Seharian kuliner dan ‘blusukan’ di kota Batam, Kepulauan Riau

0
8941
Pasar tradisional Penuin, Batam, banyak dikunjungi wisatawan Singapura untuk berbelanja sayuran, jajan makanan khas Batam dan membeli oleh-oleh

BATAM, test.test.bisniswisata.co.id: Mendarat pagi hari di bandara internasional Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau membuat rasa lapar makin terasa, apalagi di pesawat tidak disediakan sarapan. Jam belum lagi menunjukkan pukul delapan pagi saat rombongan kecil saya keluar dari pintu kedatangan.

Senyuman mengembang di wajah Nursetiajid, salah seorang kerabat yang menjadi Kepala Asrama Haji Batam. Bersama Anna, istrinya yang menjemput ke bandara,  kami langsung menuju kawasan Nagoya untuk santap pagi dengan makanan khas Batam yaitu mie lendir.

Namanya memang terdengar aneh ditelinga seolah membuat kita kurang berselera menyantapnya. Tapi menu ini merupakan sajian mie dengan kuah yang mengental, dengan bumbu kacang dan samar-samar ada bau kayu manis dalam kuahnya. Penyajiannya dengan sedikit toge dan irisan telur serta irisan cabe rawit untuk menyeimbangkan rasa manis dari kuah..

Kami sempat tertegun sejenak sebelum masuk rumah makan Mujur di depan Hotel Sari Jaya,Nagoya karena tidak ada meja yang kosong. Beberapa orang bahkan menunggu dipinggir meja tamu yang tengah bersantap menikmati mie lendir itu agar begitu  tamu bangkit dari kursi dan meminta bon tempatnya bisa langsung diisi.

Jangan harap bisa menjadi tempat nongkrong karena di sini tamu hanya bisa datang untuk tujuan makan dan setelah itu tempat duduknya akan langsung terisi oleh tamu baru. Begitu mudahnya tamu mengalir ketika menu yang disajikan benar-benar menggugah selera dan punya nilai jempol ke atas tentunya.

Nursetiajid akrab menyapa tamu-tamu yang ada di rumah makan itu karena saling mengenal. Dia menunjuk tiga pria di meja dekat kami dan salah satunya adalah pemilik sebuah hotel berbintang lima di Batam yang tidak segan-segan melewatkan makan paginya di situ. Kami duduk sambil mengemil kerupuk dan makanan lainnya sebelum mie pesanan datang.

Mie Lendir dengan kuah kacang dan irisan telur.
Mie Lendir dengan kuah kacang dan irisan telur.

Usai mengisi perut kami meneruskan perjalanan lagi, kali ini menuju Batam Center, ferry terminal untuk memesan tiket ferry ke Singapura di Jl Engku Putri keberangkatan esok hari. Dari terminal ferry itu ada jembatan menyambung ke Mega Mall Batam tempat warga Singapura kuliner dan wisata belanja.

Kami mampir juga ke Asrama Haji yang memiliki ruang-ruang pertemuan dan biasa digunakan untuk resepsi pernikahan. Selain letaknya di jantung kota, asrama ini letaknya strategis karena di dalam maupun luar halaman asrama kita bisa berfoto dengan latar belakang bukit Clara bertuliskan ikon kota yaitu “Welcome to Batam”.

Tulisan besar bertuliskan “Welcome  to Batam” yang berada di atas Bukit Clara itu sangat besar sekali dengan ukuran sekitar 6 meter dan tinggi huruf 10 meter diatas kecuraman tanah setinggi 52 meter. Berat tiap huruf bervariasi antara 3 hingga 4,5 ton dan bisa terlihat dari jauh.

Tidak menyiakan kesempatan, kami langsung berfoto di depan Asrama Haji berlatar belakang tulisan di atas bukit itu secara bergantian. Karena  tulisan “Welcome to Batam” sudah menjadi ikon kedua setelah jembatan Barelang.Tentu saja selesai foto langsung meng-upload di media social untuk berbagi pengalaman di dunia maya.

