Selalu Ada Alasan Untuk Menginap Di  The Maharajo Jakarta Guest House

1
241

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Wita Dahlan menerima tamunya dengan senang hati untuk menginap di rumahnya yang juga merangkap sebagai The Maharajo Jakarta Guest House, di kawasan Cipete Raya, Jakarta Selatan.

Sejak memasarkan jasa akomodasinya lewat situs-situs internet  yang mendunia, empat kamar yang dipasarkannya memang selalu terisi. Bahkan untuk Maret 2018 sepanjang bulan ini pihaknya sudah tidak bisa menerima tamu.

Berbagi kamar sejak Desember 2016, ibu dua anak yang juga seorang traveller ini bercerita bahwa tamu-tamu yang menginap di Maharajo punya berbagai alasan untuk memilih tinggal di rumahnya.

“Suatu hari ada tamu yang sudah reservasi datang. Saya pikir dia pilih tempat kami karena ada acara atau kegiatan  di sekitar kawasan Cipete supaya lebih dekat. Eh ternyata dia menginap semalam karena ingin menyendiri dan menikmati suasana kamar “ungkap Wita, 61 tahun.

Rumah tinggal si tamu juga dekat,  masih di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. Tapi karena dia melihat di situs yang dibukanya ada Rumah Pohon, kamar Colonial, kamar Marocco, kamar Scandinavia yang ditawarkan,  maka dia memesan salah satu kamar yang ada.

Kamar-kamar tematik di  The Maharajo Jakarta Guest house
Rumah yang asri dengan berbagai tanaman hias

“Tamu wanita itu hanya berdiam diri di kamar dan ketika mengobrol dia rindu rumah yang homey dan ingin punya privasi karena hidup serumah dengan mertua,” kata Wita ikut prihatin.

Jelang Natal tahun lalu, ada tamu dari Hongkong yang menginap selama beberapa malam. Selain 4 hari di Jakarta, dia juga berwisata ke Bandung. Saat sang tamu itu datang seperti biasa Wita akan memberi tahu tempat-tempat kuliner di Jalan Cipete Raya serta convenience store yang ada lalu berlanjut dengan mengobrol santai.

“Ternyata dia datang karena tematik kamar yang ditawarkan tapi motivasi terbesarnya adalah menghindari pesta Natal keluarga. Dia mau menghindari merayakan Natal bersama keluarga karena bosan dengan pertanyaan klise, sudah punya calon pendamping hidup apa belum ? kapan kawin ?,” ungkap Wita.

Berinteraksi dengan tamu-tamu domestik maupun wisatawan asing yang datang dari mancanegara, Wita menemukan selalu ada alasan untuk menginap di  The Maharajo Jakarta Guest House . Soalnya ada satu tamu dari Singapura yang reservasi di pagi hari lalu siangnya sudah check in tiba di rumahnya.

Ternyata dia sedang mengerjakan proyek dan datang ke apartemen sepupunya di Singapura supaya bisa konsentrasi menulis tugas-tugasnya. Tapi berhubung sepupunya baru pindahan dan banyak box bertumpuk membuat mood nya terganggu.

Apalagi box yang beterbaran merusak pemandangan di apartemen baru sepupunya itu. Akhirnya dia browsing di internet dan menemukan alamat The Maharajo. Tanpa pikir panjang dia langsung terbang ke Jakarta dan check-in.

“ Yang saya butuhkan sebenarnya meja kerja, akses internet dan suasana yang tenang,” kata sang tamu pada Wita yang langsung memahami kebutuhan tamunya itu.

Dari situ Wita jadi menyadari  alasan seseorang datang, bisa juga karena mencari working place sehingga jarak satu jam dari Singapura ke Jakarta dan memilih akomodasi di kawasan perumahan bukan masalah bagi para profesional muda jaman NOW.

“Setelah tiga hari berkutat dengan laptop dan berkantor di dunia maya di meja kerja dalam kamar, tamu asal Malaysia itu melanjutkan perjalanan dinasnya  ke Thailand, Hongkong dan negara tetangga lainnya,”

Wita mengaku ikut senang kalau tamu-tamunya bisa mendapatkan apa yang diharapkannya termasuk menjadi rumah bagi diaspora Indonesia yang bekerja di luar negri.

“Ada seorang insinyur perminyakan yang bekerja di Qatar dan tinggal di Semarang. Tiap kali mendapat cuti pulang ke tanah air maka dia memilih transit dulu di Maharajo. Setelah satu-dua malam di Maharajo untuk bertemu dengan relasi barulah pulang ke Semarang. Jadi kami juga punya repeater guest,” jelas Wita.

Nyonya Rumah Andalan

Menjadi nyonya rumah yang bisa diandalkan tamu-tamunya agaknya sudah menjadi sifat dasar yang dimiliki Wita Dahlan. Hari itu meski kesibukannya bukan hanya mengelola The Maharajo namun tetap fokus melayani tamu yang akan check-in.

