovita Ayu Liwanuru, mengutarakan konservasi laut tak hanya bertujuan menjaga keanekaragaman hayati. Namun, konservasi laut juga bisa meningkatkan jumlah wisatawan bahari, di antaranya yang ingin menyelam di Indonesia.

Dicontohkan, pemerintah Malaysia telah mengambil langkah-langkah cepat melakukan konservasi di Pulau Sipadan yang sempat bersengketa dengan pemerintah Indonesia. Saat ini, Yovita menyatakan, pulau itu menjadi salah satu tujuan utama penyelam dari seluruh dunia.

“Kami mendorong wisatawan bahari, khususnya penyelam, baik lokal maupun mancanegara, untuk terlibat dalam konservasi laut di Indonesia. Kami berharap semua pihak ikut bertanggung jawab dalam menjaga kelestarian lingkungan,” paparnya seperti diunduh laman SInarharapan.co. Senin (9/3/3-2015).

Data Pusat Penelitian Oseanografi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memperlihatkan sepertiga atau 30,4 persen terumbu karang di Indonesia yang mencapai 25,178,58 kilometer persegi saat ini dalam kondisi rusak. Data yang dirilis pada 2014 itu adalah hasil penelitian selama lima tahun. ****

LEAVE A REPLY