Terminal LCC Dibutuhkan demi Kejar Target 20 Juta Wisman

0
27
Wisatawan asing selvie dengan orangutan di Taman Nasional, Tanjung Puting Kalteng , Bikin Iri?? (Foto: .pedomanwisata.com)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Presiden Joko Widodo menargetkan tingkat kunjungan wisatawan mencapai 20 juta pada tahun 2019. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengejar target sebesar itu, dengan menghadirkan Low Cost Carrier Terminal (LCCT). Dan Indonesia belum memilikinya.

“Target yang diberikan Presiden Jokowi kepada kita menuntut pertumbuhan harus 20 persen, kalau kita ikut full service carriers maka pertumbuhan tidak akan pernah tercapai. Solusinya Ya harus dengan LCC,” ujar Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya usai rapat kordinasi di Kantor Kemenko Kemaritiman Jakarta, Kamis (12/7).

Dijelaskan, pertumbuhan penumpang internasional setiap tahunnya rata-rata mencapai 13 persen per tahun. Dari angka tersebut, pertumbuhan penumpang yang menggunakan layanan Full Service Carriers (FSC) sekitar tujuh persen. Jauh lebih sedikit dari Low Cost Carriers yang tumbuh 55 persen per tahun.

Dicontohkan, Bandar Udara Narita yang mulai membangun T3 untuk LCC sejak April 2015. Pax trafik LCC kemudian terus tumbuh dari 11.5 persen menjadi 31 persen pada 2017 dari pax trafik keseluruhan di Bandara Narita . “Pertumbuhan trafik di LCCT jauh lebih tinggi dari Non-LCCT untuk destinasi yang sama,” ujarnya seperti dilansir laman Republika.

Di bandara Jepang yang memiliki LCC Terminal, seperti Naha Airport yang pax trafiknya terus tumbuh dan di tahun 2017 tercatat 18 juta pax. Nagoya Airport dan Kansai Airport juga bangun LCCT dan gencar menawarkan ke airlines. “Hasilnya turis inbound ke Jepang tumbuh 33 persen dari tahun 2011 hingga 2015 dan menjadi the fastest rate in the world, mencapai 28,7 juta turis pada 2017,” ujar Menpar.

Di Indonesia belum memiliki LCCT. Sehingga arilines dengan konsep LCC harus mendarat di terminal biasa yang biayanya tinggi. “Jadi tidak klop,” papar Menpar sambil menambahkan dengan adanya terminal LCC, airlines bisa memotong biaya operasional hingga 50 persen, namun akan memiliki trafik yang meningkat dua kali lipat.

Menpar juga tidak khawatir nantinya wisatawan yang berkunjung memiliki spending yang kecil. Ia mencontohkan Thailand yang memiliki banyak terminal LCC, namun Average Revenue per Arrival-nya (ARPA) mencapai 1.500 dolar AS. Sementara Indonesia masih di angka 1.200 dolar AS. Tingkat keterisian penumpang (okupansi) pesawat ke destinasi biasanya juga lebih banyak untuk kelas ekonomi. “Ini bisa membuktikan penggunaan LCCT tidak mengurangi ARPA,” jelasnya.

Nantinya terminal LCC diproyeksikan dibangun di bandara yang telah memiliki lebih dari satu terminal. “Salah satu terminalnya bisa diarahkan untuk terminal LCC,” sambungnya. (NDY)

LEAVE A REPLY