Trashbag Community Bersih-bersih Sampah di 17 Gunung

0
227
Trashbag Community mengangut sampah di Gunung (Foto: MediaIndonesia.com)

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Wisata mendaki gunung kini semakin populer. Dampaknya membuat gunung-gunung di Tanah Air kian ramai. Beberapa gunung di Jawa Barat bahkan sudah seperti pasar di musim liburan. Sayangnya, kesadaran wisatawan mendaki gunung masih jauh terkait sampah yang dibawa. Dengan seenak udelnya, mereka membuang sampah sembarangan. Gunung menjadi kawasan pembuangan sampah.

Namun, ada suasana yang berbeda di tiga gunung di Jawa Barat dan 14 gunung lainnya di Indonesia pada Agustus lalu. Selama dua hari dalam periode 14-24 Agustus, hadir pendaki-pendaki dengan perbekalan banyak kantong sampah. Tujuan mereka memang bukan sekadar berwisata, melainkan membawa turun sampah.

Mereka merupakan relawan yang tergabung dalam gerakan Gunung bukan Tempat Sampah yang digagas komunitas peduli sampah gunung, Trashbag Community. Tujuh belas gunung yang menjadi sasaran bersih-bersih relawan yang mencapai 1.470 orang itu di antaranya Gunung Halimun-Salak, Gunung Ciremai, Gunung Cikuray, Gunung Slamet, Gunung Sindoro, Gunung Batur, dan Gunung Nokilalaki di Sulawesi Tengah.

“Kita prihatin karena kondisi gunung di Indonesia bukannya semakin asri, melainkan justru semakin kotor. Kotornya itu justru dari para pendaki gunung itu sendiri yang padahal mereka naik gunung itu untuk menikmati gunung,” tutur Ketua Logistik Trash Bag Community, Mohammad Soleh, seperti dilansir laman Media Indonesia, Sabtu (09/09/2017).

Dari hasil kegiatan tersebut, Soleh menjelaskan kondisi kebersihan di Gunung Salak paling memprihatinkan. “Di Gunung Salak itu total sampah yang berhasil kita bawa turun berjumlah 696 kilogram. Itu mungkin masih banyak yang tidak bisa terangkut karena berada di tempat yang berbahaya seperti di tebing, jurang, dan rawan longsor,” kata Soleh.

Meski cukup senang gerakan komunitasnya berhasil menggandeng banyak orang, di sisi lain Soleh memiliki kekhawatiran mendalam. Pasalnya, tingkat jumlah volume sampah yang ada di 17 gunung di Indonesia sudah dipandang termasuk ke level kritis.

Hal itu disimpulkan dari pelaksanaan kegiatan bersih-bersih yang sudah berjalan beberapa tahun. “Data pastinya memang saya belum dapat, tapi dari dua tahun lalu kita adakan ini penambahan volume bisa mencapai 10%-20%. Jika itu terus dibiarkan, tentu sampah akan semakin menumpuk di setiap sudut pendakian dan pos pemberhentian,” tambahnya.

Kerusakan dan pencemaran lingkungan yang dimaksud Soleh ialah kualitas tanah, air, dan udara. Menurutnya, di beberapa lokasi telah terlihat pohon dan tanaman yang sulit tumbuh. Bukan hanya itu, bau sampah juga sudah menyengat dan pada akhirnya bisa membuat gunung kehilangan pesonanya.

Kekecewaan akan sikap para pendaki yang tidak memperhatikan kelestarian gunung juga diungkapkan anggota masyarakat yang ikut menjadi relawan dan merupakan anggota gerakan swadaya pengelolaan Gunung Salak, Hamim Pasirrengit.

Hamim menuturkan ia bersama warga lainnya telah sering mengimbau pendaki untuk tidak meninggalkan sampah di gunung. Namun, sikap kepedulian dan rasa memiliki terhadap gunung tampaknya masih sangat rendah. “Warga tidak punya cukup sumber daya untuk melakukan bersih-bersih gunung secara rutin,” sambungnya,

Ia pun sangat mengapresiasi kegiatan rutin dua tahun bersih-bersih gunung yang dilakukan Trash Bag Community. Kegiatan tersebut sangat membantu pihak pengelola untuk mengurangi jumlah sampah yang ada di gunung serta membersihkan gunung dari pencemaran.

“Karena kalau sampai sampah sudah menumpuk, kena hujan dan jatuh ke sungai, tentu itu akan menciptakan pencemaran yang luar biasa. Padahal, air dari gunung itu digunakan sebagai air minum untuk seluruh masyarakat di daerah sekitar,” keluhnya. (*/MIO)

LEAVE A REPLY