“ Jadi cari Jl Cipete Raya dulu karena posisi The Maharajo ada di jalan Cipete Dalam 2/29, RT 006 RW 03. Tamu yang naik taxi atau ojek online berhenti  di Cafe Sophie Authentique karena jalannya antara cafe itu dan Warung Blekok yang hanya muat untuk satu mobil,” ujarnya dengan detil.

Hanya 50 meter dari jalan raya, di sisi kiri jalan tamu bisa membaca tulisan The Maharajo di pagar besi. Cukup sekali dorong maka tamu bisa langsung menikmati keindahan teras yang diisi dengan furniture vintage.

Background- nya dinding dengan tempelan jendela dan pintu didominasi warna hijau dan warna-warna pudar kuning serta warna bata. Teras multifungsi ini menjadi lobby sekaligus tempat bersantai buat para tamu. Acara reuni dengan cara tradisional duduk di karpet juga bisa dilangsungkan di teras ini.

Serunya reuni di teras sekaligus lobby The Maharajo

Bagi tamu yang menginap  bisa langsung masuk lorong dengan dinding berhiaskan pintu gebyok Jepara penuh ukiran dan tiba diujung bertemu dengan pantry area  untuk membuat minuman atau makanan yang dibawa tamu.

Bagian belakang lebih di dominasi kayu dan tetap dengan kesan vintage karena ruang belakang ini tengah disiapkan untuk tamu menikmati sarapan pagi atau tempat bersosialisasi nyonya rumah dengan tamu-tamunya.

Di ujung lorong ini juga ada tangga di kanan untuk naik ke lantai atas lengkap dengan landasan miring agar roda-roda kopor mudah dinaikkan ke atas. Tiga kamar yaitu Marocco, Colonial dan Skandinavian berada di sisi kanan sementara Rumah Pohon ada di sisi kiri.  

Kepiawaian Wita menata interior rumahnya didukung hobinya untuk membeli furniture, pintu gebyok, lukisan-lukisan dan barang antik lainnya. Istri dari Dahlan Rebo Pahing, photografer profesional ini mendapatkan dukungan keluarga untuk hobi belanja barang-barang vintage.

Tamatan sekolah Sekretaris Tarakanita ini memang sudah menjelajah dunia sejak muda sehingga hobi di bidang seni juga terasah dari pengalamannya melihat seni dan budaya berbagai negara.

Wita juga tak asing dengan ilmu hospitality karena tamat sekolah seketaris bekerja di Kedutaan Kanada, belasan tahun bekerja di Scandinavian Airlines dan banyak mendapatkan kursus hospitality di Scandinavia dan di negara-negara Eropa lainnya.

Semangat melanjutkan kuliah Komunikasi di Universitas Indonesia,  Wita kemudian menjadi manajer komunikasi dan pemasaran di beberapa perusahaan. Wita juga terlibat program Recovery Bali setelah peristiwa Bom Bali I.

Rumah Pohon, salah satu kamar tematik didominasi furniture kayu

Mematrikan Nama Ayah.

Bagi tamu-tamunya, The Maharajo Jakarta Guest House bukan hanya tempat transit menginap tapi menjadi tempat yang dirindukan untuk kembali.

“Pengen cepet bermalam lagi di sana! Bersih, tenang, aman, kamarnya bener-bener baru. Sempet nginep di kamar gaya Marokonya, sekarang pengen nyoba di kamar gaya lain. See you soon, I’ll be back! ,” ungkap salah satu tamu testemony usai menikmati pengalaman menginap dengan harga berkisar Rp 250-Rp 350 ribu/ malam.

Kesaksian lainnya adalah karena tamu mendapatkan rumah yang nyaman, penuh keramahan dan terletak di tempat strategis sehingga mudah menemukan restoran – mulai dari makanan tradisional hingga kafe dan fastfood .

Kawasan tempat The Maharajo berdiri adalah milik keluarga besar Syafihir Maharajo, ayahanda Wita yang berasal dari Payakumbuh, Sumbar.  Wita yang dilahirkan sebagai anak ketiga dari 7 bersaudara ini langsung mematrikan nama sang ayah untuk usahanya ini.

“Saya berharap adik-adik yang tinggal bersebelahan nanti mau membuka The Maharajo 2, 3 dan seterusnya. Berbagi kamar dan berinteraksi dengan warga dunia banyak yang bisa kita pelajari antara lain orang melakukan perjalanan bukan hanya untuk kebutuhan bisnis maupun wisata,”

Banyak hal yang dia pelajari ketika menerima tamu pertama dari Amerika Serikat yang datang karena mau ikut workhop bela diri di Sekolah Perancis yang berdekatan dengan rumahnya di Cipete.

Ada juga tamu dari Ukraina yang senang berinteraksi dengan masyarakat lokal dan datang ke The Maharajo untuk transit karena besoknya mau naik kereta ke Purwokerto dan dari sana menemui temannya di dunia maya untuk bersepeda bersama ke Bali.

“ Cara orang untuk melakukan leisure berbeda-beda karena itulah saya optimistis dengan bisnis jasa ini dimana pelayanan dari hati akan menambah banyak saudara dari dalam negri sendiri maupun mancanegara,” kata nenek dua cucu ini mengakhiri obrolan.

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY