Siagakan 100 Bus Konsulat pun Turun Tangan

0
52

BADUNG, Bali, bisniswisata.co.id,- GEGARA erupsi  magmatik  Gunung Agung , penutupan layanan penerbangan di bandara I Gusti Ngurah Rai diperpanjang hingga Rabu 29 November 2017. Selasa (28/11) sore lebih dari 500 orang penumpang menggunakan fasilitas transportasi darat – bus berkapasitas 40 seats – yang disiapkan pihak perhubungan dari bandara Ngurah Rai menuju terminal antar provinsi Menguwi, dan penyeberangan Padang Bay secara gratis. Sementara wisatawan yang menuju bandara Juanda Surabaya dikenakan biaya angkut Rp 300.000,-, reservasi dilakukan di terminal keberangkatan domestic dan internasional.

“Saya berniat menggunakan kereta api, Bali – Banyuwangi – Surabaya- Jakarta. Ternyata Damri sudah tidak kerjasama dengan KAI. Ya, minta ganti tiket Juanda- Cengkareng,” ungkap Sari salah seorang penumpang penerbangan domestik tujuan Jakarta.

Sementara disejumlah hotel tidak sedikit wisatawan yang memilih menambah lama tinggal sembari menunggu perubahan situasi. Menyikapi hal ini hotel menetapkan rate khusus bagi wisatawan yang memperpanjang masa tinggalnya, ungkap GM Risata Resort Fransiska Handoko.

“Selain kebijakan harga khusus, kami sedang mencari jalan keluar bagi tamu keluarga, grup untuk angkutan ke Surabaya. Mereka kan tidak hanya memerlukan angkutan penumpang, ada bagasi yang lebih. Perlu angkutan khusus yang bias mengakomodasinya,” jeas GM Amnaya Resort and Spa, Jeffry Wibisono.

 

Pendampingan Konsulat

Sementara bagi wisatawan asing, pengalihan point keluar tidak sekadar alih moda transportasi dan berpindah bandara. Keabsahan dokumen keimigrasian menjadi persoalan bagi kalangan tertentu, untuk itu pengelola bandara Ngurah Rai juga menyediakan meja khusus layanan konsular dan imigrasi.

Kehadiran pihak konsulat dalam situasi force majeure, sangat membantu ungkap seorang petugas customer service penerbangan asing. Pasalnya tidak sedikit penumpang yang bersikukuh meminta fasilitas hotel gratis plus meal selama bandara ditutup. Sementara dalam peraturan penerbangan, tidak wajib bagi operator penerbangan memberikan kompensasi jika terjadi bencana. Departemen Perhubungan RI telah mengatur bahwa apabila terjadi pembatalan penerbangan akibat  force majeure  dan penumpang   menuntut   untuk   melakukan  refund  ticket,  Badan  Usaha Angkutan Udara wajib  mengembalikan uang tiket  apabila diminta oleh penumpang.

Refund   ticket   bukan  merupakan bentuk  dari   ganti   kerugian, akan tetapi  merupakan   kewajiban  dari    Badan  Usaha  Angkutan  Udara  kepada penumpang yang  tidak menikmati jasa penerbangan. Refund  ticket  apabila terjadi keadaan force majeure sebesar 100%  dari  harga tiket  yang  dibeli  penumpang,  Passanger Service  Charge  (PSC) bagi  penumpang yang belum menikmati jasa kebandarudaraan wajib dikembalikan kepada  penumpang,   sedangkan Passanger Service Charge (PSC) bagi penumpang yang telah menikmati jasa kebandarudaraan disetorkan kepada bandar udara.

Kejadian force majeure antara  lain  meliputi : bencana alam,  seperti : banjir, gempa bumi,   asap  akibat   kebakaran dan angin topan, gunung meletus, tsunami; keadaan perang; dan atau huru hara, kerusuhan.

Di area layanan penumpang, nampak aktif staf- staf dari konsulat RRT,  Australia, Finland/Sweden, Jerman, Austria, Francis, UK, India, USA dan Italia, membantu warganya. *Dwi

LEAVE A REPLY