William Satriaputra de Weerd: Just follow your heart, and everything it will be alright.

0
934
William Satriaputra de Weerd, eksekutif yang menjadi orang nomor dua di Samsung Electronics Overseas dan Samsung Electronics Europe Holding ini menyelenggarakan training pembentukan karakter mulia bagi masyarakat di Eropa dan segera merambah benua Afrika. (foto koleksi William)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Just follow your heart, and everything it will be alright. Kalimat bijak ini rupanya bukan hanya memotivasi seorang William Satriaputra de Weerd untuk mengikuti kata hatinya, tapi juga telah memotivasi sedikitnya 885 orang alumni pelatihan Emotional Spiritual Quotient ( ESQ) di Eropa yang bermula dari sebuah pelatihan membentuk karakter mulia di Sekolah Dasar Islam, Breede El-Amien School di Amsterdam sembilan tahun yang lalu.

Seperti halnya Ary Ginanjar Agustian, pendiri  ESQ Leardership Center ( ESQ LC), William Satriaputra de Weerd yakin sesuatu yang besar tentu bermula dari satu titik saja. Begitu pula dengan keberadaan ESQ di Eropa, bermula dari training di sebuah sekolah di Amsterdam maka pada 13-14 April 2015 mendatang akan merambah Afrika dengan training pertama di KBRI di Rabat, Maroko.

ESQ LC adalah  lembaga pelatihan sumber daya manusia yang bertujuan membentuk karakter melalui penggabungan  tiga potensi manusia yaitu kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual . Selama ini, ketiga potensi tersebut terpisah dan tidak didayagunakan secara optimum untuk membangun sumber daya manusia. Akibatnya, terjadi krisis moral dan split personality yang berdampak pada turunnya kinerja. Lebih buruk lagi, mereka menjadi manusia yang kehilangan makna hidup serta jati dirinya.

Training ESQ adalah solusi untuk menjawab permasalahan tersebut dengan menggunakan metode spiritual engineering yang komprehensif serta berkelanjutan. Melalui training ESQ, ketiga potensi manusia digabungkan dan dibangkitkan sehingga terbentuk karakter yang tangguh, peningkatan produktivitas sekaligus melahirkan kehidupan yang bahagia dan penuh makna .

Training di Maroko ini dipastikan dapat mempererat hubungan bilateral kedua negara. Hubungan persahabatan Indonesia dengan negeri di kawasan Afrika Utara ini sudah terjalin selama setengah abad lebih.

Pada pertengahan abad ke 14 M melalui pengembara sekaligus sosiolog muslim Maroko bernama Ibnu Battutah di kerajaan Samudera Pasai-Aceh dan melalui Maulana Malik Ibrahim, sesepuh Wali Songo asal Maroko yang dikenal dengan nama Sunan Gresik, datang untuk berdagang dan menyebarkan agama Islam di Indonesia.

Indonesia aktif mendorong Maroko dalam Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan di Bandung pada 1955 dan setahun setelah itu, tepatnya tanggal 2 Maret 1956, Maroko meraih kemerdekaannya. Hari itu juga hubungan diplomatik antara dua negara ini terjalin ditandai dengan dibukanya Kantor Kedutaan Besar RI di Rabat.

Beberapa minggu kemudian, Presiden Soekarno beserta rombongan tiba di Rabat. Dan mendapat sambutan hangat dari Raja Mohammed V dan rakyat Maroko. Presiden Soekarno dianggap tokoh yang berperan dalam kemerdekaan bangsa-bangsa Asia-Afrika, termasuk Maroko.

Nama Soekarno pun dijadikan sebagai nama jalan disana. Begitu juga nama Jakarta dan Bandung turut dijadikan sebagai nama jalan di negeri matahari terbenam tersebut.Tiga tahun terakhir Bahasa Indonesia resmi diajarkan sebagai mata kuliah di Universitas Mohamed V Rabat Maroko sebagai bahasa pilihan dengan 4 SKS.

Sebuah pengabdian

Tidak heran, sebagai satria ESQ di perantauan, William yakin training ESQ juga akan merambah di Afrika bukan hanya di Rabat tetapi juga kota-kota besar lainnya di Maroko maupun negara-negara lain di benua ini.Meskipun untuk itu akan membutuhkan sebuah pengabdian yang panjang.

“Segala sesuatu hal bila Allah berkehendak maka dalam hitungan bulan sudah dapat terrealisir. Oleh karena itu untuk mewujudkan salah satu strategi adalah membangun network dan memanfaatkan momentum untuk sosialisasi ESQ kemana-mana,” ungkap orang nomor dua di Samsung Electronics Overseas dan Samsung Electronics Europe Holding ini.

Hidup dan tinggal selama 25 tahun bersama istri tercinta Emma Rodini dan anak-anaknya di Belanda membuat William paham betul sang waktu menjadi saksi sejarah, bagaimana sebuah visi berkembang. Sang waktu melihat sebuah perjalanan misi yang digerakkan oleh hati  berdasarkan keyakinan, pandangan jauh kedepan sehingga  membuahkan hasil yang terkadang  tak terbayangkan.

