Visa Wisata Disalahgunakan, Turis Spanyol & Australia Dicokok di Lombok

0
63
Ilustrasi

LOMBOK, Bisniswisata.co.id: Tiga wisatawan asal Spanyol dan Australia dicokok di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Penangkapan ini lantaram menyalahgunakan visa wisata dengan melakukan bisnis ilegal. Mereka diringkus dalam operasi gabungan tim pengawasan orang asing (timpora) dari Imigrasi Kelas I Mataram, Polda dan Kanwil Kementerian Hukum dan HAM NTB.

Ketiga turis asing itu, AJ (53) dan IR (34) warga Spanyol. Keduanya ditangkap di kawasan wisata Gili Air, Kabupaten Lombok Utara (KLU). Sedangkan, satu lagi berinisial JW (71) warga Australia ditangkap di Kabupaten Lombok Barat (Lobar).

“Ketiga orang ini kita tangkap karena berbisnis di Indonesia, sementara dokumennya, visa wisata selama satu bulan,” ungkap Kepala Seksi Informasi dan Sarana Komunikasi Imigrasi Mataram, Azhan Miraza di Mataram seperti dilansir Antara, Jumat (13/10).

Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian Kelas I Mataram, Ramdhani, mengatakan tertangkapnya ketiga pelancong berdasarkan laporan dari masyarakat terhadap maraknya pelanggaran keimigrasian. Laporan ditindaklanjuti dengan melakukan penyelidikan. Sehingga ditemukan tiga turis. “Ada pelanggaran izin. Mereka gunakan visa wisata selama satu bulan tapi disalahgunakan,” katanya.

Ia menuturkan, AJ (53) sendiri sudah tinggal selama lima tahun dan memiliki tempat usaha menyewakan bungalow di kawasan wisata Gili Air. Sedangkan, IR bertindak sebagai manajer pemasaran dan diketahui sudah tinggal satu bulan ini. Kedua WNA Spanyol ini memasang tarif Rp 700 ribu per malam.

Sedangkan, JW (71) ditangkap di rumahnya di kawasan wisata Senggigi. Ia ditangkap karena menjalankan usaha penyewaan rumah kepada ekspatriat yang ada di Lombok dengan tarif Rp 300 ribu per malam. Diketahui, ia sudah tinggal selama dua tahun di Lombok dan 20 tahun sudah tinggal di Indonesia dengan bolak balik Bali dan Lombok. “Kalau warga Australia datang ke Indonesia menggunakan Kitas lansia. Tapi melakukan bisnis menjual dan penyewaan properti,” terangnya.

Menurutnya, saat ini kasus ketiga WNA tesebut sedang didalami lebih lanjut, termasuk, berapa keuntungan yang sudah didapat selama berbisnis di Lombok. Bahkan, untuk pemeriksaan lebih lanjut, ketiganya sudah ditahan di Imigrasi Mataram.

“Ketiganya diduga melanggar pasal 122 UU Nomor 6 tahun 2011 tentang Keimigrasian. Jika terbukti ada dua kita deportasi atau paling berat mereka bisa di kenakan sanksi pidana selama lima tahun dan denda Rp 500 juta,” katanya. (*/ANT)

LEAVE A REPLY