Target Kunjungan 20 juta Wisman ke Indonesia, Bisa Terhambat Bandara yang Over Capacity

0
803

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Upaya pemerintah mempromosikan pariwisata dengan menargetkan 20 juta wisman ke Indonesia pada 2020 melalui BVK kepada 90 negara, bisa terhambat oleh aturan security safety yang membatasi kunjungan lewat bandara udara tidak boleh melebihi kapasitas (over capacity).
“Angkasa Pura Airports saat ini telah mengelola 13 bandara yang mempunyai kapasitas 72 juta penumpang per tahun. Bagaimana dengan tambahan 20 juta wisman? Tentu bandara kita akan kebanjiran turis asing yang bisa melebihi kapasitas,” kata Robert D Waloni, Direktur Marketing & Business Development PT Angkasa Pura I (Persero).
Sebab Angkasa Pura Airports yang bertugas mengelola bandara, lanjut dia, harus mengutamakan Customer Satisfaction Index (CSI) dalam memberikan pelayanan kepada penumpang maskapai penerbangan. Apalagi penumpang yang bertujuan untuk wisata, tentu perjalanan mereka mulai dari bandara sampai tempat destinasi wisata harus memperoleh kepuasan atau kenyamanan.
“Seperti apa bentuk kepuasan yang diinginkan para penumpang sesuai Customer Satisfaction Index? Salah satu cara memperbaiki tingkat kepuasan konsumen, dengan meningkatkan kapasitas bandara di semua daerah di bawah pengelolaan Angkasa Pura Airports. Karena turis asing, tidak suka terjadi over load,” ujarnya.
Robert menjelaskan dalam meningkatkan kapasitas bandara, Angkasa Pura Airports akan membangun Bandara Internasional Kulon Progo Yogyakarta seluas 11 hektar sebagai pengganti Bandara Internasional Adi Sutjipto yang sudah over capacity. Bandara Internasional Kulon Progo ini berkapasitas 50 juta penumpang per tahun. “Bandara Internasional Kulon Progo ini tergolong megaproyek. Karena akses menuju bandara yang akan dibangun jalan tol dan jalur kereta api itu  akan menghabiskan dana Rp 7 triliun ,” paparnya.
PT Angkasa Pura I (Persero), lanjut Robert, sudah melakukan pertemuan dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) guna membahas lahan untuk membangun rel kereta api yang menuju ke bandara. Rencananya jalan yang menuju bandara ini akan dibuat underpass, sehingga tidak memakan lahan parkir bandara.
“Bandara Internasional Kulon Progo yang kami bangun ini dirancang untuk memenuhi kepuasan dan kenyamanan penumpang maskapai penerbangan. Mereka sebagai wisatawan, di bandara bisa santai dan berbelanja, karena ada cafe dan outlet tempat belanja. Sehingga mereka merasa puas dan senang,” cetusnya.
Selama puluhan tahun, kata Robert, dalam setiap membangun fasilitas bandara, Angkasa Pura Airports biasanya mengandalkan pendapatan dari service charge passenger dan landing fee dan take off pesawat. Namun dalam kondisi saat ini, pola bisnis seperti itu dinilai tidak sehat dan tidak efisien untuk pengembangan bandara. “Karena itu kami berupaya untuk melakukan cara untuk mendapatkan revenue dari non-aeronautical. Pendapatan non-aero ini merupakan hasil jasa sewa ruang usaha yang ada di bandara,” ucap dia.

Dari transformasi bisnis yang dikembangkan Angkasa Pura Airports di 13 bandara yang dikelolanya, menurut dia, mampu meningkatkan pendapatan non-aeronautical lebih 15 kali lipat di Bandara Ngurah Rai, Bali, serta 193 kali lipat di Bandara Juanda, Surabaya. “Komposisi pendapatan dari non-aeronautical ini meningkat menjadi 43 persen berkat transformasi bisnis yang dikembangkan Angkasa Pura I,” ucap Robert D. Waloni, Direktur Marketing & Business Development PT Angkasa Pura I (Persero).

Pendapatan sektor non-aeronautika di Angkasa Pura Airports, tegasnya, meningkat sekitar enam kali lipat pada 2014 dibanding 2009. Ini tercermin pada realisasi pendapatan non-aero pada kuartal III-2014 yang mencapai Rp 690 miliar dibanding periode yang sama 2009 sebesar Rp 119 miliar. “Angkasa Pura Airports sudah melakukan transformasi bisnis dengan meningkatkan bisnis non-aero. Dan hasilnya terbukti sukses dengan meningkatnya pendapatan perusahaan,” kata Direktur Marketing and Business Development Angkasa Pura Airports ini.

Robert menjelaskan pendapatan non-aero Angkasa Pura Airports  diperoleh dari bisnis anak perusahaan seperti Angkasa Pura Logistic, Angkasa Pura Property, Angkasa Pura Retail, dan Angkasa Pura Hotel. “Pendapatan non-aero ini ditargetkan bisa mencapai 45 persen pada 2015 seiring dengan pertumbuhan anak perusahaan yang cukup pesat,” selorohnya.

Kebutuhan investasi untuk membangun bandara, menurut dia, tidak bisa mengandalkan dari APBN. Sebab nilai investasinya sangat besar. Sehingga untuk mempercepat memperoleh permodalan bisa melalui privatisasi. “Kalau tidak diprivatisasi, kita akan ketinggalan. Karena tidak bisa kita membangun bandara dari dana APBN,” ucap Robert. “Contoh di India sudah ada bandara yang sudah diprivatisasi. Sehingga perkembangan pembangunan infrastruktur dan fasilitas bandara akan lebih cepat,” tambahnya. (Arief Rahman Media)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.