Seharian Menikmati Keindahan Danau Toba dan Belajar Budaya Batak

1
304

Basar Simanjuntak, Direktur Pemasaran Badan Otorita Pengelola Danau Toba ( kiri) sambut rombongan di bandara Silangit. ( foto-foto: Hilda Ansariah Sabri).

SILANGIT, Tapanuli Utara, bisniswisata.co.id: Pesawat jet Garuda Indonesia jenis Bombardier CRJ-1000 berkapasitas 96 penumpang mendarat mulus di bandara Silangit, Siborong-borong.

Begitu turun dari pesawat saya menunggu rombongan tour operator (TO) dan travel agent ( TA) dari Paris didampingi Eka Moncarre, Kepala Perwakilan Visit Indonesia Tourism Office ( VITO) , Paris. Kebetulan saya duduk di bagian paling depan dan tak sempat bertemu saat menunggu keberangkatan.

Setibanya di Silangit, pertemuan singkat dan perkenalan di bawah pesawat kami lanjutkan ke ruangan bandara yang masih dalam taraf pembangunan. Dinding ruang kedatangan di Bandara Silangit yang sempit dipenuhi banner pemandangan keindahan Danau Toba dan peta besar keseluruhan wilayah. Ruangan itu makin sesak dengan kumpulan penumpang yang menunggu bagasi.

Di pintu keluar, Basar Simanjuntak, Direktur Pemasaran Badan Otorita Pengelola Danau Toba bersama grup penari sudah langsung menyambut dengan tarian Selamat Datang di bawah sinar marahari pagi yang mulai terik.

Para tamu, Albane Enaud, tour operator Explorator, Audrey Nicoud,tour operator Bali Seken, Dristy,travel agent CFA Voyages, Tom Colmaire, dari Marco Vasco Travel Agent dan Yannick Chapuis dari travel agent La Maison du Voyages tampak senang dengan penyambutan plus kalungan selendang tenunan Batak yang sekaligus jadi souvenir dan boleh dibawa pulang.

Selama seminggu dari 10-17 april 2017 peserta Famtrip ini didampingi langsung oleh Eka Moncarre, Ayu Amelia, Kasubbid Perjalanan Wisata Pengenalan Umum dan Mustikaning Sekar ( Nindy), Staf Asdep Pengembangan Pasar Eropa, Timur Tengah, Afrika, Amerika ( ETTAA) dan saya sendiri sebagai senior journalist.

Basar Simanjuntak pandai membuat tamunya merasa senang dan kehadirannya dimuliakan. Atraksi penari dan para pemusik di halaman airport menjadi tontonan menarik bagi para penumpang lain yang baru tiba.

Perjalanan udara selama dua jam sejak take off jam 6.45 pagi dari bandara Soekarno Hatta, Jakarta yang lancar membuat peserta rombongan masuk dalam mini van dengan senyum mengembang. Apalagi dalam waktu singkat kami tiba di Panatapan Huta Ginjang untuk menyaksikan panorama indah Danau Toba dari atas ketinggian.

Bukit Doa Huta Ginjang

Huta Ginjang dengan panorama Danau Toba dan hutan pinus

Lokasinya berada di Desa Dolok Martumbur, Kecamatan Muara, Tapanuli Utara dan berjarak hanya 15 menit dari Bandara Silangit. Huta berarti kampung dan Ginjang berarti atas. Oleh karena itu, Huta Ginjang merupakan kampung yang berada di atas.

Panatapan Huta Ginjang sebenarnya bisa dibilang seperti bukit hijau dengan jajaran pohon pinus. mantan Menko Maritim Rizal Ramli menjulukinya Monaconya Indonesia. Monaco adalah negara tetangga Perancis yang kecil tapi indah.