Masih berdekatan dengan asrama berdiri Masjid Agung Batam atau di sebut Masjid Raya Batam (MRB). Mesjid ini memiliki kubah dengan bentuk unik yang berdesain limas segi empat atau seperti piramida dilengkapi dengan menara setinggi 66 m. Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini menjadi pesona daya tarik pariwisata.

Bagian depan masjid yang berada di pusat pemerintahan kota Batam ini menghadap kantor Badan Otorita Pengemabngan Pulau Batam atau BIDA (Batam Industrial Development Authority). Letaknya bersebelahan dengan alun-alun atau berjarak sekitar 20 menit dari bandara Hang Nadim.

Komplek MRB berdiri di atas lahan seluas 75.000 meter persegi,yang menjadikannya  masjid terluas dan terbesar di Batam dengan kapasitas 3500 jamaah. Namun jika masjid penuh, maka halaman dan bagian luar masjid pun bisa digunakan untuk menampung jamaah dengan kapasitas sampai 15.000 jamaah.

Masjid mulai dibangun pada 1999, dan rampung tahun 2001. Masjid ini dirancang oleh arsitek tersohor di Indonesia yakni Achmad Noeman. Achmad juga merancang Masjid Salman Institut Teknologi Bandung (ITB) di Kota Bandung. Kebetulan saya mengenal putra beliau, Irvan Noeman yang punya kecintaan yang besar pula pada pengembangan pariwisata Indonesia.

Bentuk limas sama sisi (teriris tiga bagian) dipilih dengan pertimbangan bahwa bentuk atap yang cocok untuk denah bangunan bujur sangkar, mempunyai persepsi vertikalisme menuju satu titik di atas sebagai simbol hubungan antara manusia dan Tuhan (habluminallah). Sedangkan Irisan tiga bagian merupakan simbol perjalanan hidup manusia (sebagai hamba Allah) dalam tiga alam yaitu alam rahim, alam dunia, dan alam akhirat.

Kembali ke soal kuliner, perjalanan kami lanjutkan ke pasar tradisonal Penuin sekitar 10 menit dari kawasan Batam Center. Pasar tradisional ini ternyata dipenuhi oleh wisatawan Singapura. Liburan akhir tahun 2014 dan saat akhir pekan pula membuat pasar tradisional ini diserbu pengunjung memakai bus-bus wisata.

Banyak wisatawan Singapura yang berseliweran di dalam pasar membeli oleh-oleh ikan asin, ebi, kerupuk dan beragam jenis oleh-oleh lainnya bahkan sayur mayurpun dibeli. Anna mengajak saya blusukan ke  dalam pasar sambil asyik mengamati belanjaan di tangan para turis.

Kami tiba di sebuah kedai yang membuat roti Cane dan di dalam kedai sudah penuh oleh wisatawan Singapura yang menyantapnya sebagai brunch antara sarapan dan jam makan siang. Roti Cane atau disebut juga prata ini disantap dengan kuah bumbu kare daging kambing atau kare ayam.

Untuk kelas kaki lima Pasar Pagi Penuin menjadi incaran untuk jajan segala jenis masakan seperti roti cane tadi, ayam hainan, epok-epok (mirip bakwan tapi dari campuran terigu dan irisan bawang besar), otak-otak basah, laksa, siobak, gonggong dan  jajanan pasar lainnya.

Anna memesan roti cane dengan bumbu kare kambing dan ayam sekaligus dan sambil menunggu pesanan saya asyik menonton proses pembuatannya di depan mata. Tahu-tahu roti itu sudah terbungkus dan siap di bawa pulang dengan harga @ Rp 8000/porsi..

otak-otak Batam dari ikan Tenggiri di Pasar Penuin
otak-otak Batam dari ikan Tenggiri di Pasar Penuin

Bau panggangan otak-otak juga menggoda sehingga saya minta Anna untuk berhenti sejenak membeli otak-otak ikan tenggiri yang harum baunya @ Rp 2000 per buah. Makan otak-otak di sini tanpa bumbu kacang seperti di Jakarta dan kalau rasa tentunya sangat mantap karena rasa ikan yang menonjol.

