Serangan Teroris, Tingkat Hunian Hotel di Jakarta Anjlok

0
426
Jakarta menjadi tujuan utama wisatawan Vietnam (Foto: mandarinoriental.com)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: SELAMA Januari 2016, tiga indeks kinerja perhotelan di Jakarta dilaporkan menurun. Serangan teroris yang terjadi di depan Sarinah Jalan Thamrin Jakarta Pusat pada 14 Januari 2016 tidak berpengaruh kuat pada industri perhotelan.

Menurut lembaga riset perhotelan STR Global, tingkat hunian hotel selama periode Januari di Jakarta turun 6,2% menjadi 49,5%. Tarif rata-rata kamar per hari (ADR) turun 2,1% ke posisi Rp1.115.912.88. Indesk lainnya, pendapatan per kamar yang tersedia (RevPAR) turun 8,1% ke posisi Rp552.866,35), demikian laporan resmi lembaga itu sebagaimana dikutip hotelnewsnow.com, Jumat (26/2/2016).

Para anlis STR Global menilai tidak ada dampak negatif terhadap permintaan kamar hotel menyusul serangan teroris pada 14 Januari lalu di kawasan Jalan Thamrin, Jakarta Pusat .
Selain itu, permintaan masih tidak stabil akibat kebijakan pemerintah yang keras terhadap aksi teroris dan gangguan keamanan sejak 2014.

Sementara Konsultan properti Colliers International Indonesia menyatakan dalam beberapa tahun mendatang, jumlah hotel baru di wilayah DKI Jakarta bakal melonjak dan menambah pasokan kamar baru ke berbagai daerah di kawasan ibukota Republik Indonesia.

“Jakarta mengantisipasi jumlah penambahan substansial kamar hotel baru selama 2016-2018 dengan tambahan 10.509 kamar di 51 hotel baru,” kata Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi test.test.bisniswisata.co.id

Dia memaparkan bahwa pada akhir 2015, pasokan total kamar dari hotel berbintang di wilayah DKI Jakarta adalah 37.648 kamar di 179 hotel. Sedangkan pada tahun 2015 lalu juga, lanjutnya, tingkat okupansi rata-rata secara keseluruhan di Jakarta tercatat 59,1 persen atau lebih rendah dari tingkat pada 2014 sebesar 64,8 persen. “Ini adalah hasil dari menurunnya jumlah tamu korporat dari lembaga pemerintahan Indonesia setelah adanya regulasi yang melarang penggunaan rapat pegawai pemerintah di hotel,” katanya.

Sementara di sektor ritel, tingkat okupansi beragam pusat perbelanjaan di Jakarta pada 2015 adalah sebesar 86,8 persen sementara di daerah Bodetabek tercatat 83 persen. Sebanyak 12 pusat perbelanjaan baru dengan total luas 444.000 meter persegi diperkirakan bakal beroperasi di DKI Jakarta pada periode 2016-2018. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY