Tips Etika Berwisata di Negara Berkembang

0
176
Turis asing di Labuan Bajo

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Negara-negara berkembang memiliki banyak sekali objek wisata yang berhubungan dengan wisata religi dan wisata alam. Perbedaan budaya masyarakat kerap membuat kaget para wisatawan yang datang dari negara-negara maju. Terlebih, masih banyak masyarakat lokal di sekitar objek wisata yang tidak memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik.

Dikutip dari Stuff, Ahad (04/06/2017) ada tips etika berwisata yang sebaiknya diikuti ketika liburan ke salah satu negara berkembang, jika tidak ingin mendapatkan masalah dengan pihak yang berwajib.

01. Naik-turun semua candi dan kuil

Pengelola Candi Angkor di Kamboja maupun pengelola candi-candi di negara lain sama sekali tidak mempermasalahkan wisatawan untuk berkeliling ke seluruh area candi yang mereka datangi. Mengingat patung dan ornamen dari candi memiliki nilai sejarah yang tinggi dan mudah rusak, ada baiknya wisatawan berhati-hati. Pasalnya, ada ribuan wisatawan yang menyambangi objek wisata yang sama setiap harinya.

02. Naik gajah

Lima tahun lalu, objek-objek wisata di Asia Tenggara sangat identik dengan layanan transportasi gajah. Namun, belakangan kelompok pecinta hewan dan lingkungan menentang keras hal tersebut. Karena gajah-gajah yang dipelihara untuk dapat dinaiki wisatawan tidak mendapat perlakuan yang layak dari pemiliknya. Oleh karena itu, wisatawan dianjurkan untuk tidak memberikan uang kepada para pelaku yang justru menjadi siksaan bagi gajah-gajah tersebut.

03. Terbang ke objek wisata

Industri penerbangan dinilai memberi dampak yang buruk kepada lingkungan karena menyebar polusi udara dan suara yang tinggi. Oleh karena itu, para wisatawan dianjurkan untuk tidak terbang ke objek wisata tujuannya menggunakan moda transportasi tersebut. Jika tidak mungkin dilakukan, wisatawan diminta untuk mencari lokasi liburan yang hanya membutuhkan maksimal dua penerbangan untuk pergi dan kembali.

04. Menjadi relawan

Voluntourism atau berwisata sambil bekerja sebagai relawan tengah menjadi tren di negara-negara berkembang. Sambil liburan, wisatawan dilibatkan oleh perusahaan perjalanan wisata untuk ikut dalam kegiatan membangun sekolah atau mengajarkan anak-anak dari keluarga miskin di negara tersebut. Banyak wisatawan yang tidak menyadari bahwa dirinya tidak memiliki kualifikasi yang cukup untuk dapat melakukan kegiatan sosial tersebut dengan baik.

05. Memberi uang kepada anak pengemis

Sangat dimaklumi jika banyak wisatawan terharu melihat kondisi anak-anak pengemis yang dipaksa orang tuanya untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Mereka pun tidak segan mengeluarkan uang agar anak-anak tersebut bisa membeli makan. Namun, secara tidak sadar justru uang tersebut hanya akan digunakan oleh orang tua maupun pengelola para gelandangan yang menjadikan anak-anak tersebut sumber pencaharian mereka.

06. Mabuk berat

Di sejumlah negara berkembang, masyarakatnya sangat memperhatikan tingkah polah wisatawan asing yang berkunjung ke daerahnya. Sehingga, wisatawan yang mabuk berat bahkan sampai berbuat keonaran dianggap mengganggu dan bisa diseret ke pihak kepolisian.

07. Menawar harga terlalu sadis

Hobi tawar menawar barang atau jasa sampai mendapatkan harga terendah juga sebaiknya dihindari. Sebagai contoh menawar tarif transportasi tradisional Tuk-tuk di Bangkok yang mungkin hanya selisih beberapa sen saja. Padahal uang tersebut sangat berarti bagi para pengemudinya.

08. Alergi liburan ke negara tertentu

Dengan membatasi diri untuk tidak pergi ke negara-negara yang memiliki rekam jejak negatif dalam urusan Hak Asasi Manusia (HAM) dan politik, sama saja dengan menghukum orang-orang yang tidak bersalah di industri pariwisata negara tersebut. Padahal yang melakukan pelanggaran HAM hanyalah segelintir orang di pucuk kekuasaan negara.

09. Mengunjungi panti jompo

Wisatawan yang berkunjung ke panti jompo atau panti asuhan di negara berkembang, tentu akan membawa hadiah atau uang untuk diberikan kepada para orang tua maupun anak-anak yatim piatu yang menjadi penghuninya. Namun, setelah itu wisatawan tersebut pergi dan tidak pernah kembali lagi. Sehingga kedatangan wisatawan tersebut tidak memberi bantuan jangka panjang bagi penghuninya. (*/suf)

LEAVE A REPLY