Tari Caci, Jadi Ikon Wisata Budaya Manggarai Barat

0
284
Atraksi wisata Tari Caci Manggarai Barat (Foto: 500px.com)

LABUAN BAJO, Bisniswisata.co.id: Potensi pariwisata Nusa Tenggara Timur (NTT) sangat lengkap. Selain keindahan alam, wisata bahari sangat ciamik dengan pantai pink ditambah kekayaan alam bawah laut yang luar biasa. Juga wisata sejarah Bung Karno di Ende, wisata binatang purba di Taman Nasional Komodo, Pulau Padar dan Pulau Rinca.

Selain itu, wisata budaya berupa seni tari NTT sangat menarik untuk dinikmati. Salah satunya ikon wisata baru di Manggarai Barat yakni tari Caci. Dengan kata lain, semua atraksi di destinasi Flores NTT itu world class! Bisa hebat dan berkelas dunia.

Memang daya tarik wisata Flores adalah karya budaya tarian mereka yakni tari Caci. Saat Assessment Penetapan Destinasi Wisata Tradisi dan Seni Budaya Labuan Bajo di Hotel Bintang Flores pada 22-23 Mei, menghasilkan beberapa keputusan penting. Salah satunya adalah menetapkan tari Caci sebagai ikon pariwisata budaya Manggarai Barat.

Selama ini, tari Caci sering dipentaskan dalam berbagai kesempatan di NTT. Tari itu memeragakan sepasang penari laki-laki bertarung dengan cambuk dan perisai. Penari bersenjatakan cambuk (pecut) bertindak sebagai penyerang dan lainnya bertahan dengan menggunakan perisai (tameng).

Tari ini dimainkan saat syukuran musim panen (hang woja), ritual tahun baru (penti), upacara pembukaan lahan atau upacara adat besar lainnya, serta untuk menyambut tamu penting.

Seorang laki-laki yang berperan sebagai pemukul (disebut paki) berusaha memecut lawan dengan pecut yang dibuat dari kulit kerbau atau sapi yang dikeringkan. Pegangan pecut juga dibuat dari lilitan kulit kerbau. Di ujung pecut dipasang kulit kerbau tipis dan sudah kering dan keras yang disebut lempa atau lidi enau yang masih hijau (disebut pori).

Laki-laki yang berperan sebagai penangkis (disebut ta’ang) menangkis lecutan pecut lawan dengan perisai yang disebut nggiling dan busur dari bambu berjalin rotan yang disebut agang atau tereng. Perisai tersebut berbentuk bundar, berlapis kulit kerbau yang sudah dikeringkan. Perisai dipegang dengan sebelah tangan, sementara sebelah tangan lainnya memegang busur penangkis.

Assessment Penetapan Destinasi Wisata Tradisi dan Seni Budaya Labuan Bajo diikuti sejumlah kalangan mulai dari Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Manggarai Barat Theodorus Suardi, Kepala Bidang Pengembangan Wisata TSB mewakili Asdep PDWB Anna Sunarti, dan Kepala Desa Liang Ndara Karolus Vitalis.

Hadir pula perwakilan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Manggarai Barat, Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA), Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI), kepala desa adat, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Bahkan narasumber yang dihadirkan memiliki rekam jejak sangat baik. Salah satunya, Prof. Dr. Phil. Janianton Damanik yang membahas penetapan tradisi dan seni budaya di Manggarai Barat. Juga Prof.Dr. Yuwana Mardjuka, M.Si berbicara mengenai perbandingan destinasi tradisi dan seni budaya di Manggarai Barat dengan destinasi lain di Indonesia.

Shana Fatina selaku Person in Charge (PIC) Labuan Bajo, NTT, membicarakan tentang peningkatan amenitas dan aksesibilitas di Manggarai Barat. “Pokok pembicaraan lain yang menarik adalah rencana pembuatan ATM di Taman Nasional Labuan Bajo dan pulau-pulau lain. Pembahasan lainnya adalah tentang peningkatan listrik dan penguatan infrastruktur di Manggarai Utara,” kata Shana. (*/RLS)

LEAVE A REPLY