Sebuah pengabdian tanpa batas yang bukan hanya mengeluarkan uang, tenaga, pikiran dan waktu libur bersama keluarga tapi juga kerab menguji iman manakala keinginan untuk berjuang menghadapi kendala pekerjaan.

Maklum sebagai seorang eksekutif Samsung dengan wilayah kerja dari Rusia hingga Mongolia, William kadang harus memilih membatasi medan dakwah karena tuntutan sebagai seorang profesional di perusahaan kelas dunia.

“Kalau dihadapkan situasi seperti itu, saya memotivasi diri dengan petuah yang mengatakan tembaklah bintang dengan anak panahmu. Aku tahu anak panahmu tidak akan menjangkau bintang tersebut, tapi dia akan terbang lebih tinggi dari pada apa yang kau arahkan sejajar dengandirimu sendiri” ungkapnya.

Peserta training ESQ Eropa, trainer dan tim support menyebarkan  gelombang spiritual bernama ESQ yang  mampu mengisi dan mengasah ruang batin para pengembara yang berada ditengahnya kekosongan spiritual  kehidupan di Dunia Barat. (foto koleksi William  Satriaputra)
Peserta training ESQ Eropa, trainer dan tim support menyebarkan gelombang spiritual bernama ESQ yang mampu mengisi dan mengasah ruang batin para pengembara yang berada ditengah kekosongan spiritual kehidupan di Dunia Barat. (foto koleksi William Satriaputra)

Kilas balik
Tanpa terasa  FKA ESQ di Eropa akan menapaki usia yang ke sembilan pada tanggal 16 Mei 2015. Masih melekat dalam ingatan ketika William bersama komunitas kecilnya bertekad menyelenggarakan training pertama kali di sekolah Islam di Amsterdam itu.

“Kita sulit mencari ruang training yang memenuhi syarat, mencari waktu yang tepat,  meyakinkan peserta secara door to door dari berbagai kota yang cukup berjauhan bahkan dari luar negeri. Kami bahkan harus menyiapkan Asistant Training Staff ( ATS)  untuk penitipan anak karena hidup di luar negri tidak ada pembantu dan suster,”

Training angkatan kedua di tempat yang sama diikuti oleh 9 orang bule muslim, peserta datang dari berbagai kota di Belanda bahkan ada yang dari Belgia, Singapura, Jerman dan Suriname yang kembali mengguncang Amsterdam.

John Koeman seorang peserta trainer di bidang bisnis dan komersil terkesan dengan materi Maslow yang dibalik. Peserta lainnya Ruud Wasman terkesan dengan teori Big Bang dan Asmaul Husna.“ Ternyata sifat-sifat Tuhan ada dalam kehidupan. Saya baru tahu soal Asmaul Husna, katanya

Peserta lainnya adalah Michael Hoogendam yang menjadi mualaf sejak 1990 dan langsung mendapat pencerahan dengan mengatakan bahwa dasar dan prinsip training ESQ sangat bagus. masuk akal dan pasti banyak yang tertarik. Michel kemudian rajin menceritakan pengalaman training ESQ dan mengajak teman-teman bergabung.

Di Belanda, FKA ESQ Eropa telah menyelenggarakan 9 Angkatan CB1, 2 Angkatan CB2 dan 2 Angkatan Parenting. Di Helsinki, Finlandia 1 Angkatan CB1. Di Madrid, Spanyol 1 Angkatan CB1. Di Brussel, Belgia 1 Angkatan CB1 dan 1 Angkatan Parenting. Di Jerman 2 Angkatan CB1 masing-masing di Munich dan Darmstadt serta 1 Angkatan CB2 dan 1 Angkatan CB3 di Schlitz. Preview, telah diadakan di Stockholm, Swedia dan Hamburg dan Jerman.

“Pengalaman menarik terjadi di Madrid, Spanyol ketika 30% peserta yang beragama katolik dan juga ada yang beragama Budha dan Hindu ikut tersungkur dan mengakui akan keindahan Islam. Inner journey mampu menyadarkan manusia akan kebesaran Allah yang telah menciptakan manusia. Kini jumlah alumni ESQ Eropa adalah 885 orang dan segera menembus 1 juta Inshaa Allah setelah training melesat ke Afrika,”

Hidup di barat terasa begitu kering spiritualitas, miskin perasan sementara logika mendominasi dengan kuat, sifat individualis dan tidak mau tahu agama dan budaya lain merebak. Hidup di belahan dunia Barat ini penuh cobaan dan godaan, pergaulan bebas, narkoba, pola pikir sekuler dan rasionalitas tinggi.

“ Namun itu semua tidak mampu membendung  gelombang spiritual bernama ESQ. Semoga training ESQ mampu mengisi dan mengasah ruang batin para pengembara yang berada ditengahnya kekosongan spiritual dan peradaban penuh cahaya di muka bumi dapat terlaksana. Aamiin,” kata William mengakhiri chattingnya. (hildasabri@yahoo.com)

LEAVE A REPLY