Sumenep Tawarkan Wisata Pulau Berkadar Oksigen Tertinggi di Dunia

0
45
Pulau Giliyang Sumenep Madura (Foto: gili iyang - blogger)

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Pulau Giliyang semakin menjadi bahan perbincangan di dunia pariwisata. Pulau berada di Kecamatan Dungkek Kabupaten Sumenep Madura, Jawa Timur ini memiliki kandungan oksigen tertinggi ke dua di dunia, setelah Yordania. Kadar oksigen di Pulau Giliyang sudah dibuktikan keampuhannya melalui penelitian.

Hasil penelitiah LAPAN pada 2006, kadar oksigen berkisar 3,4 persen hingga 4,8 persen di atas normal. Bahkan pada tahun 2016, penelitian serupa dilakukan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumenep. Hasilnya, Kandungan oksigen Pulau Giliyang di atas rata-rata wilayah lainnya, yakni 21 persen.

Pulau ini juga dijuluki Pulau Awet Muda. Mengingat banyak penduduk lanjut usia di atas 100 tahun, nampak masih segar bugar, aktif dan produktif bekerja. “Melihat potensi itu, kami menawarkan kepada wisatawan nusantara maupun mancengara untuk berwisata kesehatan di Giliyang,” lontar Bupati Kabupaten Sumenep, Busyro Karim usai launching Visit and Calendar of Event Sumenep 2018 di Kementerian Pariwisata, Jakarta, Selasa kemarin.

Di Pulau Giliyang, sambung Bupati Busyro, udaranya terasa sejuk seperti berada di dalam ruangan ber AC. Padahal, tinggal di Pulau dengan hawa laut sangat banyak namun di Giliyang kondisinya sangat berbeda. Dan kini semakin banyak pelancong nusantara maupun mancanegara melancong untuk melakukan terapi kesehatan.

“Saat ini, wisatawan nasional maupun dari luar juga ada, terutama dari Cina, itu memang mereka suka terapi-terapi kesehatan. Memang belum ada hotel di Pulai ini, namun rumah warga dipakai homestay, Dan warga Giliyang sangat senang dengan kedatangan wisatawan,” lanjutnya.

Dilanjutkan, untuk menyambut wisatawan, sudah melakukan sosialisasi penyiapan mental dengan untuk menyambut wisatawan dan itu sudah beberapa tahun ini dilakukan. Toilet warga dibenahi, beberapa fasilitas penunjung buat wisatawan dilakukan, kulinernya harus memenuhi standart kesehatan’ “Pokoknya sudah banyak perubahan. Langkah ini kan juga untuk meningkatkan perekonomian warga sekitar,” ucapnya.

Destinasi wisata lain yang tersebar di Pulau Giliyang seperti Pantai Batu Cangge, Pantai Ropet, Gua Air, Gua Sarepa, fosil ikan paus. Bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Giliyang, wisatawan dapat menempuh perjalanan dengan becak ke Terminal Angkutan Umum lalu ke Pelabuhan Dungkek, Sumenep. Setelah itu dilanjutkan dengan perahu angkutan reguler menuju Pulau Giliyang.

Dari kisah warga setempat, ada dua versi sejarah Giliyang. Pertama, disebut Gili Iyang yang artinya gila dari nenek moyang. Dahulu pulau ini jadi lokasi pembuangan orang gila. Versi kedua, asal muasal nama pulau itu adalah Gili Elang, pulau elang atau pulau yang hilang, sesuai bahasa Madura. Pada era Belanda, pulau ini tidak ditemukan.

Dari hasil verifikasi Tim Pembakuan Nama Rupabumi pada 20016, seperti dikutip dari situs Kementerian Kelautan dan Perikanan, nama pulau ini dibakukan jadi Pulau Giliyang.

Pulau Giliyang pertama kali ditemukan orang mandar bernama Daeng Masaleh pada 1926. Dia yang pertama kali membuka jalan dan membabat hutan pulau Giliyang. Menurut tetua Giliyang, Daeng Masaleh dari Sulawesi sampai Giliyang dituntun ikan hiu.

Begitu menemukan daratan, awalnya Daeng Masaleh mendarat di ujung utara Pulau Giliyang. Dia kemudian pindah ke bagian barat karena terdapat wabah kusta di daerah itu. Daeng Masaleh kemudian menetap di bagian timur, yang sekarang dikenal sebagai wilayah Desa Bancamara. Seiring waktu, Giliyang berkembang hhingga kini.

Tahun 2015 Pulau Giliyang dicanangkan sebagai objek wisata kesehatan, namun hingga kini jumlah kunjungan wisatawan ke pulau ini masih belum memuaskan, belum memenuhi target. “Karena itu, kami mencanangkan Visit Sumenep 2018, dengan 36 event wisata yang kami tawarkan. Salah satu yang tempat wisata yang dipasarkan adalah Pulau Giliyang,” sambung Kepala Dinas Pariwisata, Kabudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Sumenep Sufiyanto.

Dilanjutkan untuk infrastruktur sudah banyak perbaikan. Bahkan pembangunannya tergolong paling pesat dibanding pulau-pulau lain di Sumenep sebanyak 125 pulau yang juga menjadi kawasan wisata Sumenep. Pavingisasi sudah hampir menyentuh semua jalan desa. Demikian juga untuk homestay di rumah penduduk sudah dipersiapkan. “Namun, kami masih perlu juga melakukan promosi besar-besaran, agar benar-benar layak jual,’’ katanya.(NDIK)

LEAVE A REPLY