Taman Nasional Kawasan Konservasi Menarik bagi Tujuan Wisata

0
582
Taman Nasional Baluran (Foto: shodiqhandoko.files.wordpress.com)

BANYUWANGI, test.test.bisniswisata.co.id: Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya akhir pekan lalu berkunjung ke Taman Nasional Alas Purwo di Banyuwangi, Taman Nasional Baluran di Situbondo, dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang terletak di wilayah empat kabupaten, Pasuruan, Malang, Probolinggo dan Lumajang.

Dalam kunjungannya selama dua hari, Siti Nurbaya merasa terkesan dengan tiga Taman Nasional (TN) yang semuanya berada di Jawa Timur itu. “Tiga Taman Nasional yang ada di Jawa Timur ini merupakan kawasan pelestarian alam yang masih mempunyai ekosistem asli. Karena itu Taman Nasional yang telah dikelola dengan sistem zonasi ini harus dipromosikan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, pengembangan budidaya dan pariwisata,” ujarnya.

TN Alas Purwo, menurut dia, merupakan salah satu tipe ekosistem hutan hujan dataran rendah yang ada di Pulau Jawa. Sebab di Taman Nasional ini ada tumbuhan khas dan endemik, seperti sawo kecik (Manilkara kauki) dan bambu manggong (Gigantochloa manggong).

Selain itu, Taman Nasional yang berada di Kab. Banyuwangi ini mempunyai habitat satwa liar seperti lutung budeng (Trachypithecus auratus auratus), banteng (Bos javanicus javanicus), ayam hutan (Gallus gallus), rusa (Cervus timorensis russa), dan macan tutul (Panthera pardus melas).

“Justru menariknya lagi di Taman Nasional ini ada satwa langka, penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata),” ungkap dia.

Menteri LHK Siti Nurbaya juga sangat mengagumi padang gembalaan Sadengan, yang menjadi tempat banteng-banteng dan rusa liar mencari makan. Tak jauh dari padang gembalaan Sadengan itu terdapat Pantai Triangulasi dengan hamparan pasir putihnya yang indah.

Di Pantai Triangulasi ini, Siti Nurbaya dan rombongan berkesempatan melepas 120 ekor tukik, penyu sisik dan penyu belimbing. “Pengelolaan Taman Nasional ini harus dilakukan dengan penguatan konservasi guna mendukung ekonomi, sebagai kawasan konservasi yang dapat berfungsi sebagai tempat wisata,” ucapnya.

Hal tersebut mengacu pada Permenhut No. 48/Menhut-II/2010 tentang Pengusahaan Pariwisata Alam di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya, dan Taman Wisata Alam. Sehingga memberikan peluang untuk berinvestasi di wisata alam Taman Nasional untuk usaha jasa wisata alam, seperti Wisata Tirta, Wisata Petualangan, Olahraga serta sarana pendukungnya akomodasi dan transportasi.

“Bagi pengusaha yang berminat bisa mengajukan permohonan sebagai pemegang Izin Usaha Penyedia Sarana Wisata Alam (IUPSWA). Di Taman Nasional Alas Purwo sudah terdapat tiga pemegang IUPSWA, dan satu pemegang izin prinsip IUPSWA. Sedangkan di Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru baru ada satu pemegang IUPSWA, dan di Taman Nasional Baluran sementara ini belum ada,” kata Siti Nurbaya.

Seusai menikmati padang gembalaan dan Pantai Triangulasi, Menteri LHK Siti Nurbaya melakukan safari malam ke Taman Nasional Baluran, Kab. Situbondo. Dengan waktu tempuh hampir dua jam dari TN Alas Purwo menuju TN Baluran, wanita yang suka petualang ini sangat menikmati perjalanan wisata alam tersebut.

Di TN Baluran, Siti Nurbaya mengamati banteng-banteng liar yang menjadi ciri khas dari Taman Nasional yang terletak di Kab. Situbondo ini. Namun, sayang melihat populasi banteng di TN Baluran yang mengalami penurunan akibat perburuan liar, predasi, pada beberapa tahun terakhir, membuat Menteri LHK merasa prihatin.

“Saya mendorong pengelola Taman Nasional Baluran untuk terus meningkatkan populasi banteng di habitat yang alami ini, serta meningkatkan kualitas genetiknya,” ujarnya.

Selesai mengunjungi TN Baluran, malam harinya Siti Nurbaya dan rombongan melanjutkan perjalanan ke TN Bromo Tengger Semeru yang menempuh perjalanan hampir 5 jam. Setelah melepas lelah dua jam di hotel dekat Taman Nasional, waktu menjelang pagi hari, Menteri LHK menuju Penanjakan untuk menyaksikan matahari terbit.

“Ini sungguh pemandangan yang menakjubkan dan luar biasa melihat matahari terbit dengan hamparan gunung dan padang pasir yang luas, kawah Bromo yang masih mengeluarkan asap dan masih diselimuti awan pagi hari. Tempat pengembangan kawasan konservasi seperti ini harus terus dipromosikan agar makin banyak dikunjungi wisatawan,” cetus Siti Nurbaya.

Saat ini, kata dia, di Indonesia terdapat 51 Taman Nasional dengan total luasnya mencapai 16 juta hektar lebih, bahkan enam taman nasional di antaranya telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai cagar biosfer, enam taman nasional sebagai Warisan Dunia, dan dua sebagai situs Ramsar (perjanjian internasional untuk konservasi dan pemanfaatan lahan basah secara berkelanjutan). Juga terdapat dua taman nasional berstatus sebagai cagar biosfer dan warisan dunia, yaitu TN Gunung Leuser dan TN Komodo.

Total pengunjung Taman Nasional pada 2015 lalu, kata Menteri LHK, mencapai 5,6 juta terdiri dari wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara. Jumlah ini meningkat hampir tiga kali lipat dari tahun sebelumnya (2014) yang hanya mencapai dua jutaan. Sebagian besar pengunjung bertujuan untuk penelitian, pendidikan dan ilmu pengetahuan, serta berwisata. (Arief Rahman Media)

LEAVE A REPLY