Sayang, Destinasi Wisata Kapal Tenggelam Belum Berkembang

0
355
Wisata Kapal tenggelam (Foto: nINE-stein)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Tenggelamnya sebuah kapal tak hanya bisa menjadi sebuah roman, seperti halnya ‘Titanic’ dan ‘Van Der Wijk’. Kapal yang tenggelam juga bisa menjadi tempat wisata menarik, terutama bagi mereka yang hobi menyelami lautan.

Kapal yang sudah tenggelam bertahun-tahun memiliki daya tarik sendiri. Biota laut yang perlahan tumbuh serta muatan kapal yang kaya nilai artistik dan sejarah juga menjadi potensi wisata yang sayang jika tak dikembangkan.

“Bagi para penyelam, kapal yang sudah tenggelam dan muatannya menjadi salah satu dari banyak hal menarik di dasar laut. Untuk hal ini Indonesia terbesar di Asia Tenggara,” kata seorang praktisi selam, Cipto Aji Gunawan, seeprti dilansir laman CNNIndonesia.com, Sabtu (14/01/2017).

Menurut Cipto, ada dua hal yang menjadi daya tarik kapal tenggelam bagi penyelam. Yang pertama adalah nilai estetika. Sebuah kapal yang tenggelam akan menjadi tempat bagi tumbuhnya biota laut yang indah. Selain itu, kapalnya pun akan menjadi daya tarik sendiri, apabila muatannya berisi barang-barang antik bersejarah.

Daya tarik kedua adalah nilai sejarah dari kapal itu. Misalnya, kapal yang tenggelam akibat peperangan atau peristiwa perompakan yang kerap terjadi di masa lalu.

“Contoh yang menarik bagi penyelam adalah bangkai kapal budak yang tenggelam di abad 19 di perairan dekat Pulau Menjangan, Bali,” kata pria yang juga menjadi Tenaga Ahli Underwater Tourism Kementerian Pariwisata (Kemenpar) itu.

Potensi wisata dari bangkai-bangkai kapal ini dibenarkan oleh Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Asia Tenggara Kemenpar, Rizki Handayani.

Bangkai kapal yang tenggelam dan muatannya memang menjadi daya tarik tersendiri bagi para penyelam sehingga memiliki potensi wisata yang bagus. Ekosistem yang terbentuk dari bangkai kapal itu memperindah situasi bawah laut, sehingga bisa memanjakan mata para penyelam.

“Tapi dengan catatan, bangkai kapal dan muatannya itu tidak memunculkan racun yang berbahaya bagi manusia maupun biota laut,” kata Rizki.

Kini, muncul rencana pemerintah untuk mengangkat muatan yang ada di bangkai kapal, atau yang biasa disebut barang muatan kapal tenggelam (BMKT) dari dasar laut ke museum.

Pemerintah sedang menyiapkan peraturan pemanfaatan BMKT untuk pengayaan wawasan budaya bahari. Selain ke museum, pemerintah juga berrencana mendistribusikan BMKT ke beberapa perguruan tinggi guna dijadikan sebagai bahan ajar.

“Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga sedang menyiapkan galeri di Gedung Mina Bahari IV sebagai bagian dari upaya pemerintah membawa BMKT ke ruang public,” kata Brahmantya Satyamurti Poerwadi, Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP, kepada CNNIndonesia.com, di Jakarta pada Kamis (12/1).

“Namun hingga kini, pemerintah masih terus memverifikasi BMKT yang bisa dimanfaatkan di ruang publik dan BMKT yang akan dibiarkan di dasar laut. Sebab memang ada BMKT yang tak cocok dijadikan tempat wisata bagi para penyelam,” lanjutnya.

Hal itu dibenarkan oleh Cipto. Menurutnya ada dua kriteria bangkai kapal dan BMKT yang tak layak menjadi tempat wisata, yakni tidak ada nilai estetika dan berada di kedalaman yang jauh.

Cipto menyarankan pemerintah mengangkat BMKT dan bangkai pesawat yang ada di perairan Morotai, Maluku Utara. “Saya sarankan untuk bangkai pesawat dan BMKT yang di Morotai itu diangkat saja karena lokasinya jauh di dasar laut dengan kedalaman 50 meter,” kata Cipto.

Menurut Cipto, pemerintah memang harus memverifikasi BMKT diseluruh Indonesia. Yang tidak layak menjadi tempat wisata bahari, tentu lebih baik dimuseumkan saja. Namun bila cocok menjadi lokasi wisata, biarkan BMKT itu memperindah alam bawah lautan.

KKP sendiri telah berkoordinasi dengan Kemenpar untuk mengembangkan BMKT sebagai objek wisata bahari, terutama BMKT yang masih di bawah laut.

Bahkan, pada tahun 2015 KKP sudah menyediakan infrastruktur dan perangkat standar operasi, guna mendukung pengembangan kapal wisata tenggelam di Mandeh, Sumatera Barat. “Kegiatan ini adalah bukti KKP mendukung program pengembangan wisata Pesisir Selatan yang menjadi unggulan Kemenpar,” kata Brahmantya.

Berdasarkan data yang dipublikasikan Balitbang KKP pada tahun 2000, ada 463 titik BMKT di seluruh Indonesia. Dari 463 titik tersebut, hingga saat ini baru 20 persen yang terverifikasi dan 3 persen yang dieksplorasi.

Dan sejak tahun 2016, Balitbang KKP terus melakukan pembaruan data titik BMKT secara bertahap. “BMKT umumnya ditemukan di jalur-jalur perdagangan kuno, seperti Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Selat Karimata dan Laut Jawa,” ujar Brahmantya.

Untuk pengawasan penanganan BMKT ini, Brahmantya mengatakan KKP sudah menganggarkan dana sebesar Rp564 triliun pada tahun 2017. Selain itu, untuk melakukan pendalaman alur yang memiliki titik BMKT, KKP sudah menganggarkan Rp729 triliun.

Terkait kemungkinan keterlibatan swasta dalam penyelamatan BMKT ini, Brahmantya mengatakan hal itu akan menjadi pertimbangan pemerintah. Tentu saja harus berdasarkan pada peraturan yang jelas. “Kami sedang menyusun peraturan yang akan mengatur keterlibatan swasta dalam penyelamatan BMKT ini,” kata Brahmantya. (*/CIO)

LEAVE A REPLY