Tenun Songket Sambas Digandrungi Masyarakat Kuching

0
311

KUCHING MALAYSIA, test.test.bisniswisata.co.id: Festival Produk Indonesia 2016 di Vivacity Mall, Kuching, Malaysia yang digelar KJRI di Kuching dengan Kementrian Pariwisata pada 8 Juni-3 Juli 2016, mendapat sambutan luar biasa. Bahkan kain tenun songket Sambas paling diminati masyarakat Kuching.

“Hasil kerajinan tangan masyarakat Sambas berupa kain songketnya di festival ini paling laris atau laku keras. Orang Kuching di sini sangat tertarik meskipun harga terbilang mahal di mana harga per helai kisaran 1000-3000 ringgit,” ucap Konsul Fungsi Ekonomi KJRI Kuching, Henny Mullyani di Kuching, Ahad (03/07/2016).

Henny menambahkan selain kain tenun Sambas yang mendapatkan sambutan positif oleh pengunjung festival, kuliner khas Kota Pontianak berupa minuman dari lidah buaya atau aloe vera juga tidak kalah larisnya.

“Minuman aloe vera dalam beberapa hari sudah habis terjual. Sehingga peserta festival dari Pontianak pulang lebih awal dari jadwal yang sudah ditentukan,” katanya.

Henny menjelaskan hingga minggu ketiga sejak dibuka pameran, omzet dari transaksi penjualan sudah mencapai 800.000 ringgit. Hingga berakhirnya kegiatan dan meskipun rekap detailnya belum disusunnya, dia memprediksi paling tidak transaksinya bisa mencapai kisaran Rm100.000.

“Dari transaksi yang ada ini, belum lagi termasuk yang sudah ada pesan dengan sejumlah peserta festival ini. Ada yang mau baik menjadi distributor di Kuching maupun yang memesan secara pribadi,”tuturnya.

Festival produk Indonesia 2016 bukan hanya semata-mata pada seberapa besar transaksi omzet penjualan namun jauh dari itu di mana lebih kepada membuka pasar baru bagi 12 UMKM yang ikut. “Dari 12 UMKM berpartisipasi ada 90 produk yang ditawarkan kepada pengunjung. UMKM ikut itu dari empat daerah yakni Kota Pontianak, Singkawang, Kabupaten Sambas dan Kapuas Hulu,” terangnya.

Meski secara umum produk yang dipamerkan sudah sangat diminati namun ia tetap memberikan catatan agar ke depan lebih baik, terutama terhadap produk kuliner. “Soal rasa produk kita sangat enak dan mampu bersaing. Namun masalahnya adalah ada beberapa produk kita masih perlu peningkatan terutama soal kemasan. Kemasan kita bahannya kurang baik dan menarik,” paparnya.

Ke depan, ucapnya, produk Kalbar bukan lagi di Kuching melainkan ke negara lain. Dengan demikian ekonomi dari pelaku UMKM terus tumbuh dan berkembang.

“Paling tidak produk Kalbar di Kuching banyak dipasarkan sehingga jangan sampai sebaliknya. Semoga produk kita terus diminati. Terlepas dari kegiatan ini dimana kewenangan kami hanya sebatas membantu atau fasilitasi promosi di Kuching, ke depanya tergantung daerah masing- masing lagi untuk mengembangkan UMKM mereka,” kata dia seperti diunduh laman Antara. (*/ANO)

LEAVE A REPLY