Taman Nasional Sembilang Ditetapkan Jadi Ekowisata Biosfer

0
53
Hutan mangrove dan burung migran di Taman Nasional Sembilang (Foto: tenda.biz)

PALEMBANG, Bisniswisata.co.id: Taman Nasional Sembilang (TNS) di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan (Sumsel) memiliki panorama alam yang indah dan sejuk, kini ditetapkan menjadi cagar ekowisata biosfer guna mendukung pertumbuhan ekonomi hijau. Untuk mewujudkan program ekonomi hijau, Pemprov Sumsel merangkul LIPI.

“Bahkan, sebagai percontohan kemitraan pengelolaan Sembilang Dangku dilaksanakan atas ZSL dan dukungan UKCCU, NICFI, IDH, dan Yayasan Belantara. Program ini sebagai model nasional dan internasional karena metodologinya sudah diakui,” papar Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan Nasrun Umar di Palembang, Sabtu (28/10/2017).

Selain itu, lanjut dia, untuk mengevaluasi nilai bentang alam sebagai dasar investasi dalam perlindungan hutan dengan mengaitkan nilai dari sumber daya alam dengan evaluasi potensi dan risiko. “Sumsel provinsi pertama dipilih untuk menerapkannya. Dengan program ini, menjadi suatu kerangka kerja mengilustrasikan peran ekonomi, sosial, dan lingkungan yang berkelanjutan dari suatu bentang alam.

Model ini, bisa dijadikan sebagai salah satu acuan pengambilan keputusan berkaitan perencanaan dan pengelolaan bentang alam. Juga model ini menjadi acuan dukungan pendanaan investasi mitra international dalam bentuk trust fund. “Karena itu program tersebut harus didukung bersama sehingga ekonomi hijau terus berlanjut,” kata dia.

Lokasi Taman Nasional Sembilang didominasi kawasan perairan. Ada beberapa sungai besar dengan pemukiman penduduk di bagian tepinya.
Posisinya Taman Nasional Sembilang ini juga bertetanggaan dengan Bangka Belitung. Sehingga bisa melihat langsung pertemuan air sungai bercampur dengan air laut dari laut Bangka.

Untuk sampai ke Taman Nasional Sembilang, tidak mudah. Butuh sedikit pengorbanan, baik dari sisi waktu maupun tenaga. Sebab, dari pusat Kota Palembang, kita butuh waktu sekitar lima jam perjalanan darat menuju dermaga di Pelabuhan Tanjung Api-api. Dari dermaga itu, perjalanan dilanjutkan dengan menumpang speed boat dengan tarif atau ongkos sekitar Rp 200 ribu per kepala.

Selama perjalanan menuju Taman Nasional Sembilang, mata akan disuguhi pemandangan sungai, laut dan beragam jenis tumbuhan termasuk mangrove. Taman Nasional Sembilang terkenal kelestarian tanaman mangrove membuat kawasan ini tetap terasa alami.

Di beberapa titik sungai, bisa dilihat ratusan penduduk tinggal di atas rumah bertiang. Mereka yang hampir seluruhnya mencari nafkah di air ini hidup kompak. Keterbatasan teknologi tak pernah mereka keluhkan, selagi hasil tangkapan di sungai masih bisa mereka dapat.
Penduduk di sepanjang kawasan menuju Taman Nasional Sembilang amat ramah setiap kali mereka kedatangan tamu.

Jika punya waktu, bisa mampir di sebuah kawasan Mangrove Trail. Di kawasan ini, seperti dilansir laman Tribunnews.com pengurus Taman Nasional Sembilang yang didukung penuh Pemkab Banyuasin maupun Kementerian Kehutanan membudidayakan berbagai jenis bibit tanaman mangrove.

Kawasan ini sering dijadikan tempat penelitian mahasiswa. Bahkan, sejumlah wisatawan asing datang untuk cara mengembangbiakan tanaman mangrove. Taman Nasional ini terdapat hutan mangrove yang masih sangat rimbun. Berbagai hewan hutan dan hewan air juga bisa dilihat di sini. Sebab itu, pengunjung disarankan memakai jasa guide tour untuk mengelilingi kawasan yang super luas ini.

Ternyata, Taman Nasional Sembilangacap kali ramai dikunjungi wisatawan di saat momen akhir tahun. Apalagi, periode November hingga Desember, kawasan tepi perairan di Taman Nasional Sembilang dijadikan tempat singgah oleh ribuan burung migran. Sayang, promosi wisata kehadiran ribuan burung migran tak pernah dilakukan. Sayang memang. (*/NDIK)

LEAVE A REPLY