Wisata Halal Dorong Permintaan Kartu Pembiayaan Syariah

0
114

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Indonesia dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia memberikan potensi ekonomi besar terhadap bisnis wisata halal. Potensi ini pun ramai-ramai dibidik oleh para pelaku industri keuangan syariah untuk menawarkan fasilitas kartu pembiayaan berprinsip syariah guna memenuhi kebutuhan konsumen sehari-hari.

PT Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah misalnya. Anak usaha BNI itu telah lama menyasar wisata halal sebagai pangsa pasar untuk mendistribusikan produk Hasanah Card.

Direktur Utama BNI Syariah Imam Teguh mengatakan, wisata halal bukan wisata yang mengunjungi destinasi-destinasi religi. Melainkan, destinasi yang ada pada umumnya telah mendapatkan fasilitas yang serba halal.

Sejak menggeluti potensi wisata halal itu, pertumbuhan Hasanah Card BNI syariah tahun lalu pun naik 8,8 persen menjadi 260 ribu keping dengan nilai transaksi mencapai Rp1.3 triliun.

“Untuk tahun ini wisata halal masih menjadi potensi besar, makanya kami targetkan volume kartu naik 10 persen atau tumbuh sekitar 25 ribu hingga 30 ribu kartu baru. Volume transaksi naik sekitar Rp150 miliar hingga Rp200 miliar,” ujar Imam seperti dilansir laman CNNIndonesia.com, Rabu (15/3/2017).

Untuk mencapai target tersebut BNI Syariah pun memasang sejumlah strategi seperti meluncurkan serangkaian paket wisata halal serta keperluan gaya hidup islami lainnya, sambungnya.

Head of Syariah Sales and Distribution CIMB Niaga Diah Rahma Paramaiswari justru memiliki strategi cukup berbeda dalam membidik nasabah kartu pembiayaan syariah. Dalam menawarkan produk syariahnya, CIMB Niaga Syariah akan memanfaatkan para nasabah konvensional existing dari sang induk untuk beralih menggunakan kartu pembiayaan syariah.

Tahun 2016, CIMB Niaga Syariah telah mengedarkan sebanyak 239 ribu keping kartu pembiayaan syariah, dengan plafon tertinggi mencapai Rp100 juta. “Tahun ini kami menargetkan 500 ribu tahun ini,” ujar Diah.

Dilanjutkan, guna menarik nasabah konvensional menggunakan produk syariah, bukan perkara mudah. Perseroan harus menyiapkan daya tarik yang berbeda dibandingkan dengan produk-produk konvensional lainnya, seperti menawarkan paket wisata sekaligus ibadah dengan potongan harga maupun cicilan ringan dengan jangka panjang.

“Misalnya saat ini kami menawarkan cicilan umrah kerja sama dengan para travel agen. Umrah dengan cicilan ringan atau bahkan bisa sampai 0 persen, tergantung deal dengan travel agen yang sudah bersertifikat halal,” ujarnya.

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata, Pemerintah Daerah, Association of the Indonesia Tours & Travel Agencies (ASITA) yang menyebutkan potensi jumlah wisatawan halal tourism sebesar 15 juta wisatawan dengan jumlah transaksi sekitar Rp223 triliun. (*/CIO)

LEAVE A REPLY