Danau Toba adalah sebuah danau tekto-vulkanik yang terletak di Provinsi Sumatera Utara. Danau ini merupakan danau terbesar di Indonesia total seluas 1.130 km² dan terbesar di Asia Tenggara. Di tengah danau ini terdapat sebuah pulau bernama Samosir

Danau Toba juga merupakan danau terdalam ke 9 di dunia yang mencapai kedalaman hingga 505 meter. Wajar saja jika Danau Toba merupakan salah satu keajaiban alam yang lebih menyerupai lautan daripada danau dengan pinggiran seperti halnya pantai.

Keluar dari mini van, semua berhamburan keluar untuk berburu foto diatas ketinggian mencapai 1.555 mdpl dengan posisi menghadap danau. Jam baru menunjukkan pukul 10 an pagi dengan sedikit mendung dan permukaan air danaunya yang tenang membuat kami seperti terhipnotis kala melihatnya. Cuaca bisa berubah dengan cepat di sini karena itu memanfaatkan matahari yang meredup jadi sasaran bidik kamera.

Peserta famtrip merupakan tour operator ( TO ) dan Travel Agent ( TA) ini  sudah biasa menjual paket wisata ke Indonesia, namun biasanya inbound untuk destinasi Bali dan Lombok. Melalui kegiatan famtrip dengan rute Sumut-Sumbar-Belitung ini diharapkan peserta dapat menciptakan dan menjual paket-paket wisata selain Bali.

Setelah beberapa menit tanpa dikomando rombongan mulai berfoto ria, selfie, membuat video atau foto bersama berlatar belakang pemandangan indah apalagi posisi kami berdiri di lokasi dimana ada patung besar berbentuk tangan mengatup seperti saat berdoa.

Bukit Doa Taber Huta Ginjang

Obyek ini memang bukan hanya tempat menikmati keindahan alam tapi menjadi salah satu obyek wisata religi di Tapanuli Utara. Bukit Doa Taber mulai dibangun pada 1996. Bukit Doa Tapanuli Bersinar ( Taber) sendiri menjadi tempat ibadah yang selalu ramai saat Natal tiba

Selain itu, tempat ini juga dilengkapi dengan tempat kebaktian dan retreat wisata rohani. Sepantasnya sebagai umat beragama kita patut bersyukur bisa menikmati karya cipta dari sang pemilik alam semesta, Allah SWT.

Ada tersedia sedikit tempat parkir dan warung-warung menyediakan makanan dan minuman. Sayang untuk kondisi toilet umum juga masih jauh dari kata nyaman dan bersih. Inilah yang harus jadi pekerjaan rumah pemerintah, dalam hal ini Pengelola Danau Toba. Kebetulan Basar Simanjuntak bersama istrinya, Nenti Basar yang cantik ikut mendampingi rombongan.

Melongok pabrik kopi

Eka Moncarre di pabrik kopi ( foto: Eka)

Dari bukit doa sekitar 15 menit perjalanan, mobil van mengarah ke sebuah pabrik kopi. Banyak petani yang sedang menyetorkan hasil panennya ke petugas pabrik. Rupanya pabrik ini berfungsi sebagai pengepul juga menampung hasil panen.

Rombongan antusias melihat proses pengeringan kopi dari para karyawan pabrik di halaman yang luas. Cara para ibu bekerja per group berjejer rapih menggulung lembaran terpal berisi biji kopi yang telah dijemur. Saat mengangkat terpal bersamaan itu sebenarnya atraksi yang menarik.

Nenti Simanjuntak yang suka traveling bercerita jika berwisata ke Thailand mengunjungi kawasan pertanian pengelola mampu mengemas atraksi dengan menarik. Oleh karena itu dia langsung menyarankan pada inang-inang yang melakukan proses penjemuran membuat yel-yel dan gerakan seperti orang menari dalam bahasa Batak yang fasih.

Inang-inang ( ibu-ibu) karyawan pabrik itu langsung mengangguk mendengar ide menariknya itu dan membalasnya tanda setuju masih dalam bahasa Batak yang tidak saya pahami. Diakhir kunjungan kami bisa menikmati minuman kopi panas yang nikmat.