Kebetulan di depan pedagang otak-otak juga ada pedagang yang menjual kue bolu kampung yang kering. Biasanya dicetak dengan bentuk bulat dan  lonjong atau tergantung bentuk loyang cetakannya. Di wilayah masyarakat Melayu bahkan di Singapura dan Malaysia ada yang berbentuk ikan, bunga dan lainnya. Satu plastik bolu berisi 20buah bolu dihargai Rp 20.000.

Kembali ke mobil banyak belanjaan yang kami bawa untuk camilan sambil mengobrol di rumah Anna di kawasan Baloi. Kami akhirnya melewatkan makan siang dan langsung istirahat akibat terlalu banyak makan jajanan khas Batam.

Melewatkan sore hari di pinggir pantai menjadi pilihan dan kawasan Ocarina menjadi pilihan karena di sana ada  Rumah Kopi Fatmawati. Lokasinya di Mega Wisata Ocarina,  Batam Center.

Masuk saja ke dalam kompleks tempat wisata pantai yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  pada bulan Januari 2009. Ocarina berada di lahan seluas 40 hektare berada di tepian teluk dan komplek perumahan mewah Costarina.

Melewati jalan utamanya kita bisa melihat jejeran patung-patung binatang sesuai Shio atau zodiak Tionghoa yang memakai hewan-hewan untuk melambangkan tahun, bulan,dan  waktu dalam astrologi Tionghoa.

Rumah kopi Fatmawati ini pemiliknya adalah Ibu Fatmawati pendiri Restoran Ayam Goreng Fatwamati yang dibangun menjorok ke laut sehingga duduk di dalam Rumah Kopi itu kita bisa melihat kapal-kapal ferry yang akan merapat ke terminal Batam Center maupun yang baru berangkat menuju Singapura lalu lalang tiada henti.

Meski namanya Rumah Kopi tapi banyak pilihan makanan yang mengenyangkan sambil menikmati beragam minuman panas maupun dingin. Nampaknya Rumah Kopi menjadi tempat nongkrong dari beragam kalangan karena harganya terjangkau sementara lokasinya istimewa.

Menunggu pesanan di Lovely Foodcourt di Sei Jodoh, Batam
Menunggu pesanan di Lovely Foodcourt di Sei Jodoh, Batam

Setelah melewatkan sore hari di pantai, kami bergegas pulang karena Yanti dan Zulkifli, kerabat lainnya akan menjemput di hotel untuk makan malam dengan menu seafood di Lovely Foodcourt yang letaknya tak jauh dari hotel tempat kami menginap di jalan Duyung Sei Jodoh.

Deretan restoran yang menawarkan masakan seafood berjejer di sisi kiri sementara puluhan meja-kursi diatur di lapangan terbuka beratap langit. Yanti langsung memesan di restoran Bobby yang berada di paling ujung dekat panggung. Rupanya sambil menikmati makan malam kerap ada hiburan.

Sekitar seperempat jam kemudian semua hidangan pesanan sudah ada di meja mulai dari cah tofu yang disajikan dengan wortel, jagung muda dan jamur, cah kangkung, udang nestum, sotong goreng tepung, steam ikan malas, ayam goreng bawang.

Nah ayam goreng bawangnya menggoda banget karena potongan ayamnya yang garing diimbangi dengan bawang putih utuh beserta kulit-kulitnya yang digoreng menjadi satu. Sementara menu lain yang tidak kalah uniknya adalah udang goreng nestum yaitu udang goreng dengan balutan  quaker oat kemudian di goreng dengan mentega.  Udangnya garing, manis dari rasa Quaker Oat, dan asin dari rasa mentega yang gurih.

Alhasil dalam kurun waktu 14 jam blusukan ke tempat-tempat kuliner dan city tour di pusat pemerintahan kota Batam saja sudah  demikian banyak tempat yang dilihat dengan kondisi perut yang terus menerus kenyang hingga menjelang ke peraduan. Tidur nyenyak dan tubuh fit diperlukan karena perjalanan masih panjang  lima hari ke depan.di negri jiran. Goodbye Batam ! (hildasabri@yahoo.com)

 

LEAVE A REPLY