Ulos “Sadum” Meriahkan Festival Danau Toba 2014

0
1088

JAKARTA, Bisniswisata.co: Ulos atau yang disebut kain ulos berbentuk selendang tak bisa dipisahkan dari kehidupan orang Batak. Kain ini merupakan salah satu busana khas Indonesia yang dikembangkan oleh masyarakat Batak, Sumatera Utara serta memiliki peranan penting bagi kehidupan orang Batak.

Awalnya, ulos hanya difungsikan untk menghangatkan badan. Dalam budaya Batak dikenal istilah‘mengulosi’. Ini berarti menghangatkan badan menggunakan ulos. Dalam mengulosi ada aturan yang wajib dipatuhi, di antaranya yakni seseorang hanya diperkenankan mengulosi berdasarkan kekerabatan dari yang lebih tua ke yang lebih muda. Contohnya orangtua dapat mengulosi anaknya, namun anak tidak diperkenankan mengulosi orangtuanya.

Setiap ulos mempunyai fungsi, sifat, keadaan, dan kaitan dengan benda atau hal-hal tertentu. Dalam kepercayaan suku Batak, terdapat tiga unsur dasar yang melandasi kehidupan manusia yakni panas, darah, dan nafas. Nafas dan darah adalah unsur yang diberikan oleh Tuhan sedangkan unsur panas tidak selalu merupakan dari Tuhan.

Panas dapat berupa api, matahari, atau panas buatan manusia. Panas matahari belum mampu menangkal udara dingin malam di pemukiman masyarakat Batak. Ulos telah menjadi sumber panas selain api dan matahari. Oleh sebab itu, ulos berfungsi untuk memberi panas yang menyenangkan dan menyehatkan.

Selain memiliki nilai filosofi, kain ini memiliki nilai histori yang cukup tinggi pula (seperti yang terlihat di Museum Batak TB Silalahi) Ulos merupakan salah satu peradaban tertua di Asia yang sudah ada sejak 4.000 tahun lalu pada kebudayaan Batak. Bahkan ulos telah ada jauh sebelum bangsa Eropa mengenal tekstil.

Suku Batak zaman dulu tinggal di daerah dataran tinggi yang sangat dingin. Awalnya, suku Batak mengandalkan api dan matahari untuk melawan dinginnya udara tersebut. Namun mereka sadar bahwa mereka tidak bisa memerintah matahari sesuai keinginannya. Di siang hari, mendung kadang tidak bersahabat. Sedangkan saat malam hari, udara dingin semakin menjadi. Api sebagai alternatif kedua tidak cukup praktis digunakan saat tidur karena sangat berisiko. Akhirnya mereka pun menemukan alternatif lain yang lebih praktis yaitu dengan membuat kain tebal dan lembut. Kain tersebut dibuat dengan motif yang indah. Kain tersebut selanjutnya diberi nama ulos (selendang).

Bagi suku Batak, kain ulos menjadi bagian penting untuk ritual adat Batak. Jika dalam sebuah upacara adat ulos tidak diguanakan misalnya saat upacara kematian, lahiran, pernikahan, dan upacara-upacara lainnya, upacara tersebut dianggap tidak sah.

Kain ulos didominasi oleh warna hitam, merah, dan putih. Kain ini biasanya ditenun menggunakan benang berwarna perak atau emas. Konon, ada ulos jenis tertentu yang dipercaya memiliki unsur magis dan dianggap keramat. Saat ini ada banyak jenis ulos yang digunakan oleh suku Batak. Jenis-jenis tersebut misanya ulos si tolu tuho, ulos rujjat, ulos suri-suri, ulos ragi idup mangiring, ragi idup silindung, ulos sadum, dan masih banyak jenis ulos lainnya.

Rekor Muri Ulos Sadum

Ulos Sadum jenis inilah yang ditampilkan dan meraih rekor MURI pada Festival Danau Toba 2014. Bank Indonesia Perwakilan Sumut-Aceh menyumbangkan ulos sepanjang hampir 500 meter untuk meraih rekor MURI.

“Lebih tepatnya 426 meter karena ada penyusutan sekitar 23 persen. Lebar sekitar satu meter. Pengerjaannya memakan waktu kurang lebih delapan bulan yang dikerjakan oleh 20 orang penenun,” ujar Sianipar pengusaha sekaligus pimpinan dari para penenun Ulos Sadum untuk rekor Muri kepada Bisniswisata.co saat ditemui di acara pembukaan FDT 2014 di TB Center Balige, Tobasa, Sumut, Rabu (17/9/14).

Dalam waktu delapan bulan bukan berarti tidak ada kendala yang dihadapi Sianipar dan para penenunnya. “Stresnya banyak, ketika penarikan susunan benang, benang akan senjang. Bila cara penggulungan benangnya tidak bagus maka benang akan bergeser, gak bagus lagi. Benang tidak boleh sampai putus, risikonya banyak,” ungkapnya.

“Motivasi ikut membuat Ulos Sadum, tepatnya Ulos Sadum Toba ini supaya masyarakat tahu agar menjaga tradisi ulos, dan budaya membuat ulos tidak hilang. Dari 426 meter ini bila dipotong bisa menghasilkan kurang lebih 220 lembar ulos”, tuturnya.

Pencatatan rekor Muri Ulos Sadum yang penuh dengan motif dan warna ceria ini dilakukan di TB Center Balige, untuk selanjutnya dibawa dan dibentangkan oleh 300 siswa/siswi SMA ke Lapangan Sisingamangaraja XII, Balige, Tobasa, Sumut.

Meskipun ulos pada umumnya berbentuk selendang atau kain yang dipergunakan pada acara tertentu, tapi kini bisa berbagai macam bentuk, seperti yang terlihat di stan pameran FDT di Lapangan Sisingamangaraja XII dijumpai ulos dalam bentuk produk sovenir, sarung bantal, ikat pinggang, tas, pakaian, alas meja, dasi, dompet, dan gorden.

Kini ulos pun menjadi kebutuhan primer, karena bisa juga dijadikan bahan pakaian yang indah dengan motif-motif yang menarik dan semakin digemari karena praktis.(Yeffi Rahmawati)

LEAVE A REPLY