Kunjungan ke pabrik pengeringan kopi yang dipasok untuk Cafe Starbucks di kota-kota besar di seluruh dunia ini memang belum dikemas menjadi paket wisata. Kunjungan optional ini difasilitasi guide kami Iswan yang meminta izin berkunjung pada pengelola pabrik atas permintaan rombongan.

Usai makan siang perjalanan dilanjutkan ke komplek Makam Sisingamangaraja XII yang cukup teduh karena banyaknya pohon-pohon rindang yang menaungi komplek dan bangunan lainnya khas Batak dalam komplek makam yang sayangnya tidak terawat.

Rumah adat Batak Toba atau biasa disebut Rumah Bolon telah didaulat menjadi perwakilan rumah adat Sumatera Utara di kancah nasional. Rumah berbentuk persegi panjang dan masuk dalam kategori rumah panggung ini umumnya dihuni oleh 4-6 keluarga yang hidup secara bersama-sama.

Raja Sisingamangaraja XII meninggal pada 17 Juni 1907 dalam sebuah pertempuran dengan Belanda di pinggir bukit Aek Sibulbulen, di suatu desa yang namanya Si Onom Hudon, di perbatasan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Dairi yang sekarang. Dia berperang melawan Belanda selama 30 tahun.

Konon peluru menembus dadanya, akibat tembakan pasukan Belanda yang dipimpin Kapten Hans Christoffel.Turut gugur waktu itu dua putranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi, serta putrinya Lopian. Sementara keluarganya yang tersisa ditawan di Tarutung.

Raja Sisingamangaraja XII sendiri kemudian dikebumikan Belanda secara militer pada 22 Juni 1907 di Silindung dan makamnya kemudian dipindahkan ke Makam Pahlawan Nasional di Soposurung, Balige sejak 14 Juni 1953, yang dibangun oleh Pemerintah, Masyarakat dan keluarga.

Raja Sisingamangaraja XII digelari Pahlawan Kemerdekaan Nasional dan komplek makamnya adalah Taman Makam Nasional sehingga pengunjung tidak akan dipungut biaya untuk masuk ke dalamnya.

Tiba-tiba terdengar suara motor masuk halaman makam. Seorang wanita melepas sandalnya saat turun dari motor tanda hormatnya pada leluhur lalu bergegas ke depan makam.

Memakai kebaya merah dan ikat pinggang kain dengan warna senada dia lalu mengeluarkan lidi dupa dan mulai berdoa. Saya seperti melihat wanita-wanita Bali di Pura yang khusyuk berdoa.

Kehadiran peziarah wanita itu membuat peserta rombongan sibuk mengabadikannya dalam diam,  lalu kami melanjutkan perjalanan ke Museum Batak Balige, salah satu destinasi wisata Danau Toba di Kawasan Wisata Balige. Kota Balige adalah ibu kota dari Kabupaten Toba Samosir

Lebih tepatnya disebut juga Museum Batak T.B. Silalahi dan berlokasi di Komplek T.B. Silalahi, Jl. Pagar Batu no. 88, Soposurung, Balige, Tobasa, Sumatera Utara. Komplek ini sangat dekat dengan makam Sisingamangaraja XII, hanya berjarak 100 meter.

Menikmati tari-tarian dan lagu-lagu Batak di Komplek TB Silalahi

Di dalam Komplek T.B. Silalahi terdapat dua gedung museum utama, yaitu Museum T.B. Silalahi Center dan Museum Batak Balige. Turun dari mobil tampak Museum Pribadi TB Silalahi atau yang diberi nama Museum Jejak Langkah dan Sejarah TB Silalahi terletak di Gedung Utama di Kompleks TB Silalahi Center.

Kebetulan museum pribadi tidak dibuka tapi di dalamnya pengunjung dapat menyusuri catatan hidup Letjen (Purn). Dr. TB Silalahi. Museum ini dibangun untuk memotivasi generasi muda terus meraih cita-cita dengan melihat pengalaman TB Silalahi mulai dari kecil sebagai anak pengembala kerbau sampai menjadi seorang Jendral.

