Sujadi Siswo, Hidup Antara Dua Budaya

0
287
Sujadi Siswo

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Lahir dan besar di Singapura, Koresponden Senior Channel NewsAsia ini berbicara tentang pertaliannya dengan Indonesia: nenek moyang Indonesianya, kemampuannya berbahasa Indonesia, serta mengapa negara kepulauan terbesar ini memiliki tempat spesial di hatinya.

Sujadi Siswo bukan wajah baru di dunia jurnalistik. Mantan Kepala Biro Indonesia ini dikenal karena peran pentingnya dalam memberikan liputan mendalam dalam hal politik dan nasional, dari Sabang sampai Merauke.

Di antara banyak penugasannya, yang paling berkesan selama bertugas di Indonesia termasuk, antara lain, liputan bom Bali pada bulan Oktober 2005, gempa bumi di Jawa Tengah pada bulan Mei 2006, serta berbagai peristiwa politik selama pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Sujadi mengunjungi hampir seluruh nusantara dalam menjalankan tugasnya melaporkan berbagai macam berita. “Saya ingat hari-hari di mana saya harus melakukan berbagai laporan di berbagai daerah di Jawa dan Sumatera. Benar-benar melelahkan, belum lagi bermacam kemunduran yang saya hadapi di lapangan, tapi masa saya di Indonesia adalah salah satu yang paling mengesankan.” paparnya.

Sejalan dengan itu, kepiawaian Sujadi dalam hal melaporkan berita tentang Indonesia menandai tonggak penting dalam karirnya, ketika ia dinobatkan menjadi “Journalist of the Year” pada tahun 2010 oleh Media Corp.

Selama bertugas sebagai Kepala Biro Indonesia, dari 2005 hingga 2015, Sujadi membagi waktunya antara Singapura dan Jakarta sebagai koresponden berita untuk CNA, yang merupakan bagian dari Media Corp – Singapura, perusahaan pertama tempat Sujadi memulai karir jurnalistiknya.

“Saya bergabung dengan Media Corp sebagai presenter berita sesaat sebelum saya lulus dari National University of Singapore tahun 1989. Saat itu, saya bertugas untuk menggarap berita tentang komunitas Melayu dan Muslim lokal untuk siaran berita berbahasa Melayu dan juga bahasa Inggris.Kemudian, saya mulai bepergian ke negara-negara Asia untuk melaporkan perkembangan politik di berbagai daerah. Saya sudah meliput Indonesia sejak tahun 1999,” lanjutnya.

Penugasan lain Sujadi yang cukup penting termasuk perannya sebagai komentator untuk berbagai acara nasional resmi di Singapura, seperti Parade Hari Nasional, Pemilihan Umum dan Upacara Penobatan Kabinet Singapura. Ia juga turun lapangan untuk melaporkan runtuhnya Kondominium Highland Towers di Kuala Lumpur serta Pemilu di Kelantan, juga tentang perkembangan politik di provinsi Yala, Pattani dan Narathiwat yang bergejolak.

Nama Jawa-nya serta penampilan fisiknya menyebabkan banyak orang yang menyangka ia orang Indonesia. Tetapi sebenarnya ia adalah Warga Negara Singapura, walaupun memang pria 52 tahun ini memiliki hubungan yang sangat kuat dengan Indonesia.

“Nama saya sangat Indonesia karena ayah saya adalah orang Jawa dari Purbalingga. Dia bermigrasi ke Selangor, Malaysia sebelum Perang Dunia II di tahun 1930-an, dan menjadi bagian dari diaspora Indonesia.Ibu saya dari Johor. Lalu orang tua saya pindah ke Singapura. Singkatnya, saya adalah keturunan dari ayah Jawa dan ibu Melayu, walaupun karakter pribadi saya adalah Singapura,”katanya.

Sujadi menikah dengan Noorasikan Ramli, juga seorang WN Singapura keturunan Indonesia dari Bawean, Jawa Timur. Pasangan ini dikaruniai tiga anak. Bangga menjadi warga Singapura dengan keturunan Indonesia, mereka bahkan menamakan anak-anak mereka dengan nama Indonesia: Nur Sulastri, Teguh Budiman dan Ilham Luhur. “Harapan kami adalah bahwa mereka selalu ingat asal-usul keturunan mereka,” kata Sujadi.

“Tidak banyak keluarga Jawa-Singapura yang berminat untuk melacak kembali asal usul mereka, tapi tidak demikian dengan keluarga saya. Saya ingat ketika ayah saya membawa saya untuk mengunjungi sanak keluarganya pada tahun 1970-an di Purbalingga. Kala itu, saya merasakan gegar budaya, betapa berbedanya kehidupan di sana dengan Singapura yang kosmopolitan. Tapi pada saat yang sama, saya merasa sangat beruntung bahwa saya bisa bertemu dengan kerabat saya dari tanah leluhur saya,” kenang Sujadi.

