Terorisme, Wabah & Migran Ubah Peta Pariwisata Dunia

0
468

PARIS, test.test.bisniswisata.co.id: PEMETAAN ulang pariwisata dunia sedang berlangsung secara kilat karena preferensi atau kecenderungan pilihan para wisatawan berubah. Penyebabnya adalah serangan-serangan teror, wabah penyakit, dan krisis migran.

Serangan kelompok jihadis terhadap para wisatawan di Tunisia, tahun lalu dan kecelakaan pesawat Rusia selepas landas dari resor Laut Merah Mesir, Sharm El Sheikh, pada 31 Oktober 2015 telah menghancurkan sektor pariwisata di kedua negara Afrika utara tersebut.

Tapi, negara-negara Muslim lainnya di seluruh dunia yang paling merugi akibat pergeseran selera di antara para turis. Sebab, kata kalangan profesional sektor pariwisata dunia, negara-negara yang dianggap aman tapi juga cuacanya cerah sekarang menjadi tujuan.

Secara keseluruhan, pariwisata dunia tidak pernah dalam kondisi lebih baik dibandingkan masa lalu. Hampir 1,2 miliar orang bepergian ke luar negeri sepanjang 2015 atau meningkat 4,4% dibanding tahun sebelumnya.

Namun, pengamat bisa tertipu oleh pemandangan sepi di pantai-pantai Afrika utara, yang biasanya menjadi salah satu tujuan utama para turis.

Tunisia, yang membangun industri pariwisata dengan andalan sinar matahari dan harga murah, adalah contoh paling mengejutkan mengenai dari dampak buruk kekhawatiran terkait keamanan, setelah serangan mematikan yang menargetkan warga asing. Jumlah pengunjung ke Tunisia anjlok dua jut,a pada 2015, sehingga resor-resor pantai melompong, hotel-hotel menganggur, dan perekonomian ambruk. Sebab pariwisata menyumbang hampir 10% terhadap perekonomian.

Turki adalah korban lain dari efek serangan-serangan teror. TUI, grup usaha wisata terbesar dunia asal Jerman mengungkapkan, Selasa (9/2), pemesanan perjalanan wisata ke Turki turun 40% menyusul serangan bunuh diri oleh kelompok Negara Islam (NI) di Istanbul belum lama ini.

Media-media Turki melaporkan bahwa jumlah pengunjung ke resor terkenal Turki, Antalya, turun 17% pada bulan lalu. Persentase tersebut adalah yang terendah untuk Januari dalam satu dekade.

Beberapa negara tujuan wisata lain terkena dampak serangan itu. Sebab para wisatawan tidak membedakan mana kejadian di Timur Tengah dan mana di Afrika Utara. Alhasil, negara seperti Yordania pun terkena dampaknya.

“Di sini tidak ada serangan, tapi kami sangat terpengaruh oleh penurunan pengunjung yang datang dari Eropa,” ucap Menteri Pariwisata Yordania Nayef Al Fayez baru-baru ini.

Chairman operator perjalanan Prancis Voyageurs du Monde, Jean-Francois Rial mengatakan, semua negara Muslim terpukul dari yang paling telak hingga yang lebih ringan. “Bahkan ke negara-yang benar-benar aman seperti Oman,” kata dia, seperti dilansir AFP, Rabu (10/2).

Satu-satunya pengecualian adalah Iran, tambah dia. Tetapi, Iran baru mulai dari nol. Sejak negara-negara Barat mencabut sanksi-sanksi ekonomi, kata Rial, banyak agen perjalanan Eropa mulai menawarkan perjalanan ke Iran.

Analis di perusahaan riset Euromonitor Wouter Geerts menambahkan, tidak diragukan lagi dalam benak para turis Barat, seluruh kawasan Timur Tengah kini tidak aman. “Kami perkirakan negara-negara seperti Yunani, Portugal, dan Spanyol paling diuntungkan dari situasi ini, karena menawarkan cuaca yang sama, harga yang kompetitif, dan faktor keamanan,” kata dia.

Namun, lonjakan tiba-tiba permintaan perjalanan menyebabkan kenaikan biaya di negara-negara tujuan tersebut. “Para pemilik hotel memberitahu klien bahwa sewa kamar dua tempat tidur sudah naik dari 50 euro per malam menjadi 55 euro. Kalau tidak mau, ada orang lain yang akan mau,” kata Olivier Petit dari Extenso. (*/e)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.