Turis Inggris diminta tidak bertransaksi pakai poundsterling di luar negri

0
3707

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id:  Masyarakat Inggris begitu lekat dengan kebiasaan melancong ke belahan dunia lainnya. Namun, di balik derasnya arus kunjungan wisatawan Inggris ke berbagai negara, ada pihak yang diduga berusaha mengambil keuntungan. Sebut saja dari sektor perbankan.

Agar tak menjadi korban penipuan konversi mata uang, wisatawan diminta membayar tagihan dalam mata uang poundsterling ketika tengah melancong ke negara lain. Demikian laporan yang dilansir laman Daily Mail.

Imbauan itu merujuk pada data yang menyebutkan dari transaksi debit dan kartu kredit yang digunakan wisatawan di luar wilayah Inggris, terdapat dana tambahan rerata sebesar 300 juta poundsterling setiap tahunnya yang diakumulasikan dalam dynamic currency conversion (DDC) rates. Praktis, pundi-pundi bank maupun pelaku usaha (merchant) kian ‘menggendut’.

Bagaimana bisa terjadi demikian? Wisatawan Inggris ternyata kerap memilih memakai mata uang pound sterling ketimbang memakai mata uang lokal saat membayar dengan kartu kredit atau debit. Sayangnya, mereka seolah tidak sadar ada biaya tambahan sebesar 4% dari total tagihan ketika memilih opsi pound sterling.

Persoalan itu bermula dari pilihan transaksi pembayaran yang ditawarkan oleh terminal chip-pin atau ATM baik melalui mata uang lokal maupun pound sterling. Begitu menekan tombol ‘yes’, yang terjadi kemudian ialah wisatawan selaku nasabah menyetujui bank untuk menerapkan konversi dinamis mata uang dari parameter nilai jual atau tukar yang cenderung meningkat. Padahal sebagaimana mestinya, sudah ada biaya dari bank untuk transaksi dengan kartu.

“Ini berarti Anda secara tidak sengaja memberikan keleluasan bagi perbankan mengenakan nilai tukar lebih tinggi. Selagi bisa, tolak DCC dan minta tagihan dalam mata uang lokal,” ujar Andrew Hagger dari Moneycomms.co.uk kepada The Times.

Menurut Managing Director for Currency Specialist dari firma Caxton FC, James Hickman, wisatawan juga patut waspada saat membayar tagihan di restoran. Sebab pemilik restoran suka bertindak ‘nakal’ dengan sengaja memberi fasilitas pembayaran dalam pound sterling ketimbang memakai mata uang lokal.

“Padahal itu bisa menambah biaya pelayanan hingga 4% dari nilai transaksi yang terkesan dilegalkan sebagai biaya tambahan,” cetus James. Wisatawan dikatakan James tidak boleh lengah mengingat hal tersebut sudah dikategorikan penipuan. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY