Tiwul Gunung Kidul Diburu Wisatawan

0
1151
Tiwul (foto: www.kartudiskonjogja.com)

YOGYAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: PUSAT oleh-oleh kuliner ringan, tiwul Yu Tum makanan khas Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, mengalami peningkatan permintaan hingga 50 persen dalam sepekan terakhir.

Pemilik Toko Tiwul Yu Tum Gunung Kidul Slamet Riyadi di Gunung Kidul mengaku hari biasa, produksi tiwul sekitar 200-250 tumpeng. “Saat libur Natal dan Tahun Baru 2016, permintaan tiwul meningkat hingga 50 persen. Kami menaikkan produksi tiwul setiap harinya,” kata Slamet.

Dijelaskan, pembuatan tiwul relatif sangat mudah. Bahan bakunya dari gaplek atau ketela pohon yang dikeringkan, kemudian dihaluskan menjadi tepung, lalu dikukus selama 15 menit. Dalam proses memasak tersebut, bisa ditambahkan gula atau kelapa yang sudah diparut.

“Permintaan konsumen kebanyakan rasa gurih sehingga tiwul yang siap dimakan dapat dicampur dengan kelapa parut. Tiwul juga dapat dimasak dengan rasa manis dengan menambahkan atau dicampuri gula merah saat dimasak,” kata Riyadi seperti dikutip laman Antara, Jumat (25/12/2015).

Menurut dia, Toko Tiwul Yu Tum miliknya dalam satu hari mampu menjual ratusan porsi kecil tiwul, atau sekitar 8 kuintal gaplek sebagai bahan bakunya setiap hari. Harga tiwul bervariasi, antara Rp 15 ribu dan Rp 35 ribu per porsi.

Tiwul adalah makanan pokok pengganti nasi beras yang melegenda bagi masyarakat Jawa, khususnya warga Pegunungan Kidul (Pacitan, Wonogiri, Gunung Kidul, Yogyakarta). Sebagai makanan pokok, kandungan kalorinya lebih rendah daripada beras namun cukup memenuhi sebagai bahan makanan pengganti beras.

Tiwul dipercaya mencegah penyakit maag, perut keroncongan, dan lain sebagainya. Tiwul yang rasanya sangat khas pernah digunakan untuk makanan pokok sebagian penduduk Indonesia pada masa penjajahan. Dan masa kini menjadi salah satu warisan kuliner bagi masyarakat Yogyakarta, terutama daerah Gunung Kidul.

Tiwul dibuat melalui beberapa proses. Dalam proses pembuatannya, singkong di kupas dan di jemur hingga kering. Singkong yang sudah kering tersebut oleh masyarakat Jawa biasa di sebut dengan gaplek. Gaplek ini kemudian ditumbuk hingga halus dan menjadi seperti tepung. Lalu tepung tersebut di kukus hingga matang dan menjadi Tiwul. Dalam penyajiannya, biasanya Tiwul di sajikan dengan ditaburi parutan kelapa. Namun bisa juga di sajikan bersama dengan lauk pauk atau sambal.

Tiwul memiliki rasa yang sedikit manis dan memiliki aroma alami dari singkong, sehingga memiliki cita rasa yang khas pada makanan ini. Selain itu teksturnya yang pulen dan menggumpal memberikan sensasi tersendiri saat kita menyantapnya. (*/an)

LEAVE A REPLY