Waspadai Penyakit Difteri Selama Berlibur

0
50

Bus wisata membawa rombongan Ring Satu tour ke Jogjakarta. Aktivitas berlibur di akhir tahun, waspadai virus Difteri.

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Libur akhir tahun tinggal beberapa hari lagi. Mereka yang suka melancong, mungkin sudah cuti duluan dari pekerjaannya dan sudah jalan-jalan ke mancanegara atau ke kota-kota lain di Indonesia.

Musim liburan seperti sekarang ini terkadang orang lupa memperhatikan kesehatan dirinya. Kalau sudah berkumpul semua terasa nyaman dan enak, termasuk dengan makanan, kebersihan lingkungan, dan lainnya terabaikan. Sehingga tanpa disadari penyakit pun hinggap ke dalam tubuh, termasuk penyakit yang ditularkan oleh orang lain.

Untuk itu setiap orang harus selalu waspada, baik saat melakukan perjalanan wisata atau pun tidak. Musim hujan beragam virus dan bakteri siap mengintai dan menyerang tubuh. Apalagi ditambah dengan upaya kesehatan masyarakat yang masih kurang.

Kini penyakit yang lama tak terdengar lagi namanya, hadir kembali dan menjadi hits belakangan ini. Yaitu Difteri. Kementerian Kesehatan bahkan menetapkannya sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), dan 20 provinsi telah melaporkan adanya difteri.

Difteri adalah infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat memengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa.

Menurut World Health Organization (WHO), tercatat sebanyak 7.097 kasus difteri yang dilaporkan di seluruh dunia pada 2016. Termasuk Indonesia tercatat sebanyak 342 kasus sejak 2011. Angka ini menempatkan Indonesia menjadi urutan ke-2 setelah India dengan jumlah kasus difteri terbanyak.

Dari 3.353 orang yang menderita difteri, 110 di antaranya meninggal dunia. Hampir 90% dari orang yang terinfeksi, tidak memiliki riwayat imunisasi difteri yang lengkap.

“Ini adalah buah dari marginalisasi Upaya Kesehatan Masyarakat, karena rendahnya cakupan imunisasi DPT,” kata Prof. Budi Hidayat, SKM, MPPM, PhD, Ketua Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan (Centre for Health Economics and Policy Studies/CHEPS), FKM UI ini di Jakarta.

Menurut dia, dalam pelayanan kesehatan upaya kesehatan perorangan (UKP) dan upaya kesehatan masyarakat (UKM) harus seimbang. Namun kini, di era Jaminan Kesehatan Masyarakat (JKN), dirasakanpelayanan kesehatan perorangan lebih mendominasi, dibandingkan dengan pelayanan kesehatan masyarakat. Dukungan secara eksplisit pada UKP lambat laun menyebabkan pengambil kebijakan kian fokus pada UKP dan seakan menganak-tirikan UKM. Terdapat penurunan kinerja UKM sejak lahirnya JKN.

Studi CHEPS UI berdasarkan Susenas 2013 dan 2015, menunjukkan adanya penurunan cakupan imunisasi dan ASI eksklusif masing-masing sebesar 14% dan 63% sebelum dan sesudah adanya JKN.

Prof Budi Hidayat mengatakan, permasalahan UKM sejatinya sangat kompleks mulai dari pendanaan yang sangat kecil, terkendalanya pemanfaatan dana, serta berbagai isu operasional di puskesmas.

Secara praktis, contoh pada kasus dana BOK (Bantuan Operasional Kesehatan) terjadi peningkatan pendanaan secara konsisten dari tahun 2013 hingga 2015 namun penyerapan dananya justru cenderung menurun.

“Hal ini diperparah dengan kurangnya obat, fasilitas, SDM kesehatan masyarakat akibat moratorium, dan sibuknya Puskesmas melayani lonjakan pasien JKN yang datang berobat sehingga keteteran menjalankan program promotif dan preventifnya. Padahal dia adalah ujung tombak UKM,” tambah Prof. Dr. Hasbullah Thabrany, MPH, DrPH, Konsultan ekonomi dan Pembiayaan Kesehatan, Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN).

Penguatan UKM diharapkan dapat menekan angka morbiditas yang membebani JKN dan mengurangi laju defisit pembiayaan di masa mendatang. Upaya kesehatan masyarakat diyakini mampu mengendalikan biaya kesehatan karena menjaga masyarakat tetap sehat, menurunkan risiko terjadinya suatu penyakit, termasuk penyakit kronis yang berbiaya mahal.

Saat berwisata perhatikan asupan makan dan waspadai bersin dan batuk yang menyerang peserta tour.

Gejala Difteri

Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae.  Penyebarannya bisa terjadi dengan mudah, terutama bagi orang yang tidak mendapatkan vaksin difteri. Beberapa cara penularannya yang perlu diwaspadai antara lain terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Bisa juga lewat barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk.

Difteri umumnya memiliki masa inkubasi 2-5 hari sejak bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul 2-5 hari. Gejala-gejala penyakit ini antara lain demam dan menggigil, sakit tenggorokan dan suara serak, sulit bernapas atau napas yang cepat, pembengkakan kelenjar limfe pada leher, lemas dan lelah, pilek. Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah.

Penyakit ini terkadang juga menyerang kulit, dan menyebabkan luka seperti borok. Bisa akan sembuh dalam beberapa bulan, tapi biasanya ada bekas pada kulit.

Jadi, bila dalam perjalanan liburan Anda merasakan atau mengalami gejala difteri tersebut, sebaiknya segera ke dokter, untuk mencegah komplikasi yang muncul nantinya. (bundayoely@gmail.com)

LEAVE A REPLY