Awas Gunung Agung, Wisman Batal ke Bali Tak Terbendung

0
184
Gunung Agung sepi aktifitas (Foto: CNNIndonesia)

DENPASAR, Bisniswisata.co.id: Ketua Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Provinsi Bali, I Ketut Ardana mulai menerima sejumlah pembatalan perjalanan wisata di Bali, setelah status Gunung Agung ditetapkan awas atau level empat pada 22 September 2017. Memang pembatalan berwisata bagi pelancong asing ke Bali kian tak terbendung.

“Pembatalan itu pasti ada, namun persentasenya sangat kecil, sekitar dua persen,” papar Ketut Ardana seperti dilansir laman Republika.co.id, Kamis (28/9).

Pembatalan perjalanan rata-rata dilakukan wisman untuk kunjungan Oktober dan seterusnya. Ardana mencontohkan satu grup beranggotakan 30 orang wisatawan mancanegara (wisman) asal Cina membatalkan rencana wisatanya ke Bali pada Oktober mendatang.

Satu grup beranggotakan 16 orang wisman asal Eropa juga membatalkan perjalanannya ke Pulau Dewata November 2017. Demikian juga satu perusahaan asing dengan empat orang tamu. “Informasi simpang siur, terutama hoaks dalam kondisi ini membuat heboh calon wisatawan. Ini sangat tidak bagus untuk pariwisata kita,” katanya.

Asita bekerja sama Kementerian Pariwisata dan lembaga resmi, seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Pusat Vulkanologi menyajikan data dasar yang benar terkait Gunung Agung. Informasi tersebut disebarluaskan ke masyarakat dan dunia internasional.

Konsulat Jenderal Cina contohnya, sudah menyiapkan rencana mitigasi untuk warga negaranya yang berada di Bali jika letusan Gunung Agung benar-benar terjadi. Cina menyiapkan teknis evakuasi warganya, mulai dari transportasi darat, transportasi udara, dan koordinasi dengan maskapai juga bandara.

Ardana mengatakan 410 anggota Asita di Bali akan mengomunikasikan informasi terkini kepada mitra-mitra perjalanan di luar negeri. Informasi dasar yang perlu diketahui wisman adalah fakta bahwa zona merah atau radius berbahaya Gunung Agung hanya sembilan kilometer (km) hingga 12 km ke sektoralnya.

Ini berarti wilayah lainnya di Bali masih aman, seperti Kota Denpasar berjarak 80 km dari Karangasem. Hotel-hotel di Bali, sebagian besar terpusat di Kabupaten Badung, Denpasar, dan Gianyar. Obyek wisata menarik dan populer di luar Karangasem tersebar di tempat-tempat itu. “Sampai sekarang wisman masih sangat welcome, sehingga pelayanan pariwisata masih berjalan normal,” katanya.

Sementara Raissa Sutopo selaku Head Public Relation & Marketing Two Road Hospitality selaku pengelola Hotel Alila Manggis, Bali mengatakan pembatalan agenda liburan ke Kabupaten Karangasem, Bali lantaran peningkatan aktivitas Gunung Agung didominasi wisatawan asal China dan Australia.

“Alila Manggis telah menerima beberapa pembatalan, umumnya dari China dan Australia. Namun, selain wisatawan China dan Australia, tak ada banyak pembatalan dari market utama kami yaitu turis Eropa,” jelas Raissa dalam keterangan resminya.

Menurut Raissa, Kecamatan Manggis yang menjadi lokasi Alila Manggis berdiri saat ini telah diumumkan menjadi tempat yang aman dari bahaya erupsi Gunung Agung. Selain itu, Kecamatan Manggis juga dijadikan sebagai tempat pengungsian bagi warga Karangasem dan daerah-daerah yang termasuk Zona Bahaya.

“Sampai sekarang, tak ada penutupan bandara dan hotel. Kami tetap beroperasi secara normal dengan fokus utama kami untuk melayani kebutuhan penginapan tamu kami, juga untuk membantu pengungsi secara efisien dan dengan bantuan yang dibutuhkan,” tambahnya.

Pihak Alila Manggis terus memantau situasi dan berkontak dengan tamu maupun calon tamu bila ada perkembangan lebih lanjut tentang status Gunung Agung dari pemerintah. (*/BBS)

LEAVE A REPLY