Shafira Angkat Kekayaan Alam Budaya Bukittinggi Untuk Koleksi IFW 2017

0
987

Busana Shafira yang akan diyampilkan di ajang IFW 1-5  Febuari 2017

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Keelokan alam dan budaya Bukittinggi, Sumatera Barat, telah mengispirasi tim Shafira untuk mengangkatnya menjadi detail busana dengan tema besar Bungo Nagari di ajang Indonesia Fashion Week (IFW) 2017.

“Karya yang ditampilkan dalam IFW 2017 ini, sepenuhnya refleksi dari kekaguman Shafira akan Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Sukma romantisme, rona mewah dan kemegahan karya sulam anak negeri , hingga keelokan budaya yang tidak ternyana, berbuah menjadi Bungo Nagari,” kata Feny Mustafa, Pendiri dan Komisaris Utama Shafira Corporation.

Feny menuturkan dalam ajang IFW tahun ini yang berlangsung di Jakarta Convention Center pada 1-5 Februari 2017, Shafira akan menampilkan sedikitnya 60 setel busana ready to wear deluxe. Sebanyak 15 koleksi diantaranya khusus untuk kaum pria.

“Kami mendedikasikan koleksi ini kepada para perempuan mandiri, cendekia, dan aktif,” ungkap Feny di Jakarta, Senin (23/2/2017).

Menurut dia, busana tersebut dicitrakan sebagai busana siap pakai premium. Terpilah menjadi koleksi yang memiliki karakter, berdaya padu padan yang tinggi, menawan, yang bermuara pada kekayaan dan keindahan bordir khas Kota Bukit Tinggi, bercampur dengan gemerlap kristal aneka warna Swarovski yang mewah, sebagai benang merahnya.

Bungo Nagari merupakan tema besar seluruh koleksi yang dikampanyekan label busana muslim ini, sepanjang 2017. Shetyawan, Kepala Desainer Shafira, menambahkan detail busananya sendiri memgembangkan siluet baju kurung menjadi desain yang praktis bergaya urban yang chic.

 Blus yang longgar dipadukan dengan rok klok lebar. Ada lagi koleksi dress berpotongan trapezium berpadu dengan jaket pendek. Blus dengan eksplorasi detail pada bagian tangan dan jaket, sengaja dibentuk longgar dengan detail kristal swarovski yang membentuk motif songket pucuk rebung.

Sementara rok bergaya aristokrasi, kaya dengan detail hasil pekerjaan tangan yang ahli. Dan palazzo terlihat edgy dengan taburan aplikasi bordir bungo nagari yang menawan.

Aneka jenis motif pada bordir dan sulam Bukittinggi sudah dikenal luas di masyarakat. Namun dari penelusuran Shafira dalam setahun ini, motif sulam bayang dan motif suji belum popular dibandingkan dengan motif lainnya.

Keindahan motif sulam bayang terlihat dari bayangan motif yang dihasilkan dari teknik sulamnya. Sedangkan sulam suji adalah sulam yang menghasilkan gradasi warna, dimana pada motif motifnya terdapat sentuhan budaya dan motif sulam china. Motif dan kedua jenis teknik sulam ini Shafira aplikasikan di seluruh koleksi.

Menggabungkan sulam dan bordir Bukittinggi dalam desain busana elegan khas Shafira, kata Shetyawan, adalah salah satu cara untuk melestarikan dan mengembangkan sulam dan bordir sebagai aset budaya, yang berakar pada keragaman budaya setempat.

Kerajinan sulam dan bordir adalah karya budaya yang mewakili identitas Sumatera Barat di tingkat nasional.  Dalam selembar kain, katanya, terpapar identitas budaya dan sejarah sebuah daerah atau kota. Di Sumatera Barat sendiri terdapat puluhan jenis dan motif sulaman yang lahir dan berkembang.

Feny menambahkan menapaki usia 28 tahun, Shafira yang kini menjadi Shafira Corporation (Shafco) semakin berkembang dan menunjukkan kedewasaannya dalam berbisnis.

Dimulai dari satu merek Shafira, lahir merek-merek lainnya yaitu Zoya, Mezora, dan Encyclo, sehingga konsumen memperoleh beragam pilihan yang ditawarkan dengan desain, corak dan warna bahan yang selalu up date. Seluruh koleksinya setiap musim selalu disajikan dengan indahnya. (bundayoely@gmail.com)

LEAVE A REPLY