Bagaimana Anda melihat Indonesia secara umum?

Saya memiliki pandangan yang sangat mendalam tentang Indonesia karena saya pernah tinggal di sana selama lebih dari 10 tahun. Jadi saya tidak seperti orang Singapura pada umumnya yang memiliki pandangan yang terbatas tentang Indonesia dan masyarakatnya. Selain itu, saya juga memiliki keluarga dan kerabat di Indonesia. Dalam satu kata, Indonesia sangat kaya dalam berbagai hal; budaya, sejarah, sumber daya alam hingga kekayaan kulinernya.

Apakah Anda berbicara bahasa Indonesia dengan orang tua Anda?

Tidak, saya berbahasa Melayu dengan mereka. Saya mulai belajar bahasa Indonesia justru ketika saya ditugaskan di Jakarta.

Apa posisi Anda saat ini di CNA?

Sejak tahun lalu, saya ditugaskan sebagai Koresponden Senior untuk Asia Tenggara. Sebelumnya, saya bertugas di biro Indonesia selama lebih dari sepuluh tahun.

Apa tanggung jawab utama Anda ketika Anda berada di pucuk pimpinan biro?

Pada dasarnya, setiap hari saya bertugas melaporkan semua berita tentang Indonesia untuk CNA. Saya juga menangani proyek-proyek khusus, seperti laporan 30 menit dan dokumenter tentang terorisme di Indonesia. Saya juga bertugas untuk mengkoordinasikan berbagai acara off-air di Indonesia.

Daerah mana saja di Indonesia yang telah Anda kunjungi?

anyak sekali. Saya suka mengunjungi banyak daerah untuk liburan juga. Ada begitu banyak tempat indah yang layak dikunjungi di Indonesia. Saya sudah mengunjungi semua pulau kecuali Papua. Suatu hari … suatu hari saya akan mengunjungi Papua. [tersenyum]

Apakah ada tempat-tempat tertentu yang menarik bagi Anda?

Tidak secara khusus, tetapi pada umumnya saya suka daerah terpencil. Saya suka suasana tenang dan damai di daerah.

Ada makanan Indonesia favorit?

Ada begitu banyak hidangan lezat di Indonesia, tapi saya sangat suka masakan Manado dan Sunda. Sangat lezat. [tersenyum]

Apa persamaan dan perbedaan makanan Singapura dan Indonesia?

Kita benar-benar memiliki banyak kesamaan dalam hal makanan. Selain makanan Cina, makanan Melayu juga populer di Singapura. Jika Anda melihat makanan Melayu, ada banyak kesamaan karena sebagian besar hidangan Melayu berasal dari Sumatera, sebagian besar dari Padang atau Medan. Walaupun tentu sudah ada banyak penyesuaian sehingga Anda tidak mendapatkan rasa asli seperti makanan Padang atau Medan.

Apa yang Anda paling sukai tentang Singapura?

Saya suka kondisi Singapura; negara-pulau ini telah membuat Anda menjadi orang yang lebih efisien dan produktif. Infrastruktur negara dan stabilitas politik juga adalah kekuatan lain yang mendukung kenyamanan hidup warganya.

Bagaimana tentang hal-hal yang tidak Anda sukai tentang menjadi Singapura?

Orang-orangnya terlalu dingin. Mereka kekurangan sentuhan pribadi. Interaksi manusia antara warga Singapura perlu ditingkatkan, memang.

Apa yang membuat Anda frustrasi tentang Indonesia?

Kadang-kadang sangat sulit untuk memahami orang-orang Indonesia karena mereka cenderung bersikap sopan dan non-konfrontatif. Dalam beberapa kasus, Anda harus menebak apakah kata “ya” benar-benar berarti “ya” atau itu hanyalah cara sopan untuk mengatakan “tidak”. Stereotip ini mengacu pada beberapa etnis, seperti Jawa. Namun, tidak selalu berlaku dalam kasus etnis lain, seperti suku Batak misalnya. [senyum]

Apa pandangan Anda tentang jurnalisme di Indonesia?

Pintu kebebasan berbicara dan berekspresi telah dibuka setelah reformasi. Namun, media di Indonesia masih banyak yang belum memiliki kontrol diri yang baik, masih banyak yang hanya mementingkan dalam meraup sebanyak-banyaknya pemirsa dan pembaca.Beberapa berita yang mereka beritakan sering kali tidak bertanggung jawab. Saya tahu mereka tengah berupaya untuk lebih mengatur standar media di Indonesia. (*/ndik)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.