Melestarikan budaya Batak

Sisi lain keindahan Danau Toba dari Balige ( foto: Eka)

Komplek TB Silalahi Center berada dekat dengan pinggiran Danau Toba sehingga pengunjung bisa melihat panorama ke arah Danau Toba yang memikat. Dari pintu masuk kami bisa melihat beberapa fasilitas seperti cafetaria, sky restaurant, kolam renang, convention hall, dan artshop untuk berbelanja souvenir khas Batak.

Museum Batak Balige didirikan pada 7 Agustus 2006 dan diresmikan pada 17 April 2008 oleh Letjen (Purn). Dr. TB Silalahi. Peresmian pembukaan dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 18 Januari 2011.

Dalam museum ini pemilik berupaya melestarikan dan memanfaatkan koleksi kekayaan budaya dan sejarah etnik Batak. Begitu banyak artefak dan naskah kuno Batak tersimpan di perpustakaan dan museum di luar negeri terutama Belanda, Jerman dan Inggris. Namun sekarang terus diupayakan agar kekayaan budaya tersebut dapat kembali ke tanah Batak dan dinikmati oleh generasi muda sekarang.

Sedikitnya ada 1.000 koleksi artefak budaya Batak dan peninggalan sejarah dari 6 puak Batak, yaitu: Karo, Toba, Simalungun, Pakpak, Angkola, dan Mandailing. Di dalam museum ini disimpan berbagai macam benda-benda khas Batak dan peninggalannya seperti senjata tradisional, pakaian, rumah adat Batak, patung sigale-gale, pakaian, perhiasan hingga kutipan-kutipan nasihat bijak dari para leluhur .

Setelah puas berkeliling, rombongan digiring untuk menyaksikan tarian dan lagu-lagu Batak di halaman belakang komplek. Berlatar belakang rumah-rumah khas Batak, para penari berbaris dengan pakaian-pakaian adat yang indah. Hujan gerimis tidak menghalangi para penari di Komplek TB Silalahi itu untuk menghibur tamu-tamunya.

Diakhir acara, para tamu dikalungkan selendang tenun dan berfoto bersama. Hanya kali ini kain tenunan tidak bisa dibawa pulang tapi dikembalikan lagi. Keluar dari komplek rasa bangga menyeruak meski saya bukan berasal dari suku Batak.

Bangga pada para leluhur Batak yang memikirkan kelangsungan seni budaya dan menjaga karakter generasi penerusnya untuk menjaga persatuan bangsa. Selayaknya generasi milenial berwisata ke obyek wisata ini untuk memahami seutuhnya kekayaan budaya bangsanya sehingga tidak terprovokasi oleh pihak yang ingin memecah belah bangsa di era digital ini.

Puas menikmati sajian atraksi di komplek TB Silalahi akhirnya sorepun menjelang dan kami bergerak lagi dengan mini van menuju hotel di sebuah teluk di Danau Toba. Kami tiba di dermaga dan menunggu sejenak untuk memasukkan koper-koper ke kapal bersama penumpang lainnya yang menjadi tamu hotel menuju Tiara Bunga Hotel dan Villa.

Kami tiba saat hitungan menit matahari siap masuk dalam peraduan, tenggelam dan semburat warnanya terpantul di kejernihan air danau. Suara azan magrib dari TV dalam kamar hotel menghentikan aktivitas saya memotret keelokan pemandangan yang ada. Tubuhpun bersujud dan rebah dalam kepenatan setelah seharian penuh berwisata dari satu obyek ke obyek lainnya. Selamat malam Toba…(Hilda Ansariah Sabri).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1 COMMENT

  1. Wah seru bu ceritanya, jadi pengen ke Danau Toba nih.
    Btw tolong sambung lagi ke hari berikutnya ya…

LEAVE A REPLY