Travel Agent Daerah Antusias Pelajari Platform Astindo Hub

0
108

Sjachrul Firdaus ( kanan), Direktur Eksekutif Astindo saat menjelaskan pada Menpar Arief Yahya produk training center, sertifikasi LSP ATDA dan Astindo Hub di arena pameran ( foto: Hilda Sabri Sulistyo)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Astindo Fair 2017 di JCC berakhir dan penyelenggara puas karena travel agent konvensional dari daerah dapat mempelajari Astindo Hub dan siap berubah untuk membantu mereka memahami pemasaran digital di era global, kata Sjachrul Firdaus, Direktur Eksekutif Astindo, hari ini.

“Selama berlangsung Astindo Fair 23-26 Maret 2017, booth ( stand) Astindo Hub melakukan sosialisasi semua produk Astindo seperti training center, lembaga sertifikasi ATDA maupun produk terbaru kami Astindo Hub, kata pria yang akrab dipanggil Firdaus.

Menurut dia Astindo Hub adalah sebuah platform, aplikasi dan layanan terintegrasi untuk melayani sedikitnya 700 anggotanya memanfaatkan tekhnologi digital dengan optimal serta biaya murah sebagai karya anak bangsa.

Sistem ini dengan mudah membantu para anggotanya yang bergerak dibidang travel agent untuk melakukan upgrade dari usaha konvensional menjadi online, tanpa perlu melakukan persiapan dan manajemen sumber daya teknologi yang rumit maupun dengan nilai investasi tinggi.

“Alhamdulilah travel agent daerah antusias memahami Astindo Hub apalagi Menteri Pariwisata Arief Yahya pada pembukaan (24/3) sudah mengingatkan travel konvensional yang tidak mau berubah akan mati ( dying) dengan sendirinya tak mampu bersaing dengan travel online,” tambahnya.

Menurut Sjachrul Firdaus pada pembukaan Menpar Arief Yahya mengatakan bahwa Kemenpar sejak akhir tahun lalu sudah meluncurkan Indonesia Travel Exchange ( ITX), sebuah marketplace digital dari Kemenpar, tempat bertemu pelaku bisnis pariwisata dalam memasarkan produk secara online.

Dengan ITX, Seller dapat memasarkan live inventory kepada Buyer .Sedangkan Buyer mendapat kemudahan memperoleh inventory pariwisata Indonesia yang lebih banyak dan berkualitas.

“ Sudah 70% travel agent yang memanfaatkan ITX karena mendukung pelaku pariwisata Indonesia Go Digital dengan meningkatkan customer experience secara komprehensif dan biaya efektif,” ujar Menpar Arief Yahya.

Pemerintah, kata Menpar, harus hadir untuk melindungi travel agent di daerah yang masih kategori UKM dimana mereka tidak sanggup bersaing dengan travel online dengan modal besar.

“Negara harus hadir untuk melindungi UKM beruntung di sektor pariwisata tidak ada gejolak antara media transportasi konvensional dan online seperti di Kementrian Perhubungan,” kata Arief Yahya.

Dia mengaku manual travel agent protes kepada pemerintah untuk menutup ‘online travel agent’. Sedangkan sekarang online keniscayaan. Bukan melarang ‘online travel agent’ tapi menyediakan ‘online travel platform’ untuk manual travel agent, jelasnya.

ITX disediakan agar para pengusaha pariwisata yang manual ini bisa mentransformasikan diri menjadi ‘online’ (daring) karena kalau mereka harus menyediakan sistemnya sendiri tidak mungki.  Jadi dengan ITX mereka tidak perlu investasi sendiri-sendiri tapi bisa membuat pelayanan lebih mudah dan harga murah.

Bisa dipastikan, kata Arief Yahya, manual travel agent nasibnya akan sama dengan wartel sebagai ‘walk in service’ TAHUN 1990 an,  tapi sekarang punah setelah kemunculan ponsel.

Sjachrul Firdaus mengatakan langkah Kemenpar menawarkan ITX dan asosiasinya yang namanya sudah bertransformasi dari nama Asosiasi Perusahaan Penjual Tiket Penerbangan Indonesia menjadi Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) menyediakan Astindo Hub akan membuat travel agent lebih siap menghadapi layanan digital.

“Banyak travel agent konvensional di daerah yang bahkan tidak memahami dan belum memakai sistem ticketing seperti Amadeus, Galileo dan lainnya. Jadi memang mereka harus belajar beradaptasi dengan bisnis di era digital,” kata Firdaus.

Astindo yang dibawah pembinaan Ditjen Perhubungan Udara adalah konsolidator terutama dalam menghadapi tata niaga penjualan tiket penerbangan yang dianggap kurang kondusif bagi Travel Agent.

Oleh karena itu pihaknya membangun satu Platform atau system keseluruhan yang dapat mengakomodir semua business process Travel Agent, sehingga selain menjadikan anggotanya dapat berperan sebagai Online Travel Agent (OTA), juga dapat menerapkan konsep konsolidato dengan Astindo Hub, tegasnya. ( Hilda Ansariah Sabri)

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY