Tradisi Makan Saro Ramaikan Pameran Direct Promotion Papua, Papua Barat, Maluku dan Maluku Utara

Direktur Promosi Luar Negeri Kemenparekraf, Nia mengajak pengunjung dalam jamuan makan tradisi "Saro" pada acara DP Papua, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara di Mal Discover Kuta, Bali, Sabtu (25/10/14)

0
1131

KUTA-BALI, Bisniswisata.co.id: Tidak hanya tari-tarian daerah yang menghibur pengunjung, tradisi unik dalam menyuguhkan makanan, seperti tradisi Makan Saro di Mal Discover Kuta, Bali pada Sabtu malam (25/10/14) menjadi salah satu tradisi unik yang dilakukan pada acara Direct Promotion (DP) potensi produk, pariwisata, dan ekonomi kreatif Provinsi Papua dan Papua Barat, serta Maluku dan Maluku Utara.

Makan Saro ini biasanya dilakukan pada saat pesta perkawinan, khitanan, dan khataman (tamat) Qur’an. Tradisi makan bersama ini sampai sekarang masih hidup dalam masyarakat Tidore, Provinsi Malut dan tentunya juga di lingkungan Kesultanan Tidore.

Pada DP Maluku dan Malut yang digelar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) di Bali, tradisi Makan Saro ini menjadi bagian acara pembukaan pameran mempromosikan potensi produk, pariwisata, dan ekonomi kreatif Provinsi Papua dan Papua Barat, serta Maluku dan Maluku Utara.

Direktur Promosi Luar Negeri Kemenparekraf, Nia Niscaya bersama lima pengunjung mal menjadi tamu kehormatan dalam tradisi Makan Saro untuk pesta perkawinan.

Pada tradisi Makan Saro yang sebenarnya, ada tiga meja makan yang disiapkan. Meja pertama diperuntukkan bagi sultan, pejabat pemerintah, pemuka agama, dan tokoh masyarakat. Meja kedua, untuk kaum perempuan, dan meja ketiga untuk para laki-laki. Pada acara DP Maluku dan Malut di Bali kali ini hanya ada satu meja makan panjang dan enam kursi berhadapan.

Kedua mempelai pria dan perempuan yang mengenakan pakaian adat Tidore, duduk di ujung meja makan. Sementara para tamu duduk di sisi kiri dan kanan meja makan.

Ratusan pegunjung mal menyaksikan tradisi ini dari dekat, sambil mengabadikan gambar lewat kamera dan video. Ada juga yang berdiri dari lantai satu dan dua mal tersebut.

Di meja makan tersaji beragam menu antara lain nasi kuning dada (tumpeng) yang dipersiapkan untuk empat orang, boboto (ikan tuna), terong balado, ikan (tiga rasa saus; kecap, sereh, dan kacang), sambal goreng, daging semur, dan acar timun.

“ Karena tempatnya terbatas, kami juga sebenarnya ada nasi jaha di Tidore sama seperti nasi jaha yang ada di Manado. Nasi jaha ini dimasak dalam bambu dan menggunakan santan. Masyarakat Sumatera Barat menyebutnya dengan lemang,” ungkap pelaku kuliner Provinsi Maluku Utara, Salma Djae.

Nasi Jaha ini menurut Salma disusun 4,3,2,1 jadi 10, setiap susunan untuk empat orang. Disantap dengan srikaya kenari. Srikaya kenari terbuat dari santan kelapa, telur, gula pasir, kenari, dan daun pandan. Rasanya enak dan teksturnya lembut.

Makanan khas Malut termasuk Tidore dominan dengan kenari. Kenari ini digunakan untuk menggantikan kemiri. “Selain itu pada acara ini juga kami menghadirkan air guraka, sirup pala, sagu loyang, kenari goreng, pisang mulu bebe, dan singkong kuning,” ungkap wanita yang memiliki suara merdu dan hobi menyanyi ini.

Pada acara jamuan makan tersebut, sebelum bersantap, satu persatu tamu yang duduk dekat pengantin membawa masing-masing satu menu yang disajikan. Kemudian tamu tersebut memberikan kepada mempelai sambil memberi doa dan nasihat semoga langgeng dan bahagia. Yang menarik sambil memberi suapan, masing-masing tamu berteriak “Saro..”, sebanyak tiga kali.

Selain tradisi Makan Saro, sejumlah acara lainnya juga meramaikan hari pertama pameran DP produk, pariwisata, dan ekonomi kreatif Provinsi Papua dan Papua Barat, serta Maluku dan Maluku Utara, antara lain persembahan tarian tradisional “Pagur Sago”, live music, dan manari Poco-poco.

Kegiatan DP yang berlangsung pada 24-26 Oktober 2014 ini juga diikuti Pemerintah Kota Sorong, Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten Kaimana, Kabupaten Jayapura, Kota Jayapura, Kabupaten Tambrauw, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Halmahera Barat, Kabupaten Haltim, Kota Ternate, dan Kota Tidore.
Sebanyak 35 pelaku pariwisata seperti Biro perjalanan wisata/travel agent, resort/hotel, pengelola obyek wisata, diving operator, airlines dan pengrajin juga turut meramaikan kegiatan tersebut.

Kasubdit Wilayah Papua, Papua Barat, Maluku, dan Malut Maria Mayabubu, menambahkan, ”Promosi wisata langsung Wilayah Papua, Papua Barat, Maluku, dan Malut ini untuk ketiga kalinya. Diharapkan wisatawan baik masyarakat Bali maupun wisman kelak berkunjung ke wilayah ini”.
“Ada tiga pintu masuk wisatawan yang datang ke Indonesia, yakni Bali, Jakarta, dan Batam. Bali merupakan pintu masuk wisatawan terutama asal Australia, selain wisnus dari berbagai daerah. Itulah alasan mengapa kami memilih Bali sebagai lokasi DP ini,” tambah Maria. (evi)

LEAVE A REPLY